[Masyarakat & Budaya, Vol. 25, No. 5, Januari 2022]

Oleh Amirul Wahid (Mahasiswa Prodi Pembangunan Masyarakat Islam, UIN Jember )

Dalam hiruk pikuk dunia kapitalis era modern di Indonesia, perkembangan ekonomi masyarakat proletar selalu saja tereksploitasi oleh kepentingan para pemilik modal. Realitas sosial “yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin” yang terjadi berabad-abad lamanya ini lestari begitu dan semakin mempertajam ketimpangan kedudukan antara kaum orang berpunya (borjuis) dan proletar secara masif (Elly M, Kama A, 2013). Budaya konsumtif bahkan adiktif terhadap pengaruh dan kuatnya kekuasaan pemilik modal kian hari kian mengakar (Resubun, 2018). Kelompok-kelompok yang tereksploitasi yang terbawa arus pasar juga dihantui oleh krisis ekonomi sepanjang waktu (Elly M, Kama A, 2013)

Pasalnya, kapitalisme tidak melulu hanya tentang dampak sosial-ekonomi saja, namun begitu kompleks terhadap hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat termasuk pada pendidikan dan kesejahteraan. Secara fundamental, materi dengan absolut menjerat manusia dari kebutuhan-kebutuhannya. Lantas tidak heran jika keadaan yang demikian mengkungkung masyarakat bawah dalam ketidakberdayaan.

Keadaan yang telah demikian miris lantas semakin diperparah dengan hadirnya Pandemi Covid-19. Masyarakat diuji bertubi-tubi untuk tetap bisa bertahan hidup baik dari segi kesehatan maupun dari segi ekonomi. Kondisi yang begitu sulit ini semakin menyiksa masyarakat terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi. Jika tidak mati sebab terpapar virus maka mereka dipaksa ‘mati’ oleh keadaan hidup. Keduanya bukanlah opsi yang dapat dipilih, hanyalah nasib yang menentukan masing-masing mereka untuk pupus melalui jalur yang mana atau bahkan melalui keduanya sekaligus.

Menghadapi berbagai problematika tersebut di atas, lantas bagaimana masyarakat dapat  berdaya secara ekonomi melalui wirausaha dengan modal dan jangka waktu seminimal mungkin? Opini penulis, pertanyaan ini sudah pasti sering berlalu lalang di benak masyarakat pada umumnya. Namun, hanya sedikit di antara mereka yang solutif mengatasi krisis dari banyaknya faktor permasalahan mulai dari kemampuan SDM dan literasi yang rendah, minimnya modal dan gagasan, dan lain sebagainya (Doyle Paul Johnson, 1975). Pada konteks ini, masyarakat membutuhkan bantuan pemberdaya untuk mengentaskan mereka dari belenggu keadaan.

Pembangunan ekonomi masyarakat  yang dapat dicoba adalah pembangunan desa wisata atau rural tourism yang mulai digemari akhir-akhir ini. Memberikan pengalaman yang unik dan baru bagi wisatawan, low budget tourism, dan kesan yang berbeda adalah segelintir keunggulan dari jenis wisata ini (Kemenparekraf, 2021). Masyarakat Indonesia secara umum dapat mengimplementasikan wisata kreatif ini di daerah masing-masing sebab modal utama yang mereka butuhkan bukanlah uang melainkan gagasan dan kreativitas (Arinda, 2012). Oleh karena itu, masyarakat membutuhkan kontribusi dari komunitas pemberdaya yang akan membantu mereka dalam mensukseskan community based tourism yang berkelanjutan (Kemenparekraf, 2021).

