[Berita no.3, Maret 2022]

Jakarta – Humas BRIN. Pulau Alor-Pantar memiliki tradisi Lego-lego dengan bahasa masing-masing, dihimpit ekosistem multietnik yang membuat bahasa Melayu Alor menjadi basantara, konversi agama, dan pembukaan lahan. Menurut Peneliti Pusat Riset Masyarakat dan Budaya-BRIN, Obing Katubi dalam acara webinar Seminar Riset Desain Rumah Program Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora tentang Tradisi Lisan Lego-lego Orang Abui di Pulau Alor, Nusa Tenggara Timur, pada Selasa (08/03) lalu.

Upacara ini merupakan bentuk penghormatan kepada arwah leluhur melalui nyanyian dalam bahasa Abui yang dilantunkan secara massal dengan gerak melingkar dan bersifat komunal. “Ada norma yang menyertai pelaksanaannya, yaitu berdasar pada pembagian tugas dalam adat, yang berpangkal dari klasifikasi sosial berdasar narasi asal-usul, penciptaan anonim, tiap etnik di Pulau Alor-Pantar,” terang Katubi.

Ketertarikan penelitian ini di antaranya pada tradisi Lego-lego ditinggalkan oleh generasi muda dan mulai adanya gerakan untuk merevitalisasi Lego-lego orang Abui. “Tidak adanya materi yang digunakan untuk melakukan revitalisasi dikarenakan selama ini belum pernah ada penelitian tentang tradisi lisan Lego-lego orang Abui,” ungkap Katubi.

Lebih lanjut Katubi menegaskan tujuan dari penelitian ini adalah mendokumentasikan secara modern tradisi lisan Lego-lego orang Abui. “Penelitian ini juga ingin mendeskripsikan secara mendalam makna simbolik yang terdapat dalam tradisi Lego-lego orang Abui sebagai tradisi lisan serta mendeskripskan secara mendalam tradisi lisan lego-lego sebagai sebuah pertunjukan.

Katubi juga menerangkan bahwa penelitiannya di desain untuk menjelaskan daya hidup Lego-lego orang Abui dan upaya yang dapat dilakukan untuk meneruskannya dari generasi ke generasi.

Dalam penelitian ini, Katubi memaparkan, ada aspek strategis, misalnya peneliti yang berlatar belakang linguistik interdisipliner akan melihat tradisi lisan lego-lego dari perspektif bahasa dan kebudayaan. “Peneliti berlatar belakang bahasa dan tradisi lisan juga akan melihat tradisi lisan lego-lego sebagai sebuah pertunjukan yang menyampaikan pesan komunikatif”, pungkasnya. (Suhendra Mulia/Ed:Diah Rahmawati S)

______________________________________

*) Berita dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN