[Masyarakat & Budaya, Vol. 26, No. 14, Agustus 2022]

oleh Rusydan Fathy (Peneliti bidang Sosiologi Perkotaan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN)

“Pertama, tempat semakin direstrukturisasi sebagai pusat konsumsi, karena menyediakan konteks di mana barang dan jasa dibandingkan, dievaluasi, dibeli dan digunakan. Kedua, tempat itu sendiri dalam arti dikonsumsi, terutama secara visual.” (John Urry).

Sebelum jauh sampai kepada narasi konfliktual yang diutarakan Urry (2002) di atas, tulisan ini berangkat dari fakta empirik mengenai eksistensi kampung tematik di Kota Malang. Dalam berbagai diskursus, baik debat konseptual maupun rumusan praktis kebijakan, ada dua narasi terkait konstelasi antara karakteristik kampung dengan agenda pembangunan perkotaan. Narasi pertama, sebagaimana merujuk pada tradisi konflik dalam kajian sosiologi perkotaan—terutama merujuk pada Lefebvre (1991)—berujung pada refleksi atas dominasi, marginalisasi, maupun kontestasi yang terjadi dalam konteks perebutan ruang. Sementara itu, tulisan ini berupaya memunculkan narasi alternatif yang bersifat lebih afirmatif terhadap konstelasi tersebut, yaitu revitalisasi ekonomi dan budaya dalam konteks negosiasi ruang.

Meskipun memang, narasi konfliktual dalam ruang kampung (sebagai lokalitas) tidak dapat dihindari. Itu sebagaimana juga telah dibeberkan Sassen (1993; 2005; 2012) dalam kerja-kerja akademiknya. Sassen (1993) memberikan pandangannya bahwa praktik di tingkat lokal merupakan refleksi atas perluasan kerja kapitalisme global yang berimplikasi pada dualisme kota: satu mewakili kemajuan teknologi dan budaya kosmopolitan dan yang lainnya merupakan keterbelakangan ekonomi dan budaya” (Sassen, 1993, p. 33). Dengan kata lain, transformasi kota di tingkat lokal, merupakan refleksi atas ekspansi dan dominasi sistem kapitalisme yang dibawa oleh—sebagaimana Sassen (2005) katakan—Global City.

Berdasar pada tesis argumen tradisi konflik teori sosiologi perkotaan itulah, artikal ini berfokus pada isu pengembangan pariwisata kampung. Artikel ini mengurai bagaimana agenda pengembangan pariwisata kampung, di satu sisi dapat terjebak pada narasi konfliktual karena restrukturisasi dan produksi ruang yang terjadi didominasi oleh agenda dan hasrat kapitalisme global. Namun, di sisi lain kita tetap dapat melihat orisinalitas dari gejala transformasi kampung (menjadi destinasi wisata) yang terjadi. Artinya, bahwa restrukturisasi dan produksi ruang kampung tematik di Kota Malang juga merefleksikan karakteristik dan hasrat di tingkat lokal. Arah pengembangan wisata kampung bergerak sesuai dengan latar belakang, masalah dan potensi yang dimiliki oleh kampung tersebut, alih-alih hanya sebagai perpanjangan agenda dari dominasi kapitalisme global.

Pandangan Turis dan Konsumsi Tempat

Merujuk pada Urry (2001; 2002), industri pariwisata global merupakan logika kapitalisme dalam konteks eksploitasi ruang. Kemudian, wisatawan menjadi semacam borjuasi yang mana kehendak dan hasratnya akan konsumsi (ruang) terpenuhi. Lokalitas, sebagai destinasi wisata menyediakan berbagai produk barang dan jasa, termasuk diri mereka sendiri untuk dinikmati oleh wisatawan. Di samping itu, apa yang disebut Urry sebagai The Tourist Gaze (pandangan turis) tak pernah berhenti mencari, menemukan, dan membagikan keunikan-keunikan lokalitas yang dikunjunginya kepada dunia. Lokalitas, dengan demikian semakin direstrukturisasi dan diproduksi menyesuaikan hasrat wisatawan tersebut.

