Jakarta. Humas LIPI. Kemajuan teknologi saat ini benar-benar telah diakui dan dirasakan memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi kehidupan umat manusia. Perkembangan teknologi telah membawa perubahan di dalam masyarakat. “Hadirnya masyarakat digital (digital society) membawa perubahan  kehidupan manusia dari sudut pandang ilmu pengetahuan dan teknologi,” tutur Peneliti Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya, LIPI, Thung Ju Lan,  di  acara diskusi secara daring bertajuk “ Masyarakat Digital” pada Jumat (1/5) lalu.

 

Thung mengatakan, bagaimana memahami kaitan antara ilmu pengetahuan, teknologi dan masyarakat atau dikenal dengan istilah  ‘Science, Technology , and Society’ (STS) ini agar dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing?” tidak semua memahami apa yang dimaksud dengan STS. Jadi sebagian masih lebih pada tekno sains, belum pada interaksi antar society ini,” ujar Thung. Dirinya menyebutkan, interaksi STS masih melihat bagaimana teknologi itu bermanfaat untuk kita, dan belum melihat bahwa kehidupan kita juga dipengaruhi oleh teknologi.

 

Kajian yang disiapkan LIPI terkait dengan Masyarakat Digital, Thung menyebutkan  ada empat yang menjadi Prioritas Nasional (PN) yaitu:(1) Ekosistem untuk tata kelola; (2) Cyber security dan disinformasi; (3) Strategi pengembangan ekonomi digital; (4) Penanaman nilai-nilai toleransi dalam masyarakat digital. “Dari empat kajian  tersebut, diharapkan bisa menghasilkan sesuatu konsep yang kuat dan menjadi leading untuk jangka panjang. Pada  tahun kedua dan ketiga juga harus keluar konsep yang bisa langsung di aplikasikan, dengan melibatkan praktisi dan seluruh stakeholder terkait lainnya,” tutur Thung.

 

Senada dengan Thung, hadir dari School of Social Sciences Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir mengatakan, secara konseptual STS era industri 4.0 didefinisikan: sekelompok orang yang terorganisir dengan adanya regulasi, norma, nilai, minat, dan motif, yang terjalin erat dengan perangkat teknis dan diatur secara khusus, kontrol otomatis, supplay daya, dan bahan biofisik. Jadi sesuatu yang saling terkait, terkoneksi dan akhirnya bisa memiliki karakter yang sangat dinamis, Namun, ada unsur-unsur yang unpredictable. “Jadi tujuan industri 4.0 sebenarnya sederhana, yaitu untuk meningkatkan produktifitas dan efisiensi produksi,” sebut Sulfikar.  

 

“ Industri 4.0 sangat urban, hanya melayani kepentingan sekelompok masyarakat, dan apabila diterapkan dalam kebijakan akan menghadapi probabilistic, bersifat retorik, pada saat masyarakat kita itu sebenarnya berjalan pada arah yang berlawanan,” jelas Sulfikar. Lalu yang menjadi pertanyaan besar, menurut Sulfikar, apakah industri 4.0 itu adalah sesuatu kesempatan Indonesia menjadi lebih baik, ataukah menjadikan sebuah jebakan? “ Berdasarkan kacamata STS itu sangat kruisal untuk mengamati, mencermati hal tersebut sebagai industri 4.0. Dalam Leaders in Advance Manufacturing, Indonesia masih diperingkat 59,” ungkap Sulfikar. Menurutnya, Indonesia masih mengandalkan non advance manufacturing. “Jadi kalau misalnya industri 4.0 diterapkan di Indonesia sebenarnya tidak terlalu relevan karena manufacturing kita itu belum semaju negara-negara yang mengembangkan industri 4.0 ini,” jelas Sulfikar.

 

Sulfikar juga menyebutkan, setuju dengan pendapat Presiden RI Joko Widodo,” Indonesia tidak perlu takut dengan revolusi industri 4.0. Kita justru harus memanfaatkan perkembangan yang ada untuk membawa Indonesia semakin maju.”   Namun, menurut Sulfikar, yang menjadi masalah adalah ketika industri 4.0 ini menjadi slow down yang kemudian sebenarnya realitasnya itu Indonesia sangat lemah,

 

 

“Terlepas dari anti industri 4.0 atau tidak, untuk penerapan di Indonesia, pertanyaan adalah apakah kita memiliki resource yang cukup untuk melakukan itu. Dan kalaupun kita punya resource yang cukup baik secara finansial ataupun men power, apakah itu perlu? Apakah kita yakin kalau kita menerapkan industri 4.0 di dalam sektor pendidikan tinggi, dia akan memperbaiki kualitas dari proses belajar dan proses transfer pengetahuan? Dan bisa profesinya diganti dengan mesin misalnya,” rinci Sulfikar.  Jadi intinya, bahwa keterpanaan kita terhadap industri 4.0 ini juga dibarengi dengan kemampuan kita mencermati secara kritis, bagaimana industri 4.0 menjadikan kita pemain yang sifatnya mediocre (pemain biasa-biasa saja).

 

Berbeda dengan Singapura, Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, sudah mempunyai infrastruktur yang maju, jadi penerapan industri 4.0 ini membuat industri mereka semakin advan, Untuk penerapan di Indonesia lebih tepat ditinjau dari  konteks aspek sosial, ekonomi, budaya.” Artinya digitalisasi itu sudah berlangsung dan tidak bisa dihindari, tetapi kita jangan terjebak kedalam retorika atau konsep-konsep yang sebenarnya tidak kita pahami dan kemudian tidak tahu bagaimana cara mengimplementasikannya. Jadi ini memang menjadi PR (Pekerjaan Rumah) bagi teman-teman di LIPI untuk mencari celah agar industri 4.0 ini dapat diaplikasikan di Indonesia,” jelas Sulfikar.

 

Menurut Sulfikar, mungkin kita harus melepas istilah industri 4.0 karena secara istilah terminologinya tidak pas dengan kondisi Indonesia. Tapi intinya sebenarnya bagaimana menerapkan teknologi digital itu sehingga bisa sesuai dengan kondisi-kondisi ekonomi, budaya, dan sosial di Indonesia, khususnya misalnya di dalam menghadapi situasi krisis pandemi COVID-19 ini. “Mau tidak mau kita harus menggunakan teknologi digital karena itu yang bisa menghubungkan kita dengan yang lain,” tutup Sulfikar. (dsa/ Ed.mtr/rann001)

 

***

Sumber ilustrasi: Sulfikar Amir

***

Disclaimer: Berita adalah kiriman dari Humas LIPI. Redaksi Website PMB LIPI hanya melakukan editing teknis. Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Korespondensi terkait isi artikel dapat langsung menghubungi Humas LIPI.