[Masyarakat & Budaya, Vol. 26, No. 16, Agustus 2022]

Oleh Gilang Mahadika (Mahasiswa Magister Antropologi, Universitas Gadjah Mada)

 

Di masa pandemi ketika semua orang hanya bisa diam, terpenjara dalam rumah. Di balik tirai jendela, kita bisa melihat ke luar rumah ada burung-burung liar bergerak dan terbang bebas di ruang terbuka. Seolah mereka tidak melihat pandemi ini menjadi suatu masalah besar bagi kehidupan mereka. Hanya kemudian manusia sendiri hampir di penjuru dunia merasakan hal yang sama. Mereka perlu menjalankan social distancing (pembatasan sosial), selagi makhluk hidup lain dengan bebasnya masih dapat berinteraksi dan bersentuhan dengan yang lain layaknya hari-hari normal. Permasalahan pandemi hanya menjadi masalah bagi manusia, tidak untuk makhluk hidup yang lain. Fenomena ini kemudian menarik untuk dibahas, terutama bagaimana kita sebagai manusia dalam upayanya untuk memikirkan kembali hubungan-hubungannya dengan lingkungan di sekitar.

10 Juni yang lalu saya melihat suatu pameran menarik yang dibawakan oleh mahasiswa-mahasiswa Antropologi yang terletak di Galeri Loeweng Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM). Pameran ini sebenarnya diadakan sebagai pemenuhan tugas akhir dari salah satu mata kuliah. Meskipun saya tidak termasuk dalam kegiatan ini, hal ini cukup menarik untuk diangkat menjadi topik yang mengesankan karena memperlihatkan bagaimana ilmu sosial mulai memperhatikan kehidupan spesies-spesies lain yang bukan manusia. Ini sebuah perkembangan ilmu sosial yang mulai melirik kajian melampaui dari kehidupan/aktivitas manusia. Dengan mengusung tema “Non-Human to Human”, acara ini setidaknya dapat memberi gambaran bagaimana mengkaji hubungan manusia dengan spesies lain.

Gambar 1: Pamflet Pameran Pascasarjana Antropologi “Non-Human

Seorang dosen tamu antropologi, bernama Jun Kitazawa memamerkan satu karya yang cukup membuat saya menyadari dan mempertanyakan kembali bagaimana sebenarnya menjadi manusia yang sekiranya perlu juga untuk benar-benar menyadari keberadaan spesies lain yang hidup di sekitarnya. Ia menceritakan karyanya dari anekdot yang ditulisanya dalam bentuk paragraf layaknya catatan lapangan seorang etnografer. Rupanya karya Kitazawa terinspirasi oleh sebuah refleksi ruang perkotaan ketika Ia tinggal di Tokyo dan Yogyakarta.

Gambar 2: Salah satu karya Jun Kitazawa, ilustrasi miniatur rumah dan burung-burung liar.

. . .

Di pagi hari, saya mendengar suara burung. Sangkar burung menggantung di gang-gang, burung-burung dengan berbagai warna, memainkan musik yang beragam. Spesies burung, bentuk sangkar burung, dan budaya kontes. Saya selalu tertarik dengan budaya Jawa dalam memelihara burung. Tidak ada sangkar burung di gang-gang Tokyo dan tidak banyak burung berkicau.

Ketika saya masih kecil, spesies burung migran yang sama akan datang ke taman rumah kami di Tokyo setiap tahun. Mereka membangun sarang, bertelur, memiliki anak burung dan meninggalkan sarang. Menyaksikan proses ini dari jendela saya merupakan suatu kesenangan setiap tahun. Saya masih ingat keterkejutan saya ketika anak-anak burung mati setelah diserang oleh burung gagak. Mereka tidak pernah kembali selama bertahun-tahun, mungkin karena sudah terlalu sulit bagi mereka untuk tinggal di Tokyo. Meskipun mereka tidak membangun sarang, namun burung-burung liar tampaknya masih kerap datang, dan ibu saya masih membuat tempat makan dari kayu dan menempatkannya di taman. Dia meninggalkan makanan di atasnya dan burung-burung liar sesekali mampir untuk makan. Kalau dipikir-pikir, saya belum melihat banyak ‘pengumpan burung’ di Jawa. Apakah ini karena budaya memelihara burung yang berkembang pesat?