Satu hal yang menjadi kentara dalam analisis Urry, adalah bagaimana transformasi tempat menjadi destinasi wisata, merupakan bentuk estetisasi ruang. Semua tempat mentransformasikan dirinya sebagai ruang yang memanjakan wisatawan secara visual. Tempat, mengubah dirinya untuk mempertontonkan keunikan praktik spasial mencakup sosial, ekonomi, dan budaya sebagai objek konsumsi wisatawan. Kesemuanya itu, ditangkap secara langsung oleh mata wisatawan dan juga oleh lensa kamera yang berimplikasi pada eksisnya sebuah tempat di jagat maya.

Eksotisme yang Menarik Sepasang Mata

Publik sangat familiar dengan wisata kampung warna-warni di Kelurahan Jodipan Kota Malang. Kampung Warna-Warna Jodipan mendapat kepopulerannya dengan menjual sesuatu yang eksotis di mata wisatawan. Pola transformasi kampung tersebut, terjadi di beberapa tempat di dunia dengan karakteristik yang sama. Di tingkat lokal, biasanya tempat tersebut tampil sebagai permukiman padat. Lebih ekstrim, kita menyebutnya sebagai permukiman kumuh yang identik dengan tingkat penataan ruang dan sanitasi yang buruk serta warga kota dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Artinya, Kampung Warna-Warni Jodipan merupakan satu dari sekian contoh permukiman yang berhasil bertransformasi menjadi destinasi wisata karena menyimpan karakteristik yang identik secara global.

Beruntungnya, kampung di Kelurahan Jodipan ini menjadi yang pertama di Kota Malang dalam hal bertransformasi menjadi destinasi wisata. Pola-pola global yang diadaptasi di tingkat lokal ini mejadi sesuatu yang baru, unik, dan pertama di Indonesia. Oleh sebab itu, tidak heran ketika publik mengenali kampung tersebut sebagai destinasi wisata Kampung Warna-Warni di Kota Malang. Sebenarnya, berbicara diskursus kampung tematik di Kota Malang, kita akan disuguhkan dengan setidaknya 20 kampung tematik. Dua puluh kampung tematik tersebut, tentu saja memiliki keragaman tema yang diangkat. Namun, tidak semua kampung tematik tersebut populer, bahkan beberapa kampung tidak begitu diketahui keberadaannya. Dalam hal ini, ketimpangan antar kampung menjadi terlihat.

Foto 1. Kampung Warna-Warni (dokumentasi penulis).

Foto 2. Kampung Biru Arema (dokumentasi penulis).

Kedua kampung di atas merupakan destinasi wisata kampung tematik yang sangat populer. Itu tentu saja dibuktikan dengan laporan jumlah kunjungan yang dibuat oleh Pokdarwis setempat dan Dinas Pariwisata Kota Malang. Di jagat maya pun, eksistensi mereka sangat baik dengan berseliwerannya citra visual kampung tersebut baik di berita online maupun di media sosial. Namun, bagaimana dengan 18 kampung tematik lainnya?

Berdasarkan penelitian lapangan yang penulis lakukan, setidaknya kampung tematik di Kota Malang memiliki beberapa kategori: wisata instragammable, wisata kuliner dan sentra UMKM, ekowisata, dan wisata sejarah dan edukasi. Sebagai pembanding, Kampung Warna-Warni dan Kampung Biru Arema merupakan kategori wisata instagrammable di mana swafoto menjadi prioritas wisatawan. Sama halnya dengan kedua kampung tersebut, Kampung Putih dan Kampung Kelir juga berada pada kategori yang sama. Namun, kedua kampung tersebut (terutama Kampung Kelir) agaknya memiliki kondisi yang cukup kontras.

Foto 3. Kampung Kelir (kanan) dan Kampung Putih (kiri) (dokumentasi penulis).

Kedua kampung di atas, terutama Kampung Kelir memiliki jumlah kunjungan yang sangat jomplang dengan Kampung Warna-Warni maupun Kampung Biru Arema. Ketimpangan itu semakin tegas ketika melihat pewacanaan oleh Pemerintah Kota. Pemerintah Kota Malang khususnya Disporapar (Dinas Kepemudaan Olah Raga dan Pariwisata) cenderung menyorot (terutama) Kampung Warna-Warni sebagai destinasi wisata. Begitupun aktor-aktor lain, termasuk pihak swasta misalnya yang mewacanakan Kampung Warna-Warni seakan-akan sebagai salah satunya destinasi wisata kampung tematik di Kota Malang. Keadaan berat sebelah dari pewacanaan tersebut misalnya dapat dengan mudah kita temua secara simbolis di Kota Malang mulai dari sudut-sudut petunjuk jalan, sampai kepada lift-lift hotel.

