Home Artikel Sepakbola Menjelma Agama: Fanatisme, Agresi, dan Sabtu Nelangsa Aremania

Sepakbola Menjelma Agama: Fanatisme, Agresi, dan Sabtu Nelangsa Aremania

0

[Masyarakat & Budaya, Vol. 27, No. 5, Oktober 2022]

Sumber Gambar: https://wallpapercave.com/arema-wallpapers

oleh Reza Amarta Prayoga (Pusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas, BRIN)

Tepat 1 Oktober 2022, yang muncul penanda historis Sepakbola Liga 1 Indonesia ketika Persebaya akhirnya dapat mengalahkan Arema di kandangnya (Tim Detik Jatim, 2022). Dalam sejarahnya, laga Arema dan Persebaya niscaya selalu penuh rivalitas. Rivalitas ini menyertakan wacana  pelbagai kontroversi dalam konteks persaingan dan eksistensi  sebagai “klub penguasa di Jawa Timur”. rivalitas tersebut tentu saja termanifestasikan pula pada aras basis fans fanatik yakni Aremania dan Bonek. Pandangan Sukmono, (2015) mempertegas rivalitas dua klub besar Jawa Timur tersebut dengan menyebutkannya sebagai “dark side” komunikasi antar budaya yang kerapkali lekat stereotip, prasangka, dan etnosentrisme mengarah rasisme di antara keduanya. Kerapkali, Chant, yel—yel, dan tarian bernada kebencian ramai terumbar baik di dalam maupun di luar pertandingan.

Pada 1 Oktober 2022, menjadi penanda malam kelabu sepak bola Indonesia. Pertandingan sepak bola yang semestinya berjalan dengan damai, sportifdan respect, ternoda dengan bergelimpangnya lebih dari 100 jasad manusia. Kedatangan masif para Aremania ke Stadion untuk mendapatkan penghiburan atraksi Sepakbola berubah menjadi tontonan “berdarah”. Kedatangan mereka justru mengantarkan nyawa, tidak terbanyangkan, bahwa stadion Kandang Singo Edan, menjadi saksi bisu atas tragedi nelangsa dan edan sabtu malam itu.

Benarkah Sepakbola Arema sudah bagaikan Agama bagi Aremania?

Jiwa—jiwa sejati Aremania ini terukir jelas dalam setiap nyanyian yang mengiringi pertandingan Arema dimana pun. Dinukil dari satu lagu chant Aremania berjudul “Satu Cinta Arema” dengan penggalan lirik, yakni “Kami selalu disini, Kau takan pernah sendiri, Jiwa dan raga kami Untukmu arema”(Aremafanstv, 2019). Lirik ini sejatinya memberikan penegasan bahwa Arema sudah mandarah daging bagi nadi Aremania, bahkan jiwa dan raganya pun rela mereka korbankan demi Arema. Hal ini menujukkan ketaatan dan   representasi, bahwa fanatisme terhadap sepakbola dapat mereposisi atau bahkan setara dengan agama. Hal  sama juga diajukan oleh Sitorus, (2010) tentang gairah sepakbola dan agama dengan sebuah premis, “dapatkan sepakbola menjelma menjadi agama?”

Secara sosiologis, sepakbola sebagai agama dapat dibenarkan. Sepakbola semacam agama baru, yang setara bahkan mereposisi nilai agama sungguhan (Kansong, 2018). Hal ini merujuk pada pemikiran Edge, (2012) dan Firdaus, (2018) bahwa fanatisme pendukung sepakbola yang bisa juga disebut penggemar bola atau fans fanatik memiliki ketaatan dan loyalitas yang luar biasa pada klub yang dicintainya. Hal apapun akan dilakukan jemaatnya demi klub tercinta. Fans fanatik ini ibarat jemaat atau umat, stadion adalah pusat peribadatannya, manajer atau pelatih adalah Nabinya, dukungan di stadion adalah manifestasi ritual kultus peribadatan, dan pemain adalah pendetanya serta dirigen fans di stadion bisa diposisikan sebagai “imam peribadatan” dalam pemujaan menyanyikan chant (Detik.com, 2018). Bahkan trofi juara kompetisi, kemenangan setiap pertandingan, dan ritual konvoi juara bagaikan mukjizat yang melengkapi ritus sepakbola sebagai agama. Maka tidak dapat dipungkiri bahwa ketika suatu tim sepakbola kalah dalam pertandingan, sama halnya dengan tercerabutnya kehormatan dan harga diri sebuah agama sungguhan yang layak dibela sekalipun nyawa taruhannya.