Jawa dan Jepang, kota-kota yang penuh dengan sangkar burung dan kota-kota tanpa sangkar burung. Kota tanpa tempat makan burung liar dan kota dengan tempat makan burung liar. Kesamaan yang dikurung dan kebebasan di alam liar.

Bagaimana seharusnya burung dan manusia hidup bersamaan di kota ini? Saya merancang proyek untuk mereplikasi bentuk rumah manusia dalam skala kecil dan memasangnya sebagai tempat makan burung liar di kota, yang saya sebut POST HUMAN. Rumah asli seseorang diperkecil ukurannya dan dipasang di halaman rumah mereka. Rumah kecil itu berisi makanan untuk burung-burung, dan saat mereka makan, makanan muncul dari dalam satu demi satu. Semakin burung-burung asyik dengan makananya, semakin banyak ‘rumah’ yang rusak dan pecah karena dipatuk dengan paruhnya.

Proyek ini menciptakan tempat bagi burung-burung untuk hidup dan pada saat yang sama memikirkan kembali tempat di mana kita manusia hidup. Dari perspektif antara antropologi dan seni, saya ingin menciptakan sesuatu antara peralatan sehari-hari dan karya seni. Proyek ini sedang berlangsung, apa yang ditampilkan di sini adalah gambar dan protipe dari POST HUMAN

Jun KITAZAWA

X Burung Liar

——————–

POST HUMAN

 

Dari narasi dan karya yang ditawarkan Kitazawa setidaknya membuat kita bertanya mengenai apa yang disebut kebudayaan? Lalu, apa yang disebut alam? Bagaimana manusia memaknai alam, dan sebaliknya? Pandangan lama mengenai konsep kebudayaan seringkali dipisahkan dari kategori-kategori alam. Dikotomi dan pemisahan antara budaya (culture) dan alam (nature) (Strathern, 2014)⁠ dalam paradigma lama seringkali terjadi. Alam seringkali berhubungan dengan hal yang liar, layaknya burung-burung liar yang terbang di perkotaan. Sedangkan kebudayaan adalah sesederhana bangunan-bangunan rumah untuk tinggal manusia. Suatu hal yang sifatnya alami ketika telah tersentuh oleh manusia dapat menjadi suatu kebudayaan. Namun, kembali lagi apa arti dari kebudayaan? Jika kemudian suatu lingkungan hidup dibangun tidak begitu ramah dengan keberadaan burung-burung liar atau spesies-spesies lainnya.

Sangkar burung dan kontes burung berkicau menjadi hal menarik yang sering kita temui di beberapa kasus kebudayaan di Indonesia. Menarik sebenarnya jika kemudian ada yang berusaha membandingkan dengan kebudayaan di tempat lain. Dalam kasus ini, burung sudah tidak lagi dianggap sebagai entitas yang “liar”, melainkan telah didomestikasi (dijinakkan) oleh manusia. Burung-burung ini biasanya akan dimanfaatkan untuk memenuhi kesenangan, persaingan ekonomi, dan pencarian keuntungan hanya untuk manusia semata. Mungkin tidak untuk kesejahteraan burung sebagai peliharaan mereka sendiri. Dari sini setidaknya apa yang dimaksud peliharaan, sangkar burung, dan segala upaya manusia menjinakkan yang liar adalah kerja-kerja manusia dalam menjalin hubungan dengan entitas yang bukan manusia (non-human).