Padahal, semua kampung-kampung tersebut memiliki karakteristik yang identik sebagai sebuah permukiman padat yang berada di bantaran kali. Namun, mengangkat karakteristik “kumuh” sebagai landasan transformasi kampung tidaklah sesederhana itu. Menjual eksotisme ruang berkelindan dengan kompleksitas restrukturisasi dan produksi ruang yang terjadi.

Bukan Sekadar Eksotisme, tetapi Sang Pelopor dan Aktor Lokal

Dalam kompleksitasnya, beberapa kampung berhasil bertransformasi menjadi destinasi wisata yang populer. Hal itu dapat disebabkan oleh banyak hal, termasuk eksistensi dari aktor pembangunan kampung tersebut. Sebagai contoh, bagi Kampung Warni-Warni, keberhasilan transformasi terutama disebabkan oleh peran mahasiswa, warga kampung dan pihak swasta. Kerja-kerja para aktor tersebut dalam produksi ruang Kampung Warna-Warni menjadi mulus karena kampung tersebut telah menjadi ruang negosiasi dan bukan dominasi. Artinya, berbagai kepentingan bertransformasi menjadi tujuan bersama yang menghasilkan manfaat sosial dan keuntungan ekonomi bagi masing-masing pihak.

Di samping itu, Kampung Warna-Warni telah secara otomatis menjadi “Sang Pelopor” sebagai destinasi wisata kampung tematik di Kota Malang. Sehingga, keunikan dan eksotisme yang mereka angkat menjadi benar-benar baru dan original di mata publik. Kemudian, peran Pemerintah Kota dalam produksi ruang Kampung Warna-Warni juga signifikan bagi keberhasilan transformasi tersebut. Utamanya terlihat pada pewacanaan dalam pengukuhan kampung tematik yang relevan dengan agenda pembangunan wisata Kota Malang.

Sebagaimana kita tahu, dalam konteks Malang Raya, Pemerintah Kota Malang berupaya mengangkat potensi wisata yang berbeda dari Kota Batu dan Kabupaten Malang. Bukan wisata alam, melainkan wisata kuliner dan buatan. Dengan demikian, transformasi Kampung Warna-Warni menjadi momentum bagi Pemerintah Kota dalam menyuguhkan wacana tentang “Kota Malang sebagai Destinasi Wisata” dan “Wisata Kampung Tematik Kota Malang” di tengah stigma Kota Malang hanya sebagai kota transit saja.

Bukan hanya Eksotisme Ruang, tetapi juga Ekspresi Budaya dan Nostalgia Tempo Dulu

Kepopuleran Kampung Warna-Warni merupakan contoh praktik afirmatif dari restrukturisasi dan produksi ruang yang terjadi di Kota Malang dalam konteks pengembangan pariwisata. Namun demikian, kita juga dapat melihatnya sebagai problematika pembangunan. Pertama, itu dilihat sebagai narasi konfliktual yang menghasilkan kontradiksi antar kampung dengan agenda pembangunan kampung tematik. Kedua, transformasi kampung menjadi destinasi wisata tersimplikasi menjadi estetisasi ruang semata.

Sebagaimana telah disinggung, Kota Malang memiliki setidaknya 20 kampung tematik namun hanya segelintir kampung saja yang populer di mana kepopuleran tersebut dicapai oleh kampung dengan tema instragammable. Padahal, fakta empirik yang ditelusuri penulis menghasilkan setidaknya 2 tipologi lain dalam proses transformasi tersebut, yakni bukan hanya “eksotisme ruang”, melainkan juga “ekspresi budaya” (misalnya Kampung Wayang, Kampung Keramat, Kampung Payung, Kampung Topeng dan Kampung Budaya Polowidjen) dan “nostalgia tempo dulu” (Misalnya Kampung Heritage Kayutangan).

