[Masyarakat & Budaya, Vol. 27, No. 3, September 2022]

Oleh Alfin Dwi Rahmawan & Muhammad Muflih Murtada (lulusan Sosiologi Universitas Bangka Belitung)

Mengutip Watson (2020), setidaknya era revolusi industri 4.0 menghasilkan 3 warisan. Pertama, era ini membangun ekosistem kemajuan teknologi yang lebih cepat dan lebih luas jangkauannya. Kedua, perpaduan dinamis antara teknologi digital, fisik, dan biologis yang berujung pada lahirnya inovasi dan pergeseran norma kehidupan. Ketiga, kemunculan tantangan normatif baru yang membutuhkan perubahan besar dalam institusi pemerintahan untuk mengakomodir keberadaan teknologi yang semakin berkembang secara massif.

Saat ini, manusia dan teknologi memiliki hubungan yang sangat intim. Internet memberikan kebebasan bagi individu untuk menentukan preferensi informasi yang akan mereka konsumsi. Tidak hanya konsumsi, individu juga dapat memproduksi dan menyebarluaskan informasi berdasarkan pengetahuan yang mereka yakini (Prier, 2020). Pada konteks politik, internet merupakan arena baru bagi para politisi untuk meningkatkan pamornya di ranah publik. Media sosial sebagai produk internet menjadi salah satu media untuk mengukur ekspektasi publik dan menampung opini publik. (Schroeder, 2018). Reaksi yang muncul hanya menguatkan polarisasi atas dua hal: mereka yang mendukung dan mereka yang menolak. Produksi opini yang masif itu, lambat laun melahirkan post-truth sebagai konsekuensi dari kebutuhan publik terhadap informasi

Kalpokas (2019) memaknai post-truth sebagai peniadaan batas antara kebenaran dengan kebohongan. Ketidakhadiran batas yang tegas antara kebenaran dan kebohongan ini menjadi titik area yang abu-abu. Pada area ini, kepercayaan publik terhadap informasi sebagai “pembenaran” lebih dipercaya daripada informasi sebagai “kebenaran dan fakta”. Keberadaan post-truth dilakukan dengan cara memproduksi informasi alternatif yang menguntungkan pihak tertentu. Informasi ini dibuat dan ditujukan kepada publik yang berada di “depan panggung” sebagai penonton tanpa mengetahui proses di “belakang panggung”.  Pada akhirnya post-truth menyebabkan hilangnya kepercayaan kepada institusi otoritas maupun pada ranah akademik (Melville, 2017).

Media berperan secara signifikan dalam memberikan peluang bagi aktor politik untuk menampilkan diri dan kebijakan yang diusung. Namun, fungsi media bisa jadi tidak lebih dari sekadar mercusuar yang hanya menyorot aktivitas politik yang terjadi dibanding menampilkan kritik dari publik (Elmelund-Præstekær & Wien, 2008). Salah satu media yang relevan untuk menyebarkan nilai-nilai adalah melalui film. Sebagai bahasa produk modernitas, film memiliki nilai dan visinya masing-masing yang disampaikan oleh pembuatnya. Oleh karenanya melalui film Don’t Look Up dilakukan analisis untuk melihat bagaimana produksi post-truth bekerja dan ilmu pengetahuan dipolitisasi, dalam hal itu melalui negara Amerika Serikat. Don’t Look Up menggambarkan pula bagaimana film ini menjadi sebuah kritik sosial terhadap skeptisisme kepakaran yang dilakukan oleh otoritas pemberintahan sebuah negara, media, bahkan masyarakat itu sendiri.