Berkenaan dengan hal tersebut, salah satu desa yang dapat dijadikan sebagai percontohan adalah Desa Wisata Kemiri yang terletak di Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Desa ini layak dijadikan contoh sebab Desa Kemiri merupakan pionir desa wisata di Kabupaten Jember dan telah meraih banyak penghargaan baik di tingkat provinsi maupun nasional. Terakhir, Desa Kemiri mendapatkan apresiasi sebagai penyaji terbaik dalam sebuah event provinsi. Berawal dari kawasan desa tradisional yang terisolir, pemuda desa dibantu warga setempat bergotong royong membangun desa wisata dengan modal yang seadanya (Wawancara dengan M. Ilham).

Pemuda desa bekerjasama dengan pemerhati wisata lokal, menjadikan desa ini destinasi pariwisata yang potensial dan eksotis. Kolaborasi apik masyarakat dan pemberdaya berhasil memberikan energi positif untuk kepentingan sumber pendapatan masyarakat setempat. Pemuda lokal memang mengalami kesulitan di awal sebab masih kebingungan dalam menentukan langkah. Namun, berdasarkan arahan dan pendampingan dari komunitas pemberdaya, para pemuda lantas memperkenalkan konsep desa wisata dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan pembangunan. Masyarakat tertarik untuk berpartisipasi sebab dijanjikan kesejahteraan ekonomi yang lebih baik di masa depan. (Wawancara dengan Hasti Utami)

Sebelum mengenal Desa Kemiri lebih jauh, ada baiknya pembaca sekalian memahami konsep desa wisata secara garis besar terlebih dahulu. Desa wisata menurut Inskeep dari tulisannya yang diterbitkan tahun 1992 adalah sebuah bentuk pariwisata yang menyediakan tempat bagi wisatawan untuk tinggal bersama atau dekat dengan kehidupan tradisional masyarakat atau di desa-desa kecil dengan mempelajari kehidupan desa dan lingkungan setempat (Sparks et al., 1992). Desa wisata pada daya tariknya menawarkan budaya sebagai hasil produksi masyarakat tanpa merusak budaya tersebut sehingga dapat terus langgeng dan berkelanjutan (Geogra & Gadjah, 2013).

Berangkat dari teori desa wisata di atas, Desa Kemiri juga melakukan hal yang sama. Desa Kemiri memiliki beberapa paket wisata yang dapat dipilih oleh para pengunjung. Terdapat empat dusun yang masing-masing didesain untuk memberikan pengalaman yang berbeda bagi para wisatawan. Dusun Delima sebagai destinasi sentral, Dusun Sodong sebagai pusat kegiatan bertualang, Dusun Danci sebagai kampung kopi, dan Dusun Tenggiling sebagai integrated farming tourism (wisata berkebun) (Pemkab Jember, 2021). Desa ini dibangun dengan biaya nol rupiah, masyarakat bersama komunitas pemberdaya hanya mengandalkan semangat, gagasan, serta peluang-peluang yang sudah tersedia dari desa. (Wawancara dengan Hasti Utami)

Gambar 1 & 2: Potret kunjungan penulis ke Desa Wisata Kemiri tepatnya di Dusun Delima (kiri) dan Dusun Danci (kanan)  (Dokumen Penulis)

Perlu diketahui bahwa latar belakang desa ini adalah wilayah yang rutin terkena bencana banjir. Dulu, masyarakat Jember hanya mengenal satu hal yang sangat identik dengan desa ini yaitu desa yang kerap kali terkena banjir. Beberapa tahun silam, terjadi suatu bencana banjir yang pernah menerjang Kecamatan Panti yang mengakibatkan begitu banyak korban jiwa dan materi. Penduduk setempat Desa Kemiri mayoritas bekerja sebagai petani dan buruh pabrik. Sehari-hari, masyarakat Desa Kemiri hanyalah seperti masyarakat biasa pada umumnya yang melakukan aktivitas sebagaimana layaknya orang desa pada umumnya yang merasa tidak memiliki potensi apapun dari desa ini sebagai destinasi wisata modern (wawancara dengan M. Ilham).