Sebagai contoh, Kampung Payung, Kampung Topeng, dan Kampung Kramat menjadikan keunikan budaya baik produk budaya materil maupun karifan lokal praktik keseharian mereka sebagai landasan transformasinya. Contoh lain, yakni Kampung Heritage Kayutangan menjadikan sejarah dan arsitektur fisik kolonial sebagai landasan transformasinya. Keragaman tersebutlah yang coba ditawarkan dengan harapan menarik pandangan wisatawan untuk berkungjung.

Poto 4. Kampung Payung (kiri atas), Kampung Heritage (kanan atas). Kampung Topeng (kiri bawah), dan Kampung Keramat (kiri bawah) (dokumentasi penulis).

Meskipun memiliki keragaman karakteristik yang menjadi pondasi bagi transformasi, produksi ruang yang dilakukan Pemerintah Kota belum maksimal. Hal itu terutama disebabkan oleh proses produksi ruang yang terjebak pada pewacanaan simbolis semata. Pengukuhan dan apresiasi menjadi bersifat simbolis yang ditandai dengan bantuan pembangunan fisik kampung semata. Dari sisi warga kampung, Pokdarwis setempat juga cenderung terjebak pada pembangunan fisik kampung untuk mengubah tampilan kampung secara visual tetapi luput memaksimalkan potensi sosial, ekonomi, dan budaya yang ada di dalamnya. Ketimpangan popularitas yang ditandai dengan jomplangnya jumlah kunjungan juga berpotensi menjadi nuansa konfliktual antar kampung.

Namun demikian, terlepas dari problematika tersebut, eksistensi wisata kampung tematik di Kota Malang tetap memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan warganya. Transformasi kampung yang terjadi dengan berbagai tipologi pada dasarnya mengandung semangat revitalisasi kampung. Restrukturisasi dan produksi ruang kampung tematik di Kota Malang pada akhirnya merupakan embrio bagi lahirnya narasi afirmatif atas pembangunan pariwisata kota yang berasal dari akar rumput serta mencerminkan prinsip kolaboratif dan bottom up.  Dengan kata lain, kampung tidak lagi dipandang vis a vis dengan agenda pembangunan melainkan terafirmasi di dalamnya. (Editor: Hidayatullah R.)

 

Referensi:

Lefebvre, P. (1991). The production of space. Translated by Donald Nicholson Smith, Oxford: Blackwell.

Sassen, S. (1993). Rebuilding global city: Economy, ethnicity, and space. Social Justice, 20 (3-4), 32-50.

Sassen, S. (2005). The global city: Introducing a concept. The Brown Jornal of World Affairs, 11 (2), 27-43.

Sassen, S. (2012). Cities in world economy. Fourth Edition. SAGE Publication.

Urry. J. (2001). Globalizing the tourist gaze. Cityscapes Conference Graz, November 2001. Department of Sociology, Lancaster University, Lancaster LA1 4YN, UK. http://www.comp.lancs.ac.uk/sociology/papers/Urry-Globalising-the-Tourist-Gaze.pdf.

Urry, J. (2002). Consuming place. New York; Routledge Taylor and Francis Group.

Berita Online:

https://travel.okezone.com/read/2017/01/22/406/1597826/uniknya-lihat-kampung-warna-warni-di-seluruh-dunia-part-1

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis:

Rusydan Fathy adalah Peneliti Ahli Pertama bidang Sosiologi Perkotaan di Pusat Riset Masyarakat dan Budaya, Badan Riset dan Inovasi Nasional. Saat ini Rusydan sedang menyelesaikan tesisnya dengan tema pengembangan pariwisata kampung tematik dan smart city di Sosiologi Universitas Indonesia. Rusydan aktif menulis artikel opini di beberapa media seperti “Orang Miskin dan Paradigma Pembangunan Inklusif” (Geotimes), “Permukiman Layak bagi Kaum Miskin Jakarta” (Detik.com), dan “Sampah Perkotaan dan Cara Pemulung Memperkuat Komunitasnya” (The Conversation). Untuk korespondensi, Rusydan dapat dihubungi melaui surel: rusydanfathy@gmail.com.