[Masyarakat & Budaya, Vol. 25, No. 14, Februari 2022]

Oleh Surya Dharma (Mahasiswa Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat IPB)

 

Provinsi Bengkulu merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki keragaman budaya. Betapa tidak, berdasarkan hasil publikasi yang dimuat dalam statistik kebudayaan tahun 2021, Bengkulu memiliki 53 komunitas budaya yang tersebar di seluruh wilayahnya. Selain itu, Bengkulu juga memiliki 21 cagar budaya yang menjadi daya tarik tersendiri ketika mengunjungi provinsi yang mendapat julukan bumi rafflesia ini (K. P. dan Kebudayaan, 2021).

Salah satu budaya dan ikon yang dimiliki oleh Bengkulu adalah ritual Tabut.  Ritual Tabut merupakan kegiatan budaya yang rutin dilaksanakan di Bengkulu setiap tahunnya, tepatnya dilaksanakan mulai tanggal 31 Zulhijah hingga 13 Muharam. Bukan hanya dimaknai sebagai sebuah budaya, pelaksanaan ritual Tabut juga dimaksudkan untuk mengenang seluruh yang mati syahid dalam peperangan di Padang Karbala termasuk cucu Nabi Muhammad yaitu Husein. Selain itu, Tabut juga dimaknai sebagai media dalam mengenang kejayaan agama Islam dan menyambut tahun baru Islam atau tahun baru Hijriyah (Syiafril, 2012).

Makna yang ada pada Tabut sendiri juga tersebar pada seluruh rangkaian ritualnya yang berjumlah 13 rangkaian. Adapun 13 rangkaian ritual ini terdiri dari doa memohon keselamatan, mengambik tanah, duduk penja, menjara, meradai, arak jari-jari, dan arak sorban. Kemudian juga gam, tabut naik pangkek, arak gedang, soja, tabut tebuang, cuci penja dan doa penutup. Keseluruhan rangkaian Tabut ini juga bercerita mengenai proses ditemukannya jasad atau potongan bagian tubuh Husein yang mati syahid di Padang Karbala.

Ritual yang dilaksanakan setiap tahun di Bengkulu ini juga telah berkembang menjadi sebuah festival budaya yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Berkembangnya ritual Tabut menjadi sebuah festival budaya menjadikan pelaksanaan Tabut tidak hanya terbatas pada rangkaian ritualnya. Dengan adanya Festival Tabut yang dilaksanakan mulai tanggal 1 sampai dengan 10 Muharam biasanya akan ditampilkan berbagai kegiatan serta pertunjukkan seni dan budaya Bengkulu. Bahkan, berbagai rangkaian kegiatan yang ada di dalam Festival Tabut telah mendorong festival ini untuk masuk ke dalam agenda Calendar of Event (CoE) 2018 Kementerian Pariwisata. Hal ini menjadikan Tabut sebagai salah satu bagian dari 100 Wonderful Indonesia (Firmansyah, 2018).

Keberadaaan ritual dan festival Tabut di Bengkulu tentu tidak dapat dipisahkan dari peran keluarga Tabut. Keluarga Tabutlah yang secara turun-menurun terus melaksanakan serta mewariskan ritual yang juga telah berkembang menjadi festival ini. Adapun yang dimaksud dengan keluarga Tabut yaitu keturunan dari ulama muslim, termasuk  Syekh Burhanuddin, yang dulu datang dan kemudian menikah dengan masyarakat asli Bengkulu.  Keturunan mereka inilah yang selanjutnya disebut sebagai keluarga Tabut dan hingga saat ini terus melestarikan Tabut (Sepiolita et al., 2017).

Selain terkait asal-usul keluarga Tabut, jika ditinjau dari sejarahnya maka akan ditemukan fakta menarik bahwa Tabut bukanlah budaya asli milik masyarakat Bengkulu. Berdasarkan penelitian Harapandi (2008) Tabut dipercaya dapat berkembang di Bengkulu karena dibawa oleh orang-orang Sepoy. Orang Sepoy yang dimaksud yaitu orang-orang yang dulu didatangkan oleh Inggris saat membangun Benteng Marlborough Bengkulu. Sementara itu, berdasarkan publikasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2018) diyakini bahwa ritual Tabut pertama kali dirayakan di Bengkulu oleh ulama yang saat itu datang untuk menyebarkan agama Islam, salah satunya adalah Syekh Burhanuddin.