Tak pelak, dalam konteks Arema dengan Aremania ataupun Bonek dengan Persebaya saat ini merupakan kelindan erat ketaatan, kepatuhan, dan loyalitas tanpa batas antara klub sepakbola dan basis fans. Hal dapat disinyalir menjadi manifestasi bahwa klub sepakbola tak ubahnya seperti suatu agama, yang mana jika kehormatan dan harga dirinya dijatuhkan melalui suatu pertandingan maka layak untuk dibela mati—matian. Maka dari itu, gesekan permusuhan antara Aremania dan Bonek menjadi suatu gengsi yang penuh aroma rivalitas dari keduanya (Rendragraha, 2017). Terlebih secara administrasi, wilayah Malang dan Surabaya sangat berdekatan sehingga syarat akan gengsi dan harga diri. Hal ini juga menjadi pemantik embrio persaingan menjurus kebencian, dan aksi—aksi destruktif di luar lapangan seperti sweeping (Saleh, 2016), perusakan, dan perampasan dari kedua fans tim tersebut sering terjadi (Hajarani, 2020; Pradana, 2022).

Sabtu Kelam bagi Aremania: Fanatisme dan Perilaku Agresi

Berdasarkan temuan Yasin (2019), dan Agriawan (2016) menunjukkan fanatisme merupakan tindakan kecintaan dari pendukung suatu tim sepakbola, bahkan bentuk kecintaan dapat melewati logika normalitasnya. Selain itu, fanatisme berlebih ini bahkan dapat berujung pada tindakan agresif yang destruktif cenderung brutal tidak hanya menjangkiti pada ranah riil tetapi ranah virtual bagi basis pendukung tim sepakbola (Wirawanda, 2019). Seringkali, fans atau suporter sepakbola lekat dengan pelabelan fanatisme berlebih, kegilaan, konflik, dan aksi brutal agresif (Sukmono, 2015). Merujuk juga pada pandangan Jeil Jenson (dalam Storey, (2008) fans sebagai basis kelompok penggemar indentik dengan perilaku berlebihan dan dekat dengan kegilaan. Antusianisme Fans sepakbola kebanyakan sangat militan untuk mendukung dan membela tim sepakbola kesayangannya, karena tim yang berjuang di lapangan membawa gengsi dan harga diri yang dipertaruhkan.

Perjuangan mati—matian fans sepakbola atau sering disebut sebagai pemain keduabelas, seringkali menampakkan aksi agresi dengan melempar batu atau botol ke lapangan dan chant rasis untuk melakukan intimidasi kepada mental tim lawan. Dalam konteks Aremania, seringkali muncul suatu keyakinan bahwa ”Tim lain boleh menang di kandang Singo Edan asalkan Jangan Persebaya”. Hal ini bisa jadi sebagai salah satu pemicu rivalitas yang menyebabkan perilaku agresif Aremania kepada Tim Persebaya.

