Home Artikel Berita UKSW Mendukung Kemandirian Pangan Indonesia

UKSW Mendukung Kemandirian Pangan Indonesia

0

[Berita No.2, Juni 2022]

oleh Neil S. Rupidara

Gerakan Penangkaran Benih Kedelai Unggul untuk Kemandirian Pangan: Kolaborasi UKSW – Desa Kadirejo – BRIN dan Beyond

Foto-foto di bawah adalah foto kondisi demplot penanaman benih-benih kedelai unggul di Desa Kadirejo. Dua benih dari hasil inovasi BRIN dan satu lagi benih lokal dari Grobogan ditanam di demplot itu.

Gambar 1.

Sumber: Dokumentasi penulis

Penanaman dan penangkaran benih ini dilakukan untuk merespon permohonan Menko Perekonomian, Bapak Airlangga Hartarto, untuk membangun ketahanan dan kemandirian pangan nasional. Katanya, Indonesia bangsa pemakan tahu dan tempe tetapi kedelai sebagai bahan dasarnya mayoritasnya harus diimpor. Pertanyaannya, bisakah UKSW membantu mendorong penanaman kedelai di tingkat petani? Syaratnya, produktivitas yang harus dicapai adalah di atas 2 ton/hektar. Kami jawab, kami upayakan. Koordinasi kilat kami lakukan. Kami dapati, BRIN memiliki benih kedelai unggul hasil teknologi penyinaran dengan produktivitas sekitar 3,5 ton. Ada 2 jenisnya. BRIN siap sediakan benih-benihnya. Belakangan, kami dapati juga benih lokal dari Grobogan dengan produktivitas sekitar 2,5 ton. Di sisi lain, kami juga dapati melalui Ki Lurah Riyadi, Desa Kadirejo siap menyediakan lahan sebagai demplot penangkaran benih-benih tersebut. Peneliti kami dari Fakultas Pertanian dan Bisnis, termasuk mahasiswa-mahasiswa sebagai asisten, pun siap terjun ke lahan. Semua posisinya siap bekerja. Respon kami ke Kemenko Pertanian, UKSW dan tim siap tindaklanjuti. Kemudian pada hari pertama penyelenggaraan UKSW Leaders Forum 2022 di 10 Mei lalu, acara penyerahan dan penanaman benih secara simbolik telah dilakukan di Kadirejo. Acaranya meriah karena antusiasme petani dan warga desa. Melengkapi itu, deklarasi Desa Kadirejo menuju desa maju dan mandiri diselenggarakan oleh Ki Lurah dan pemerintah desa. Pemerintah Pusat, Provinsi, dan Kabupaten siap mendukung gerakan desa, yang kami UKSW berposisi menjadi mitra pemungkin proses transformasi itu.

Di belakang layar, percakapan-percakapan perluasan areal tanam juga telah dilakukan. Pemerintah dan para petani di Kecamatan Pabelan siap untuk itu. Luasan lahan perluasan bisa mencapai 235 hektar di kawasan ini. Luasan ini bisa dan akan lebih jika melibatkan wilayah kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Semarang dan wilayah Kabupaten lain di Jawa Tengah. Percakapan lain dilakukan dengan Sekjen Kementerian Lingkungan Hidup dan seorang tenaga ahli Menteri LHK di sela-sela acara UKSW Leaders Forum 2022. Perluasan tanam diarahkan pada pemanfaatan lahan-lahan hutan yang dikelola oleh KLHK. Salah satu lokasi yang mungkin dipakai dari KLHK adalah Taman Nasional Gunung Merbabu. Namun, KLHK memiliki lahan serupa yang luasannya sangat besar. Jadi secara potensial penguatan kapasitas produksi kedelai nasional adalah keniscayaan.

Gambar 2.

Sumber: Dokumentasi penulis

Mari bernalar, kalau situasinya demikian. Jika produksi benih siap dilakukan oleh UKSW dan BRIN, atau pihak-pihak manapun yang lain. Jika petani-petani pun siap menanam. Jika seluruh aktor dan mekanisme rantai nilai dari pembenihan – produksi – pemanfaatan hasil produksi dapat dikondisikan untuk siap. Tentu posisi hari ini belum segala sesuatu itu siap. Proses perubahan atau transformasi seperti ini harus dipahami punya faktor-faktor pengendala. Ini harus dianalisis dan dikelola dan proses ini pun mulai kami perhitungkan. Faktor-faktor pemungkin suksesnya transformasi juga harus diidentifikasi dan pada waktunya perlu dieksploitasi kekuatannya. Jika demikian, bisakah kemandirian produksi kedelai di Indonesia kita capai? Mestinya bisa. Namun, baik, posisi kesalingtergantungan di antara seluruh unsur yang terlibat dalam global value chain pangan seperti kedelai harus diperhitungkan dengan baik. Namun, masa negara dengan lahan pertanian yang besar seperti Indonesia harus begitu tergantung pada kedelai impor? Indonesia pasti bisa atasi tantangannya. Kami yakin itu dan kami bersama sejumlah mitra siap mengupayakan, karena itulah UKSW menjawab, “Ya, dengan segenap hati” untuk merespon kebutuhan bangsa di isu kemandirian pangan ini serta tantangan dari Pak Menko Airlangga, apakah UKSW bisa membantu Pemerintah.

Gambar 3.

Sumber: Dokumentasi penulis

Konon katanya, kaum creative minority itu, oleh karena kekuatan keyakinannya, mampu menggerakkan massa yang pasif untuk aktif bergiat dalam pembangunan. Kaum creative minority itu di antaranya menggunakan strategi tarik diri (withdrawal) ketika banyak hadangan, tetapi kemudian masuk kembali (return) jika telah menemukan celah masuk dalam merespon tantangan-tantangan secara kreatif. Di masa pandemi ini, bersama semua elemen bangsa ini kita sudah “menarik diri” untuk berlindung, namun kini masanya kita harus bergerak maju kembali, termasuk dengan merespon tantangan nyata yang ada di depan mata, kemandirian pangan misalnya. UKSW berposisi yakin pada kapasitas intellectual assets yang dimilikinya, termasuk di dalamnya relasi dan kolaborasi strategisnya dengan para mitra, serta keyakinan bahwa ia dapat menyelesaikan masalah-masalah, tentu dengan mengefektifkan bekerjanya aset-aset intelektualnya itu. Karena itulah, UKSW kini bergerak aktif guna menggerakkan proses penangkaran dan penanaman kedelai menuju kemandirian pangan di jenis tanaman ini, karena ketergantungan yang sangat tinggi pada kedelai impor adalah masalah pangan Indonesia hari ini. Ini adalah sebuah gerakan, social movement, dan UKSW ada di dalamnya dengan menggiatkan pergerakan itu. We are the creative minority.

Salam creative minority. Giatkan tanam kedelai bagi kemandirian pangan. Kolaborasi UKSW – Kadirejo – BRIN, dukung Indonesia Maju 2045. Anda mau ikut dukung? Mari bekerja bersama. (Editor: Dicky Rachmawan)

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

NO COMMENTS

Exit mobile version