Terlepas dari fakta bahwa notabenya Tabut merupakan budaya yang dibawa oleh orang luar ke Bengkulu, hingga kini Tabut dapat terus bertahan dan menjadi salah satu budaya kebanggan masyarakat Bengkulu. Bahkan jika ditinjau dari sejarah pertama kali ritual Tabut dilaksanakan di Bengkulu, ritual kebudayaan ini diyakini sudah ada sejak lebih dari 300 tahun yang lalu (Marhayati, 2019). Sementara itu, pendapat lainnya yaitu Syiafril (2012) meyakini bahwa ritual ini sudah mulai dilaksanakan pada abad ke-14 atau sekitar tahun 1336 Masehi.

Sejak pertama kali dilaksanakan hingga sekarang, diyakini bahwa sejak saat itulah pelaksanaan ritual Tabut tidak pernah ditinggalkan oleh keluarga Tabut. Secara turun-temurun keluarga Tabut tetap melaksanakan ritual ini. Hal yang juga menarik adalah ketika pandemi, keluarga Tabut tetap melakukan rangkaian pelaksanaan ritual (EP, 2021). Meskipun pelaksanaan ritual harus dilakukan dengan banyak penyesuaian. Selain itu, akibat pandemi pelaksanaan festival Tabut harus ditiadakan karena dikhawatirkan akan memicu keramaian.

Secara garis besar terdapat 4 faktor utama yang menjadi jawaban mengapa Tabut dapat bertahan hingga sekarang dan secara turun-menurun terus dilaksanakan oleh kelurga Tabut. Alasan yang menjadi jawaban dari hal ini mencakup faktor yang berasal dari keluarga Tabut itu sendiri maupun yang berasal dari luar keluarga Tabut.

Faktor pertama yang menjadi alasan tetap bertahannya Tabut di Bengkulu hingga sekarang adalah pernikahan. Sampai dengan saat ini, keluarga Tabut telah memiliki keturunan yang tersebar di berbagai wilayah di Bengkulu. Pernikahan yang dulu dilakukan oleh generasi pendahulu keluarga Tabut dengan masyarakat asli Bengkulu telah mendorong semakin berkembangnya keturunan keluarga Tabut. Bahkan pernikahan juga mendorong terjadinya akulturasi budaya serta semakin terintegrasinya keluarga Tabut dengan masyarakat Bengkulu. Melalui cara ini, keluarga Tabut dapat mempertahankan keharmonisan serta mencegah konflik yang mungkin timbul. Dengan begitu, ritual Tabut dapat terus bertahan di Bengkulu  (Marhayati & Suryanto, 2017).

Faktor selanjutnya yang merupakan jawaban akan bertahannya ritual Tabut di Bengkulu adalah dibentuknya organisasi budaya yang menjadi wadah untuk mengurus rangkaian kegiatan Tabut. Hal ini semakin didorong dengan sifat dari organisasi budaya ini yang juga terbuka bagi masyarakat Bengkulu yang memiliki ketertarikan terhadap Tabut. Dengan cara ini, organisasi Tabut yang awalnya lebih fokus pada keluarga Tabut saja berubah menjadi organisasi yang lebih berbasis pada masyarakat (Hariadi et al., 2014).

Untuk faktor yang ketiga yaitu keinginan keluarga Tabut untuk terus melestarikan ritual ini. Meskipun tidak semua anggota keluarga Tabut memiliki pemahaman terhadap setiap makna dari ritual, mereka memiliki keinginan agar ritual Tabut dapat terus dilaksanakan setiap tahunnya. Hal ini juga semakin didukung dengan upaya keluarga Tabut yang saling bahu-membahu agar Tabut dapat tetap dilaksanakan, misalnya melalui bantuan dana. Dalam hal ini termasuk dana yang diberikan oleh keluarga Tabut yang berada di luar Bengkulu (Marhayati, 2019).

