Home Artikel Piala Dunia 2022 dan Tradisi Bersih-Bersih Jepang

Piala Dunia 2022 dan Tradisi Bersih-Bersih Jepang

1

[Masyarakat & Budaya, Vol. 27, No. 9, November  2022]

Oleh Ranny Rastati (Mahasiswa Ph.D. Universiti Malaya dan Peneliti PMB BRIN)

Belakangan ini viral di media sosial mengenai tim nasional Jepang yang meninggalkan ruang ganti pemain dalam keadaan rapi dan bersih. Yang menarik, para pemain juga meninggalkan catatan ucapan terima kasih lengkap dengan origami berbentuk Tsuru (ツル) atau bangau yang menyimbolkan harapan dan semangat. Tak hanya para pemain, para suporter asal Jepang pun turut melakukan aksi yang sama dengan membersihkan tribun stadion setelah selesai menonton pertandingan Piala Dunia 2022.

Aksi ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Pada Piala Dunia di Brazil (2014) dan Rusia (2018) pun, ruang ganti pemain Jepang ditinggalkan dalam keadaan yang penuh kilap. Lengkap dengan ucapan terima kasih.

Dalam kesempatan lain, tim nasional Jepang juga melakukan hal serupa dalam Final Asian Cup 2019 di Uni Emirat Arab. Kala itu, meskipun kalah dari Qatar para pemain tetap melakukan tradisi bersih-bersih. Tak lupa menuliskan pesan terima kasih dalam bahasa Arab, Jepang, dan Inggris. Sikap para pemain Jepang ini kerap mendapat apresiasi dari Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) dan masyarakat internasional.

Tradisi Bersih-Bersih Jepang

Pengunjung yang pertama kali datang ke Jepang mungkin akan terkejut dengan kebersihan negara tersebut. Sebab, jarang ditemukan ada sampah berserakan di pinggir jalan. Ketika menggunakan toilet umum seperti di stasiun pun, pengunjung pun tidak merasa jijik karena kondisinya yang layak pakai. Hal ini berbeda dengan kondisi toilet umum di Jakarta yang cenderung tidak terjaga kebersihannya.

Kisah kebersihan Jepang sempat dicatat oleh William Adams, seorang navigator asal Inggris yang kemudian menjadi samurai sekaligus penasihat Tokugawa Ieyashu. Catatan Adams kemudian menjadi referensi dalam buku karya Giles Milton yang berjudul Samurai William: The Englishman Who Opened Japan (Milton, 2003).

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa ketika Adams tiba di Jepang pada tahun 1600, ia terkejut dengan adanya kakus dan saluran pembuangan. Para bangsawan pun tampak sangat bersih dan kerap melakukan mandi uap dari kayu wangi. Kondisi ini mengejutkan Adams karena pada tahun yang sama, London bukanlah kota bersanitasi baik dan banyak penyakit. Wabah pes yang berasal dari gigitan kutu hewan pengerat bahkan pernah melanda London pada tahun 1665-1666 yang mengakibatkan ratusan ribu orang meninggal (Haensch et al., 2010).

Tradisi bersih-bersih Jepang yang telah berusia ratusan tahun itu berakar pada ajaran Buddhisme Zen. Dalam Zen, kegiatan bersih-bersih dianggap sebagai latihan spiritual yang serupa dengan meditasi (Powell & Cabello, 2019). Saking pentingnya, tradisi ini dicatat dalam Engishiki (延喜式) atau buku prosedur hukum dan adat istiadat yang dibuat pada era Engi (901-923) (Yoda, 2021). Salah satu bab yang ada dalam Engishiki adalah instruksi cara membersihkan Istana Kekaisaran Kyoto. Sistem pembersihan ini kemudian diadopsi oleh kuil Buddha dan kuil Shinto.

Tradisi bersih-bersih ini pun akhirnya diserap oleh masyarakat Jepang. Mereka melakukan kegiatan bersih-bersih pada akhir tahun yang disebut Oosouji (大掃除) atau pembersihan besar. Kegiatan ini biasanya dilakukan seminggu penuh oleh anggota keluarga untuk menyambut tahun baru. Pembersihan besar-besaran ini dianggap sebagai ritual membersihkan nasib buruk untuk menuju awal baru yang baik.