Usulan pemberdayaan masyarakat desa melalui program desa wisata akhirnya dibahas oleh salah seorang pemuda desa yang bernama M. Ilham. Ia merasa miris dengan kondisi desanya yang terkenal hanya karena bencana dan kondisi masyarakat yang kian terpuruk apalagi para buruh yang nasibnya tidak menentu. Menyatukan ide dengan salah satu komunitas pemberdaya, akhirnya lahirlah desa wisata ini untuk menunjang perekonomian masyarakat melalui sektor ekonomi kreatif. Awalnya mereka tidak menemukan daya tarik wisata apapun dalam desa ini. Namun berbekal tekad dan semangat yang gigih, Desa Kemiri hingga saat ini sukses mendapatkan perhatian dan kunjungan dari wisatawan lokal bahkan yang berasal dari luar Jember sekalipun (wawancara dengan M. Ilham)

Masyarakat Desa Kemiri pada akhirnya telah menemukan tambatan ekonomi yang tepat untuk mencukupi keperluan rumah tangga. Tanpa perlu terpacu dengan jeratan kapitalis, mereka dapat menciptakan kesejahteraan bagi diri mereka sendiri. Hal unik dan kreatif semacam ini sudah sepatutnya dijadikan sebagai tauladan oleh segenap masyarakat pinggiran yang masih kebingungan akan lapangan pekerjaan di negeri ini. Modal yang sedikit dan hanya memerlukan kekayaan gagasan, menjadikan desa wisata sangat dekat dengan solusi pembangunan ekonomi mereka. (Editor: Dicky Rachmawan)

Daftar Pustaka

Ilustrasi: Shutterstock

Arinda, I. N. S. (2012). Buku Ajar: Pariwisata Berkelanjutan (pertama). Sustain Press, 2012. https://simdos.unud.ac.id/uploads/file_pendidikan_1_dir/17f4f7ddf961b69d18b504bf7b7c3309.pdf

Doyle Paul Johnson. (1375). Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid 1 (pertama). Gramedia.

Elly M, Kama A, R. E. (2013). Pengantar Sosiologi, Pemahaman Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya (M. S. Elly M. Setiadi (ed.); ketiga). Kencana.

Pemerintah Kabupaten Jember. 2021. Kembali Bangkit, Desa Wisata Kemiri Dan Jember Coffee Centre (JCC) Akhirnya Diresmikan. 1 April 2021, diakses dari https://www.jemberkab.go.id/kembali-bangkit-desa-wisata-kemiri-dan-jember-coffee-centre-jcc-akhirnya-diresmikan/

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. 2021. Membangun Ekosistem Desa Wisata Bersama Komunitas. 27 April 2021, diakses dari https://kemenparekraf.go.id/ragam-pariwisata/Membangun-Ekosistem-Desa-Wisata-Bersama-Komunitas

Geogra, F., & Gadjah, À. U. (2013). Pengembangan Desa Wisata Berbasis Partisipasi Masyarakat Lokal Di Desa Wisata Jatiluwih Tabanan, Bali. Jurnal Kawistara, 3(2), 129–139. https://doi.org/10.22146/kawistara.3976

Resubun, I. (2018). Dampak Negatif Kapitalisme Global Bagi Kehidupan Manusia Modern. Limen, 14(1–2), 114–136.

Sparks, B., Liang Deng, S., Ryan, C., & Moutinho, L. (1992). Tourism Planning and Integrated Sustainable Development Approach. International Journal of Hospitality Man-Agement, 11(3), 225–268.

Wawancara dengan Hasti Utami (32), Ketua Komunitas Tamasya Bus Kota, pada 25 Desember 2021

Wawancara dengan M. Ilham (24), Kepala Pengelola Desa Kemiri, pada 25 Desember 2021

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________ 

Tentang Penulis

Amirul Wahid adalah mahasiswa aktif semester VI Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah UIN. KHAS Jember, Ketua Umum IMC UIN. KHAS Jember, dan penulis lepas. Dapat dihubungi melalui e-mail berikut tfld28@gmail.com