Selain itu, Sukmono, (2015) menggarisbawahi bahwa fanatisme dan agresifitas berlebihan yang ditunjukkan oleh kedua basis fans Aremania dan Bonek ditunjang dari beberapa hal pemantik, yakni pertama, stereotip Bonek (sekumpulan anak muda pengangguran dan tidak memiliki uang) seringkali menjadi pengganggu dan perusuh—Bondo Nekat—menebarkan anarkisme dan berbuat kriminalitas serta ancaman yang dapat menimbulkan efek kecemasan bagi masyarakat umum ketika melihat Bonek. Stereotip pada bonek ini terus direproduksi sehingga menimbulkan rasa kebencian dengan fans yang berseberangan. Kedua, sikap etnosentrisme (sikap yang melihat budaya atau suku lain lebih rendah). Bonek yang rerata berasal dari Surabaya menganggap Aremania dari Malang secara wilayah lebih inferior (Malang termasuk wilayah pinggiran atau kota kedua di Jawa Timur), karena superioritas Surabaya sebagai Ibu Kota Provinsi. Baik Bonek dan Arema, keduanya sama—sama merasa lebih baik dan superior sehingga aroma rivalitas sangat kuat dan tajam. Ketiga, seringkali chant—chant atau yel—yel dari masing kelompok supporter menyisipkan lirik yang rasis berujung nada kebencian, seperti lantunan lirik yang sering didengungkan oleh Aremania, “Bonek Jancok yang tak pernah sekolah, Bonek Jancok..” Jancok (sialan, keparat, berengsek) merupakan kata umpatan yang berasal dari Jawa Timur. Lagu rasis lainnya yakni  “…Bonek Mania..Gembel—gembel Surabaya…Bonek jancook dibunuh saja…”. Selain itu, faktor yang memengaruhi perilaku agresif yang tidak baik dan fanatisme dari suporter sepakbola yaitu faktor kedaerahan, dan faktor lingkungan sosial (Yasinta, 2019).

Di sisi lain, mengesampingkan rivalitas keduanya baik dari Arema (Aremania) dan Persebaya (Bonek). Merujuk kejadian tanggal 1 Oktober 2022 yang menelan ratusan nyawa jiwa di Kanjuruhan dipicu perilaku agresif. Kejadian ini dipicu adanya pitch invasion, tembakan gas air mata ke tribune penonton, dan limitasi tim medis (Setiawan, 2022). Agresifitas para Aremania melewati pagar pembatas dan masuk ke lapangan (pitch invasion) menyebabkan bentrok dengan pihak keamanan. Invasi lapangan oleh suporter Aremania adalah wujud kekecewaan atas kekalahan. Selain itu, bentrokan dengan pihak keamaan yang terjadi akibat pitch invasion ini justru menimbulkan kepanikan yang luar biasa. Tembakan Gas Air Mata oleh aparat untuk memukul mundur justru membuat para Aremania mengalami kepanikan. Kepanikan ini membuat penumpukan massa pada jalur pintu keluar stadion sehingga korban didapati mengalami trauma akibat terinjak—injak, dan sesak nafas (Hartik, 2022). Kejadian perilaku agresif yang justru kebanyakan menimbulkan efek destruktif fisik, materi, dan bahkan jatunhya korban jiwa.

Peristiwa Kanjuruhan yang menyebabkan ratusan nyawa melayang ini menjadi catatan kelam di Sepakbola Indonesia dan Dunia. Fanatisme sejatinya tidak menjadi persoalan jika tidak berkelidnan dengan perilaku agresif yang cenderung brutal. Fanatisme dari suporter justru menjadi kemenarikan dari sepakbola itu sendiri. Banyak pesepakbola terkenal hingga klub—klub bola luar negeri yang begitu takjub dengan fanatisme suporter di Indonesia. Hal ini sebenarnya menjadi modal yang baik untuk membangun sepakbola Indonesia yang lebih baik. Sudah saatnya kejadian ini dijadikan pembelajaran menyeluruh bagi suporter dan stakeholder sepakbola Nasional. Tinggalkan anarkisme, kebencian, kebrutalan, dan rasisme dalam sepakbola yang faktanya sangat menjunjung tinggi nilai—nilai sportifitas. Pembenahan pada sektor kelembagaan nasional yang bersinggungan dengan sepkabola juga menjadi sangat urgent.  Dukungan secara sehat dan positif bagi tim sepakbola kesayangan agar peristiwa Kanjuruhan menjadi pertama dan terakhir di sepakbola nasional dan dunia. Sekali lagi, duka Kanjuruhan, duka kita bersama “Tak Ada Sepakbola Seharga Nyawa Manusia”. (Editor: Rusydan Fathy)

 

Referensi

Agriawan, D. (2016). Hubungan fanatisme dengan perilaku agresi suporter sepak bola [University of Muhammadiyah Malang]. https://eprints.umm.ac.id/34348/

Aremafanstv. (2019). Satu Cinta Arema. Youtube. https://www.youtube.com/watch?v=w-o7srOqnew

