Syiar Belum Mencerahkan Republika Jumat 22 Januari 2010Jakarta- Siaran keagamaan melalui media massa belum sepenuhnya dapat memberikan pencerahan. Belum pula mampu mengubah perilaku masyarakat. Ini terungkap dari hasil penelitian Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada 2009 yang bertajuk Pesan Keagamaan dalam Media Massa.

Menurut anggota tim peneliti, Masayu S. Hanim, siaran keagamaan di Indonesia telah berlangsung selama 40 tahun, baik melalui televisi, radio, maupun surat kabar. “Namun, nyatanya, saat ini belum mampu mempengaruhi sedikit saja perubahan perilaku masyarakat yang kian hari kian merosot moralnya”, katanya di Jakarta, Kamis (21/1).

Padahal, kata Masayu, syiar agama melalui media bertujuan untuk memperbaiki moral. Ia memaparkan, hasil penelitian yang mengambil sekitar 60 responden di tiga kota besar, yaitu Pontianak, Yogyakarta, dan DKI Jakarta, menunjukan bahwa rata-rata dari mereka membutuhkan siaran mengandung pesan keagamaan.

Tujuannya, jelas Masayu, untuk mengingatkan mereka jika lupa terhadap ajaran-ajaran agamanya. Namun, untuk komunitas Muslim khususnya, syiar agama saat ini dinilai responden tidak sistematis. Pesan yang disampaikan sangat luas sehingga sulit untuk diingat setelah mereka mendengar dan menonton tayangan keagamaan.

Menurut Masayu, kondisi ini membuat masyarakat yang mendengar dan melihat syiar agama hanya memahami ajaran secara sepotong-sepotong dan tak memahami kitab suci secara keseluruhan. Bahkan,, ujar dia, responden di wilayah DKI Jakarta menilai bahwa dai yang sering mengisi acara siaran keagamaan di media televisi seperti selebritis.

“Hal yang akhirnya terjadi, setelah dai memberikan ceramah atau pengajian, jamaah cenderung tak tahu apa yang disiarkan”, ungkap Masayu mengutip hasil penelitian. Dari temuan melalui penelitian yang dilakukan pada kurun waktu Juni-Juli 2009 ini, kata dia, LIPI memberikan sejumlah saran.

Pertama, ujar Masayu, syiar agama seharusnya memiliki target sehingga ada kepastian kapan umat bisa memahami ajaran yang disiarkan. Kedua, target sasaran harus jelas. ketiga, Mempertimbangkan strategi pesan. Keempat, strategi media syiar sifatnya tidak dogmatis. Kelima, adanya pengulangan pemberian pesan keagamaan.

Masayu mengatakan, pengulangan ini akan membuat apa yang disampaikan dalam syiar bisa mengendap dalam pikiran masyarakat. Pada akhirnya, ini berujung pada perubahan perilaku masyarakat. Ia menyatakan pula, saaat ini, kebutuhan masyarakat bukan syiar yang sifatnya dogmatis, namun yang memadukan ajaran agama dan ilmu pengetahuan.

Masayu mencontohkan, saat dai melalukan syiar agama, mungkin bisa didampingi oleh ahli ekonomi, ahli sosiologi, atau unsur Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Sehingga, saat masyarakat menemukan masalah, hal itu bisa dijelaskan, baik secara agama maupun ilmu pengetahuan”, katanya.

Pakar komunikasi dari Universitas Padjajaran (Unpad), Jalaluddin Rakhmat, mengatakan, dari hasil penelitian yang dilakukan LIPI ini, terbukti bahwa ceramah yang dilakukan di televisi saat ini banyak senda gurau dan kurang sistematis. “Yang terjadi saat ini, ceramah tak fokus karena bisa bicara apa saja”, ungkapnya.

Judul                  : Syiar Belum Mencerahkan

Sumber             : Republika

Tautan Gambar: http://beritajogja.co.id/2013/04/27/televisi-jadikan-ulama-selebriti/

Jenis                  : Berita

Tanggal              : Jum’at, 22 Januari 2010

Penulis               :