Sinopsis Film Don’t Look Up

Kate Dibiasky secara tidak sengaja menemukan komet yang berukuran besar yang sedang melintasi antariksa. Setelah berkoordinasi dengan Profesor Randall, hasil perhitungan menunjukkan bahwa meteor raksasa itu sedang menuju ke Bumi. Efek yang dapat ditimbukan dari tabrakan komet ini adalah kepunahan umat manusia mengingat ukuran komet yang disebutkan lebih besar daripada komet yang menyebabkan kepunahan dinosaurus di masa silam. Profesor Randall dan Kate bergegas untuk menyampaikan penemuan mereka kepada otoritas bidang antariksa dan pemerintah Amerika Serikat. Namun, reaksi dari Presiden Amerika Serikat menunjukkan ketidakseriusan penanganan khusus terhadap ancaman komet. Presiden bahkan menemukan celah keuntungan politis untuk menyelamatkan elektabilitasnya dalam menghadapi pemilu lanjutan dari ancaman komet yang sedang menuju Bumi. Usaha Profesor Randall dan Kate berlanjut dengan memberikan peringatan bagi masyarakat melalui acara televisi. Reaksi yang muncul di publik di luar ekspektasi mereka sebagai ilmuwan. Banyak pihak yang seolah menganggap remeh ancaman kepunahan manusia ini karena informasi ilmiah bukan menjadi perhatian utama publik saat itu. Publik di film Don’t Look Up dikisahkan terdistraksi perhatiannya oleh isu dunia selebritis dan skandal politik.

Post-Truth dalam Film Don’t Look Up

Pada adegan dimana ilmuwan mempertanyakan apa maksud dari Presiden Amerika Serikat dalam mendesain cara memberikan pengumuman kepada publik bahwa akan ada ancaman tubrukan komet yang sedang mengarah ke Bumi. Pada adegan sebelumnya terjadi dialog bahwa elektabilitas presiden sedang menurun akibat beberapa skandal yang terjadi dalam proses pemerintahan yang sedang berlangsung. Presiden menganggap bahwa skema “bad news is good news” dapat terealisasi untuk mengubah persepsi publik terhadap dirinya yang sedang diterpa skandal. Presiden memandang bahwa krisis Ini merupakan kesempatan bagi dirinya untuk meningkatkan elektabilitas yang sedang menurun dan memperbaiki citra.

Pemaknaan terhadap adegan ini adalah beberapa fakta cenderung didesain untuk mendukung kepentingan tertentu. Media dan politik ibarat dua kutub yang saling membutuhkan. Politik membutuhkan media untuk membangun citra dan mengampanyekan kebijakan, sedangkan media membutuhkan politik untuk peningkatan angka konsumsi publik terhadap media yang bersangkutan. Dalam ranah politik, informasi merupakan senjata utama yang bisa sangat menguntungkan dalam mencapai kekuasaan. Sedangkan untuk memanfaatkan senjata ini secara optimal, media merupakan alternatif terbaik yang dapat digunakan untuk menggiring opini publik.

Adegan tersebut menunjukkan bahwa banyak politisi menganggap isu sensitif merupakan kesempatan untuk meningkatkan citra baik di mata publik. Sekalipun fakta yang disampaikan tidak sepenuhnya benar, tetapi proses politik menempatkan politisi untuk dapat mengambil keuntungan dari ketidakuntungan. Kelompok politik akan mengupayakan berbagai cara untuk semakin mengukuhkan dominasi kuasanya.. Rumus untuk melanggengkan kekuasaan adalah kebijakan politis, bukan kebijakan rasional. Produksi post-truth pada tahap ini dimanfaatkan sebagai cara untuk melanggengkan kekuasaan karena digunakan untuk meningkatkan citra dan elektabilitas positif di mata publik. Fakta ilmiah hanya digunakan untuk menyempurnakan citra yang sedang dibangun. Dengan demikian, opini publik sedang digiring untuk menerima keputusan politis demi keuntungan elit politik.

Thompson (1994) menyatakan bahwa terdapat kesulitan untuk menguji etika dan politik jika disandingkan dengan sains. Tidak ada kepastian alat ukur yang mampu melakukan pengujian hipotesis dalam model kuantifikasi. Dalam ruang media, Thompson (1994) berbicara keterbatasan visibilitas publik terhadap proses politik di belakang layar. Kemajuan teknologi yang menyediakan alternatif media baru bahkan kesulitan untuk menemukan celah dalam menyediakan visibilitas yang lebih transparan bagi publik untuk mengetahui proses politik yang sedang terjadi.