Budaya bersih-bersih ini pun diajarkan di sekolah yang tidak hanya diterapkan dalam lingkungan keluarga. Setiap hari selepas pelajaran usai, para siswa membersihkan kelas, koridor, dan toilet baik dari siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Rutinitas ini mengajarkan siswa untuk bertanggung jawab membersihkan tempat dan barang yang digunakan, terutama di area publik. Lebih lanjut para siswa mengganti sepatu jalan dengan Uwagutsu (上靴 ) atau sepatu dalam ruangan untuk menghindari masuknya kotoran dari luar.

Selain ajaran Zen, budaya bersih-bersih ini juga ada dalam ajaran Shinto yang menjadi jiwa identitas Jepang. Salah satu konsep kunci dari Shinto adalah Kagare (穢れ) yang berarti ketidakbersihan dan kekotoran batin. Dalam Shinto, penyebab Kagare adalah penyakit, kematian, kotoran fisik, tindakan bejat seperti pemerkosaan. Kagare dapat membawa malapetaka yang membahayakan masyarakat. Untuk itu, sangat penting untuk selalu menjaga kebersihan agar terhindar dari petaka.

Masyarakat Jepang dalam bersikap pun memiliki konsep budaya bernama Meiwaku (迷惑) yang berarti menyusahkan dan mengganggu. Konsep Meiwaku pun menjadi salah satu dasar sikap kesopanan dalam budaya Jepang. Sebagai contoh, saat seseorang berada di ruang publik, maka ia tidak boleh mengganggu orang lain dengan cara tidak berbicara dengan suara keras dan menjaga lingkungan tetap bersih. Sayangnya konsep Meiwaku dapat menjadi pedang bermata dua (Geeraert, 2021). Sebagai contoh, para pekerja di Jepang sungkan mengambil cuti karena khawatir merusak harmoni kerja tim atau anak-anak yang berisik dan bersikap aktif dianggap menggangu ketenangan lingkungan.

Pada era modern ini, tradisi berbenah Jepang kembali mendapat perhatian internasional melalui metode KonMari yang diperkenalkan oleh Marie Kondo. Dalam bukunya yang berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up (Kondo, 2014), Kondo menjelaskan bahwa konsep berbenah tidak sekedar merapikan barang. Lebih dari itu, metodenya menumbuhkan kepekaan terhadap keinginan dan kebutuhan. Pada akhirnya metode ini dapat memberikan manfaat emosional menuju gaya hidup sehat dan membahagiakan jiwa.

Panjangnya tradisi bersih-bersih yang dimiliki Jepang, tak mengherankan jika warganya kerap melakukan aksi tersebut dalam berbagai kesempatan, salah satunya di ajang Piala Dunia. Sikap ini menunjukkan penghormatan kepada penyelenggara, pemain lawan, pelatih, dan penonton lain. Dalam hal ini, Jepang tidak hanya menampilkan sportivitas, tapi juga etika dan tata krama. (editor: Dicky Rachmawan)

Referensi

Geeraert, A. (2021). Meiwaku : The Threat to Japanese Harmony. Retrieved November 25, 2022, from Kokoro Jp website: https://kokoro-jp.com/columns/2117/

Haensch, S., Bianucci, R., Signoli, M., Rajerison, M., Schultz, M., Kacki, S., … Bramanti, B. (2010). Distinct clones of Yersinia pestis caused the black death. PLoS Pathogens, 6(10). https://doi.org/10.1371/journal.ppat.1001134

Kondo, M. (2014). The life-changing magic of tidying up: The Japanese art of decluttering and organizing. California: Ten Speed Press.

Milton, G. (2003). Samurai William : The Englishman Who Opened Japan. London: Penguin Books.

Powell, S. J., & Cabello, A. M. (2019). What Japan can teach us about cleanliness. Retrieved November 24, 2022, from BBC website: https://www.bbc.com/travel/article/20191006-what-japan-can-teach-us-about-cleanliness

Yoda, H. (2021). The Long History of Japan’s Tidying Up. Retrieved November 25, 2022, from https://www.newyorker.com/culture/cultural-comment/the-long-history-of-japans-tidying-up

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis

Ranny Rastati adalah peneliti Komunikasi Media di Pusat Riset Masyarakat dan Budaya – Badan Riset dan Inovasi Nasional (PMB – BRIN). Saat ini, ia sedang melanjutkan studi doktoral di Departemen Media dan Komunikasi, Universiti Malaya – Malaysia dengan beasiswa penuh dari LPDP. Fokus kajiannya berupa komunikasi dan budaya pop khususnya dari Korea dan Jepang. Ia dapat dihubungi melalui email ranny.rastati@gmail.com.

 

 

 

1 COMMENT

Exit mobile version