Detik.com. (2018). Sepakbola adalah Agama. Detiksport. https://sport.detik.com/aboutthegame/umpan-silang/d-434050/sepakbola-adalah-agama

Edge, A. (2012). Faith of our Fathers: Football as a Religion. Random House. https://www.goodreads.com/book/show/1344678.Faith_of_Our_Fathers

Firdaus, R. M. (2018). Ketika Sepakbola Menjadi “Agama.” Islampos. https://www.islampos.com/ketika-sepakbola-menjadi-agama-107368/

Hajarani, S. (2020). Suporter Bola Ini Berulah Lakukan Sweeping, Perampasan dan Perusakan. Sindonews. https://daerah.sindonews.com/read/134052/704/suporter-bola-ini-berulah-lakukan-sweeping-perampasan-dan-perusakan-1597417681

Hartik, A. (2022). Kerusuhan di Kanjuruhan, Tembakan Gas Air Mata yang Membuat Suporter Sesak Napas dan Terinjak. Kompas.Com. https://surabaya.kompas.com/read/2022/10/02/090200778/kerusuhan-di-kanjuruhan-tembakan-gas-air-mata-yang-membuat-suporter-sesak

Kansong, U. (2018). Agama Sepak Bola, Sepak Bola Agama. Media Indonesia. sumber: https://mediaindonesia.com/opini/167105/agama-sepak-bola-sepak-bola-agama

Pradana, G. Y. (2022). Aremania Sesalkan Aksi Sweeping terhadap Suporter PSS Sleman. Bola.Net. https://www.bola.net/indonesia/aremania-sesalkan-aksi-sweeping-terhadap-suporter-pss-sleman-f4255d.html

Rendragraha, M. Y. (2017). FENOMENA RIVALITAS SUPPORTER AREMA DAN PERSEBAYA [Universitas Pasundan]. http://repository.unpas.ac.id/15624/

Saleh, N. (2016). Suporter Bonek Sweeping Aremania, Bentrok dengan Polisi. Tempo.Co. https://bola.tempo.co/read/768983/suporter-bonek-sweeping-aremania-bentrok-dengan-polisi

Setiawan, I. (2022). 3 Penyebab Kerusuhan di Kanjuruhan Memakan Ratusan Korban: Pitch Invasion, Gas Air Mata ke Tribune Penonton, Tenaga Medis Terbatas. Bola.Com. https://www.bola.com/indonesia/read/5086053/3-penyebab-kerusuhan-di-kanjuruhan-memakan-ratusan-korban-pitch-invasion-gas-air-mata-ke-tribune-penonton-tenaga-medis-terbatas

Sitorus, R. (2010). GAIRAH SEPAK BOLA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA. Wacana Teologi, 2(1). http://journal-theo.ukdw.ac.id/index.php/wacana/article/view/117

Storey, J. (2008). Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop, translated by Layli Rahmawati. In Jalasutra. Jalasutra.

Sukmono, F. G. (2015). Rivalitas Aremania dan Bonekmania (Mengurai Konflik Suporter melalui “sisi gelap” Komunikasi Antar Budaya)”. Jurnal LP3I Bandung. http://repository.umy.ac.id/handle/123456789/2195

Tim Detik Jatim. (2022). Patahkan Rekor 23 Tahun, Persebaya Bungkam Arema Fc 3-2. Detik.Com. https://www.detik.com/jatim/sepakbola/d-6323662/patahkan-rekor-23-tahun-persebaya-bungkam-arema-fc-3-2

Wirawanda, Y. (2019). Fanatisme Fans Sepakbola terkait Flaming dan Netiquette. Komuniti: Jurnal Komunikasi Dan Teknologi Informasi, 10(2), 123–132. https://doi.org/10.23917/komuniti.v10i2.6755

Yasinta, H. Y. (2019). Fanatisme Suporter Sepakbola [Universitas Muhammadiyah Surakarta]. http://eprints.ums.ac.id/69773/

 

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis

Reza Amarta Prayoga adalah seorang ASN Peneliti Sosiologi diPusat Riset Kesejahteraan Sosial, Desa, dan Konektivitas Badan Riset dan Inovasi Nasional. Penulis dapat dihubungi melalui  reza010@brin.go.id

NO COMMENTS

Exit mobile version