Dalam film Don’t Look Up, digambarkan elit politik turut menjadi pelaku produksi berita palsu. Presiden Amerika Serikat memanfaatkan ancaman tubrukan komet ke Bumi sebagai alat untuk menaikkan elektabilitasnya. Lingkungan Elit kemudian turut memproduksi berbagai berita palsu yang berkaitan dengan ancaman meteor tersebut dan disebarluaskan kepada publik. Beberapa adegan di film ini menunjukkan bahwa pada titik tertentu politik jauh lebih penting daripada fakta ilmiah. Keberadaan sains seolah tidak memiliki posisi tawar cukup baik apabila disandingkan dengan kepentingan politik di kalangan elit. Jika dihadapkan dengan kepentingan politik yang berpotensi menguntungkan elit, fakta ilmiah sekalipun dapat didiskreditkan.

Seringkali tindakan elit politik dimaknai publik sebagai sebuah sinyal afirmasi terhadap kebenaran. Padahal fakta ilmiah merupakan informasi yang telah melalui proses telaah berbasis ilmu pengetahuan dan riset. Artinya, kebenaran versi penguasa dan post-truth memiliki area abu-abu (grey area) di ranah publik. Posisi ilmu pengetahuan berada di area abu-abu ini. Perdebatan publik yang terbagi menjadi dua kubu terpecah untuk mendebatkan fakta ilmiah, bukan fakta politik yang menjadi sumber produksi post-truth.

Afirmasi Skeptisisme Terhadap Pengetahuan dalam Film Don’t Look Up

Manusia sering keliru melihat dan mendengar. Seandainya pengamatan manusia itu benar, kebenaran itu hanya berlaku bagi hal-hal yang lahiriah saja, bukan mengenai hakekat hal itu sendiri (Hadiwiyono, 1980). Skeptisisme adalah pelipur bagi manusia pemalas, karena seorang yang menganut aliran skeptisisme menganggap orang bodoh terkadang sama bijaksananya dengan cendikiawan yang benar-benar terpelajar. Skeptisisme memaksudkan dirinya sebagai penawar dari kecemasan, mereka cenderung tidak memusingkan diri mengenai masa depan. Masa depan sama sekali tidak pasti (Rusell, 2016)

Film Don’t Look Up menceritakan bagaimana skeptisisme pengetahuan dipertahankan melalui upaya politik di Amerika Serikat. Seperti yang dijelaskan bahwa kaum skeptis tidak sepenuhnya sebagai orang yang skeptis, kaum skeptis membantah secara dogmatis mustahilnya sebuah pengetahuan.

Di alur film, tentu bisa kita lihat dari pengambaran tokoh sentral berupa dua Astronom Profesor Randall Mindy yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio dan juga mahasiswi pascasarjana Ph.D Kate Dibiasky yang diperankan oleh Jennifer Lawrence berusaha meyakinkan sebuah kebenaran yang didasarkan pada kepakaran mereka. Terdapat beberapa bagian film yang secara tersirat menggambarkan bahwa skeptisisme pengetahuan dilakukan dengan dominasi kekuasaan pemerintahan Amerika Serikat melalui Presiden Orlean yang hanya mementingkan branding dan elektabilitas dirinya.

Di bagian awal terdapat satir skeptisisme, dimana seorang presiden yang seharusnya menangani bencana tersebut dengan membuat keputusan yang bijak ketika diperingatkan oleh Profesor Randall, justru mencoba memperhitungkan ulang risiko yang telah dijelaskan oleh Profesor Randall terhadap bencana tersebut. Di mana ada bagian film yang memperlihatkan bahwa Presiden Orlean menghitung risiko kehancuran Bumi hanya 70 persen saja dari 100 persen dan 99 persen kemungkinan komet menghancurkan Bumi yang telah dipaparkan oleh Dr. Randall dan juga Kate.

Disini dapat dilihat bahwa demokrasi di Amerika yang diperankan oleh Presiden Orlean hanya mementingkan elektabilitasnya saja dan mengesampingkan masalah yang ada. Inilah yang dimaksud dengan skeptis itu sebenarnya dilakukan oleh orang-orang yang sepenuhnya tidak skeptis tetapi ia skeptis karena ada kepentingan di belakangnya.  Fakta ilmiah sekalipun tidak mendapatkan atensi yang seharusnya akibat kepentingan aktor politik.

