Home Artikel Mengulik Potensi Falsafah Peumulia Jamee Adat Geutanyoe sebagai Daya Tarik Pariwisata

Mengulik Potensi Falsafah Peumulia Jamee Adat Geutanyoe sebagai Daya Tarik Pariwisata

0

[Masyarakat & Budaya, Vol. 27, No. 7, November 2022]

oleh Rezya Agnesica Helena Sihaloho (Mahasiswa Magister Program Studi Kajian Ketahanan Nasional di Universitas Indonesia)

Aceh yang dikenal sebagai Tanoh Rencong merupakan salah satu provinsi yang memiliki banyak sub suku di dalamnya; Aceh, Alas, Aneuk Jamee, Gayo, Kluet, Singkil, Simeulu, dan Tamiang. Di era modernisasi ini, masyarakat adat di tanah Aceh masih menjunjung tinggi tradisi dari indatu moyang (nenek moyang) mereka. Budaya yang masih dilestarikan oleh seluruh suku di Aceh adalah peumulia jamee (memuliakan tamu). Kegiatan peumulia jamee dilakukan dengan tarian dan hidangan makanan yang disediakan dan disesuaikan dengan momen acara. Peumulia Jamee biasanya dipentaskan pada acara-acara tertentu; pernikahan, peringatan keagamaan, dan penyambutan tamu penting. Namun dalam perkembangannya diadakan dalam berbagai acara, antara lain pameran dan pentas seni.

Ajaran Islam menjadi fondasi bagi adat dan istiadat masyarakat aceh, salah satunya keberlangsungan budaya peumulia jamee. Ajaran memuliakan tamu tersebut merujuk pada hadist yang berkenaan dengan memuliakan tamu, yaitu:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR. al Bukhari dan Muslim)

Selain pengaruh ajaran Islam yang sangat kuat, peumulia jamee juga sesuai dengan letak geografis Aceh yang menampung gelombang-gelombang migrasi dari berbagai Kawasan sejak zaman dahulu. Hal tersebut, dapat dilihat dari kisah penjelajah dunia dari Maroko, Ibnu Bathutah. Ketika pertama kali datang ke Aceh, Ia bersama rombongannya disambut oleh pihak kerajaan Aceh pada masa itu dengan mengirimkan beberapa ekor kuda dan disuguhi setapak sirih sebagai tanda kehormatan (Jazila, 2021). Penyelarasan budaya dengan ajaran agama menjadi landasan penting bagi masyarakat Aceh yang menerapkan syariat Islam. Ajaran-ajaran tersebut yang didukung oleh letak geografis dan kondisi masyarakat, menjadi rujukan utama budaya peumulia jamee. Terlebih lagi, Aceh juga terbentuk dari berbagai etnis migran atau merupakan titik temu dari perbedaan budaya antar migran. Sejak dulu, Aceh juga dijuluki sebagai “Serambi Mekkah” karena pengaruh agama dan budaya Islam yang begitu besar di sana dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Hal lain yang mendukung pelestarian budaya ini, salah satunya adalah keberadaan syair yang indah dan terkenal di masyarakat Aceh yang berjudul “Saleum”.

Salem (Salam)

 

Salamu’alaikom warahmatullah (Salamu’alaikum warahmatullah)

Jaroe dua blah ateuh jeumala (Dua belah tangan menangkup bejana)

Jaroe lon siploh di ateuh ule (Sepuluh jari diatas kepala)

Meuah lon lake bak kawom dumna (Mohon maaf saya haturkan kepada semuanya)

Jaroe lon siploh di ateuh ubon (Sepuluh jari diatas kepala)

Salamu’alaikom lon tegur sapa (Salam’alaikum saya menegur sapa)

Jaroe lon siploh beu ot sikureng (Jariku sepuluh kuangkat sembilan)

Syarat ulon khen tanda mulia (Sebagai syarat tanda mulia)

Jaroe sikureng lon beu ot lapan (Jari sembilan kuangkat delapan)

Geunan to timphan ngon aso kaya (Ganti timphan dengan isi srikaya )

Jaroe lon lapan lon beuot tujoh (Jariku delapan kuangkat tujuh)

Ranup lam bungkoh lon jok keu gata (Sirih dalam bungkus kuserahkan kepada Tuan)

 

 

Timphan – Makanan Khas Aceh dalam Peumulia Jamee

Sumber: Dokumentasi Penulis

Tidak sedikit pemerhati budaya dan sarjana dari berbagai jurusan telah membahas budaya Aceh, khususnya tentang tradisi peumulia jamee. Artikel sebelumnya tentang hal itu akan menjadi referensi ide dan data bagi penulis. Namun, tulisan ini akan membawa ide atau menarasikan perspektif baru atau disebut juga kebaruan dalam penelitian. Apa yang disebut kebaruan penelitian, jika suatu penelitian dapat menjadi perbedaan studi kasus atau metodologi baru yang mengarah pada penemuan pengetahuan baru dan untuk menemukan kebaruan dalam penelitian perlu dilakukan studi pustaka dan menemukan celah-celah yang perlu diperjelas (Cohen, 2017). Adat Peumulia jamee adat geutanyoe, didefinisikan oleh Hermaliza (2011), sebagai sebuah acara yang ditujukan untuk menghormati tamu di kalangan masyarakat Aceh. Hermaliza juga mengatakan  bahwa falsafah tersebut semakin populer sejak diterbitkan program pemerintah Aceh yang bertajuk “Visit Banda Aceh” pada tahun 2011. Hingga saat ini tradisi tersebut masih terus berjalan    dan berusaha dilestarikan, salah satunya melalui pembelajaran sejarah di Sekolah Menengah Atas   (SMA) Negeri Darul Makmur di Aceh. Pembelajaran tersebut digunakan sebagai sarana siswa untuk menghadapi kehidupan sosial yang dinamis dengan menjunjung tinggi nilai, ramah, santun, dan terlebih lagi menjalankan ajaran Islam itu sendiri (Susanto., Joebagio., & Riezal., 2018).