Terakhir adalah faktor berupa dukungan pemerintah serta masyarakat Bengkulu. Salah satu wujud dari dukungan ini adalah dibentuknya rangkaian festival Tabut sebagai kegiatan pariwisata budaya yang menarik untuk dikunjungi dan juga menjadi media agar Tabut semakin dikenal oleh masyarakat luas (Yuliati, 2016). Festival yang menarik untuk dikunjungi ini juga didukung oleh antusias dan partisipasi masyarakat Bengkulu yang setiap tahunnya selalu ikut meramaikan kegiatan festival serta ikut meramaikan pada kegiatan ritual Tabut. Dukungan dari masyarakat juga ditunjukkan dari adanya sanggar-sanggar budaya yang mempelajari alat musik dol sebagai musik pengiring perayaan Tabut. (Editor: Jalu Lintang Y.)

Referensi:

Ilustrasi: Shutterstock

EP, R. (2021, August 13). Pandemi, Upacara Ritual Tabut Tetap Berjalan. Rri.Co.Id. https://rri.co.id/bengkulu/1632-budaya-dan-wisata/1149669/pandemi-upacara-ritual-tabut-tetap-berjalan?utm_source=news_populer_widget&utm_medium=internal_link&utm_campaign=General Campaign

Firmansyah. (2018, September 12). Tabut Bengkulu Masuk 100 Wonderful Event Indonesia. Kompas.Com. https://travel.kompas.com/read/2018/09/12/181000927/tabut-bengkulu-masuk-100-wonderful-event-indonesia

Harapandi, D. (2008). Titik Temu Sunny dan Syi’i; Kajian Tradisi Tabot Bengkulu. Penamadani.

Hariadi, Refisrul, & Arios, R. L. (2014). Inventarisasi Perlindungan Karya Budaya Bengkulu Tabut. Balai Pelestarian Nilai Budaya Padang.

Kebudayaan, K. P. (2018). Pokok-pokok Pikiran Kebudayaan Daerah Kota Bengkulu Tahun 2018. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Kebudayaan, K. P. dan. (2021). Statistik Kebudayaan 2021. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Marhayati, N. (2019). Strategi Pelestarian Budaya Pada Komunitas Tabut di Bengkulu. NoerFikri Offset.

Marhayati, N., & Suryanto, S. (2017). The Acculturation Strategy of the Tabut Community in Bengkulu. Studia Islamika, 24(3), 403–433. http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/studia-islamika/article/view/4319

Sepiolita, R. T., Arsih, U., & Iryanti, V. E. (2017). Ritual Mengambik Tanah dalam Upacara Tabut di Kota Bengkulu. Jurnal Seni Tari, 6(2), 1–8. https://doi.org/https://doi.org/10.15294/jst.v6i2.18398

Syiafril, A. (2012). Tabut Karbala Bencoolen Dari Punjab Symbol Melawan Kebiadaban. PT. Walaw Bengkulen.

Yuliati. (2016). Upacara Religi dan Pemasaran Pariwisata di Indonesia Bengkulu. Jurnal Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, 5(3), 185–194. https://media.neliti.com/media/publications/137156-ID-upacara-religi-dan-pemasaran-pariwisata.pdf

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis

Surya Dharma adalah mahasiswa Institut Pertanian Bogor program studi Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat. Sejak kuliah, Ia mulai tertarik dengan dunia riset dan kepenulisan sehingga Ia mulai memberanikan diri untuk membuat beberapa tulisan dan terlibat dalam beberapa riset. Fokus kajian dan topik dari tulisan yang Ia minati serta tekuni saat ini terutama berkaitan dengan masyarakat, budaya, sejarah, serta lingkungan dan tata kelolanya. Untuk menghubungi Surya dapat melalui email: suryaadharma15@gmail.com.