Post-human juga menjadi istilah yang menarik. Banyak mahasiswa antropologi juga memamerkan karyanya yang kurang lebih menunjukkan energi yang sama. Sejauh mana suatu kebudayaan dapat memahami entitas yang bukan manusia, menyelam dalam sudut pandang kehidupan spesies-spesies yang bukan manusia. Lagipula apa gunanya juga? Melihat kasus burung liar yang terpenjara dalam sangkar, apa kemudian secara subjektif senang untuk hidup terpenjara karena selalu dirawat dan diberi makan oleh majikannya. Sebaliknya, bisa saja mereka juga tidak begitu senang jika selamanya harus terkurung dalam sangkar, seperti manusia di masa pandemi yang terpenjara dalam rumah, tidak bisa berinteraksi dengan lainnya. Perspektivisme (ke-sudut-pandang-an) dari entitas bukan-manusia menjadi hal penting bagaimana manusia menjalin ikatan emosional dengan spesies yang lain (de Castro, 1998)⁠.

Pandemi juga menjadi satu hal yang penting untuk direnungkan, terutama bagi manusia yang terkadang melupakan hubungan manusia dengan yang bukan manusia. Virus kemudian menjadi hal yang tidak sekadar ber-”ada”, melainkan mereka juga spesies yang hidup berdampingan dengan manusia. Saya menjadi teringat bagaimana virus flu H5N1 muncul karena diasumsikan hasil mutasi virus dari peternakan ayam skala besar hingga kemudian dapat pula menyerang manusia (Lowe, 2010)⁠. Hubungan multi-spesies antara virus, ayam ternak, burung-burung liar, dan pada akhirnya berdampak pada manusia perlu menjadi perhatian. Hal ini bertujuan untuk melihat adanya ketidakseimbangan ekosistem yang terjadi karena ulah manusia sendiri dari keberadaan peternakan skala besar (Wallace, 2016)⁠.

Lebih jauhnya, kemudian bagaimana dengan aktivitas-aktivitas destruktif lainnya terhadap lingkungan di sekitarnya yang dapat berdampak pada spesies-spesies lain? Setidaknya dari keberadaan pameran yang diadakan oleh antropologi menghadirkan pandangan baru terutama dalam mengkritik konstruksi kebudayaan yang cenderung manusia-sentris (antroposentrisme). Ilmu sosial kemudian tidak lagi sekadar mengkaji manusia dan kebudayaannya, melainkan melampui itu, yaitu ketika spesies yang bukan manusia turut memiliki peran signifikan dalam membangun kebudayaan (Editor: Imelda).

 

Referensi

de Castro, E. V. (1998). Cosmological Deixis and Amerindian Perspectivism. The Journal of the Royal Anthropological Institute, 4(3), 469–488.

Lowe, C. (2010). VIRAL CLOUDS: Becoming H5N1 in Indonesia. Cultural Anthropology, 25(4), 625–649. https://doi.org/10.1111/j.1548-1360.2010.01072.x

Strathern, M. (2014). Cutting the Network. In H. L. & T. S. Moore (Ed.), Anthropology in Theory: Issues in Epistemology. Wiley-Blackwell.

Wallace, R. (2016). Big Farms Make Big Flu: Dispatches on Influenza, Agribusiness, and the Nature of Science. NYU Press.

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis

Gilang Mahadika adalah mahasiswa pascasarjana Antropologi, Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia menyukai kajian politik-ekologi dan pembangunan masyarakat. Ia memiliki beberapa pengalaman penelitian lapangan. Salah satunya di Sangatta, Kalimantan Timur membahas mengenai program CSR perusahaan tambang. Kemudian di dataran tinggi Maybrat, Papua Barat mengenai pertanian dan masyarakat adat. Saat ini Ia tengah menjadi research fellow untuk Universitas Koln dalam penelitian perkebunan sawit dan masyarakat adat di Kalimantan Timur, Indonesia. Penulis dapat dihubungi melalui: gilangmahadika@mail.ugm.ac.id / gilang.maha@gmail.com.