Masyarakat dan publik figur membuat sebuah kampanye online berupa look up atau yang dimaksud lihatlah ke atas bahwa komet itu benar terjadi. Sementara itu, Presiden Orlean menyerang kampanye itu dengan menyuarakan kampanye Don’t Look Up untuk menentang gerakan itu. Don’t Look Up yang berisi kebohongan bahwa gerakan Look Up hanya gerakan untuk merampok kebebasan sehingga seluruh dunia menjadi dua kubu yang berlawanan yaitu yang percaya adanya komet yang akan menghancurkan Bumi, dan ada juga kubu yang tidak percaya bahwa komet itu akan menghancurkan Bumi.

Setelah kampanye yang disuarakan oleh Presiden Orlean, banyak gelombang masyarakat yang mengikuti arahan dari Presiden Orlean untuk melakukan gerakan Don’t Look Up sebagai bentuk perlawanan dari gerakan yang dilakukan oleh Profesor Randall Mindy dan juga calon Ph.D Kate DiBiaskysehingga pada akhirnya gerakan ini tersebar melalui media sosial dan menciptakan kelompok yang skeptis terhadap kehancuran Bumi dikarenakan sebuah komet yang berujung kepada memperkuat hegemoni masing-masing kelompok terhadap pengetahuan yang dipercayainya.

Terdapat juga bagian film yang sebenarnya mengandung satir terhadap skeptisisme sebuah pengetahuan. Terdapat bagian di mana untuk mengkampanyekan gerakan Don’t Look Up yang mengisyaratkan bahwa komet itu benar-benar ada dengan cara konser yang dilakukan oleh penyanyi terkenal. Disini penulis merasa bahwa gerakan yang dilakukan oleh ilmuan yang harus dibantu oleh sebuah konser membuktikan bahwa ilmu pengetahuan kalah pamornya dibanding sebuah budaya populer seperti industri musik, dan ilmuwan kalah kuasanya dibanding dengan seorang penyanyi terkenal. Skeptisisme terhadap ilmuan masih cukup besar sehingga harus dilakukan upaya dengan cara membuat lirik-lirik lagu yang menjelaskan fenomena yang saat itu terjadi.

Kemudian dapat dilihat juga sebuah lirik satir yang menyebutkan bahwa dengarkan apa yang dikemukakan oleh seorang ilmuwan. Secara langsung menyebutkan bahwa banyak berita bohong di luar yang tanpa hasil sebuah kepakaran mengajak massa yang lebih banyak untuk percaya pada suatu hal yang jelas tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan kepakaran.

Sikap skeptis terhadap ilmuan juga dilihat dalam adegan media pemberitaan. Ketika Profesor Randell dan Kate menjelaskan adanya komet yang akan menghancurkan Bumi, media melalui dua pembawa acaranya membuka lelucon terhadap komet tersebut. Dimana mereka membahas sebuah komet yang akan menghancurkan Bumi dengan sebuah analogi apakah komet itu bisa menghancurkan sebuah rumah, jika iya sang pembawa acara laki-laki ingin rumah mantan istrinya saja dihancurkan oleh komet tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa informasi yang diberikan oleh Profesor Randell dan juga Kate yang saat itu menjadi narasumber tidak dianggap serius oleh media melalui pembawa acaranya.

Produksi wacana post-truth dapat dilihat pula pada propaganda politis yang dilakukan oleh kalangan kapitalis. Melalui pengusaha yang bernama Peter Isherwell propaganda dilakukan sebagai cara untuk mendapatkan keuntungan politis. Kalangan kapitalis melalui perusahaan BASH melakukan hal itu agar mendapatkan keuntungan pribadi yang melimpah dari kandungan mineral berharga yang terkandung di komet.