Berdasarkan pengalaman penulis ketika pertama kali datang ke Aceh untuk melakukan penelitian selama 3 (tiga) bulan di Aceh, penulis merasakan korelasi antara makna budaya dan penyambutan wisatawan. Ukiran pinto Aceh dapat saya temui di berbagai sudut pintu kedatangan Bandara, hal tersebut dapat dimaknai bahwa orang Aceh sangat terbuka bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Aceh. Hal tersebut di konfirmasi oleh Bapak T Hendra Faisal, S.E., M.Si dalam wawancara pada bulan November 2021, bahwa orang Aceh memegang teguh falsafah penghormatan kepada tamu dan harus ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Hendra juga menambahkan bahwa peumulia jamee juga biasa dilakukan dalam bentuk tarian dan menghidangkan makanan, hal ini sering menjadi tampilan yang sangat menarik bagi wisatawan.

Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh (2021)

Hingga saat ini tarian peumulia jamee masih terus dikembangkan oleh Dinas Pariwisata Aceh, untuk meningkatkan angka pariwisata Aceh yang sempat menurun akibat pandemic COVID-19. Tarian peumulia jamee saat ini ditampilkan sebagai sambutan dalam pembukaan acara-acara pariwisata, hal ini disampaikan dalam wawancara penulis dengan Kepala Seksi Strategi Komunikasi dan Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Akmal Fajar SSTP, M.Si (2021). Antropolog dan pemerhati budaya Aceh, Dr. Otto Syamsuddin Ishak, meyakini bahwa peumulia jamee memiliki kolerasi dengan peningkatan pariwisata Aceh. Dilihat dari segi pelayanan, budaya peumulia jamee akan memberikan kenyamanan bagi wisatawan, karena budaya ini bukan hanya sekedar menjamu dengan tarian dan kuliner yang lezat tetapi juga memberikan perlindungan. Meskipun, menurut Otto, disisi lain Aceh telah mengalami banyak konflik dan bencana alam, juga perubahan generasi dan intervensi budaya kosmopolitan. Hal tersebut menyebabkan potensi adat Aceh tergerus menjadi sangat besar; tergerus budayanya maupun akar budayanya, yakni keislamannya (Ishak, 2022).

Oleh karena itu, sebagai generasi muda Indonesia khususnya generasi muda Aceh dan pemerintah daerah di era modern ini, inovasi dan kemampuan beradaptasi dengan teknologi menjadi hal yang krusial untuk diperhatikan oleh pemerintah. Upaya kolektif antara pemerintah dengan generasi muda dalam melakukan promosi dan mencari inovasi-inovasi untuk meningkatkan daya tarik wisata akan lebih mudah meningkatkan kunjungan wisata. Melibatkan generasi muda dalam proses pengembangan pariwisata akan meningkatkan rasa kepemilikan dan kebanggaan akan budaya Aceh. Beberapa langkah-langkah yang dapat dilakukan dengan kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat adalah menampilkan peumulia jamee dalam berbagai kegiatan, dan bukan hanya sekedar itu menjelaskan akar budaya ini dan pentingnya bagi peningkatan ekonomi dari sektor pariwisata menjadi daya tarik lain bagi generasi muda (Editor: Jalu Lintang Y.A).

Referensi:

Cohen,     Barak     A.     2017.      How     Should     Novelty     be     Valued     in      Science?     Elife,     6, https://doi.org/10.7554/eLife.28699.

Fajar, Akmal. 2021. “Peumulia Jamee dan Pariwisata Aceh”. Hasil Wawancara Pribadi: 22 Oktober 2021, Jakarta.

Hendra, Faisal. 2021. “Peumulia Jamee dan Pariwisata Aceh”. Hasil Wawancara Pribadi: 22 Oktober 2021, Jakarta.

Hermaliza, Essi. 2011. Peumulia Jamee. Seri Informasi Budaya: Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh

Mahajan, Haradhan. 2018. Qualitative Research Methodology in Social Sciences and Related Subjects, in Zohbari (2013). Munich Personal RePEc Archive, 7(1), pp 23-48. Munich: Germany.

Ishah, Otto Syamsuddin. 2022. “Peumulia Jamee dan Pariwisata Aceh”. Hasil Wawancara Pribadi: 1 November 2022.

Riezal, Chaerol & Joebagio, Hermanu & Susanto, Susanto. (2018). Upaya Internalisasi Nilai-Nilai Budaya Peumulia Jamee Masyarakat Aceh dalam Pembelajaran Sejarah (Studi Kasus di SMA Negeri 1 Darul Makmur). Briliant: Jurnal Riset dan Konseptual. 3. 190. 10.28926/briliant.v3i2.167.

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis

Rezya Agnesica Helena Sihaloho adalah seorang mahasiswa Magister Program Studi Kajian Ketahanan Nasional di Universitas Indonesia. Ia tertarik dengan isu-isu resolusi konflik, perdamaian, geopolitik, dan isu non konvensional lainnya

 

NO COMMENTS

Exit mobile version