Jadi, sangat jelas dari berapa bagian film yang mana terdapat bentuk afirmasi skeptisisme terhadap ilmu pengetahuan dan kepakaran dengan didukung oleh ekspansi kapitalistik oleh aktor ekonomi, sekalipun itu sebuah ilmu pengetahuan yang sudah mapan. Seperti yang dijelaskan oleh Nichols (2017) dalam “The Dead of Expertise”, memang saat ini kita hidup pada masa ketika kesalahan informasi menyingkirkan pengetahuan. Amerika serikat juga berdasarkan pandangan Alexis de Tocqueville yang merupakan seorang pengamat Prancis menyatakan bahwa warga Amerika Serikat tidak benar-benar terpikat kepada para pakar atau kecerdasan mereka. Setiap orang Amerika hanya tertarik kepada pemahamannya masing-masing. Hal ini dijelaskan oleh Tocqueville bahwa ketidakpercayaan kepada otoritas intelektual telah berakar dalam sifat demokrasi Amerika. Pada akhirnya, media memegang peranan penting dalam kehidupan digital yang sarat informasi, menjadi alat penyampai kebenaran ilmiah atau menjadi alat kebenaran penguasa. (Editor: Rusydan Fathy)

Referensi:

Elmelund-Præstekær, C., & Wien, C. (2008). What’s the fuss about? the interplay of media hypes and politics. International Journal of Press/Politics. https://doi.org/10.1177/1940161208319292

Hadiwiyono, H. (1980). Sari Sejarah Filsafat Barat 1 (33 ed.). PT KANISIUS.

Kalpokas, I. (2019). A Political Teory of Post Truth. Palgrave Macmillan.

Melville, W. (2017). Commentary: Reasoning Versus Post-Truth. The Science Teacher. https://doi.org/10.2505/4/tst17_084_06_9

NGaucichols, T. (2017). The Death of Expertise, the Campaign against Established Knowledge and Why It Matters. Oxford University Press.

Prier, L. C. J. (2020). Commanding the trend: Social media as information warfare. In Information Warfare in the Age of Cyber Conflict. https://doi.org/10.4324/9780429470509-7

Rusell, B. (2016). SEJARAH FILSAFAT BARAT Kaitannya dengan Kondisi Sosio-Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang (Terjemahan). Pustaka Pelajar.

Schroeder, R. (2018). Digital media and the rise of right-wing populism. In Social Theory after the Internet: Media, Technology, and Globalization. UCL Press. https://doi.org/doi.org/10.2307/j.ctt20krxdr.6

Thompson, M. G. (1994). Truth and Science. In The Truth About Freud’s Technique: The Encounter With the Real. NYU Press. https://www.jstor.org/stable/j.ctt9qfvqq.15

Watson, V. B. (2020). THE FOURTH INDUSTRIAL REVOLUTION AND ITS DISCONTENTS: GOVERNANCE, BIG TECH, AND THE DIGITIZATION OF GEOPOLITICS. In A. L. Vuving (Ed.), Hindisght, Insight, Foresight (hal. 37–48). Daniel K. Inouye Asia- Pacific Center for Security Studies.

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis

Alfin Dwi Rahmawan – Penulis merupakan lulusan Sosiologi Universitas Bangka Belitung. saat ini tergabung ke dalam lembaga kajian, konsultasi, dan pemberdayaan sosial “The Fitri Center”. Aktif sebagai peneliti independen dalam kajian Sosial Humaniora & Content Creator. Penulis memiliki fokus kajian dalam Sosiologi Komunikasi & Media, Gender, dan Budaya Populer. Penulis dapat dihubungi melalui alfindwirahmawan98@gmail.com

Muhammad Muflih Murtada – Penulis merupakan lulusan Sosiologi Universitas Bangka Belitung dan sekarang sebagai Mahasiswa Magister Ilmu Administrasi bidang minat Administrasi Publik. Penulis aktif sebagai peneliti independen bidang Sosiologi dan Ilmu Administrasi Publik. Preferensi penulis dalam melakukan kajian di bidang Sosiologi Media, Budaya Populer, dan Kebijakan Publik. Penulis dapat dihubungi melalui  muhammadtada07@gmail.com.