[Kolom No.7, 2022]

Oleh Riwanto Tirtosudarmo (Peneliti Sosial Independen)

Saya tahu judul itu tidak terlalu tepat. Kata “mengenang” biasanya dipakai untuk membicarakan sesuatu yang terjadi pada masa lalu, atau tentang seseorang yang telah wafat.  Sesuatu atau seseorang itu dikenang karena hubungan pengalaman yang bersifat pribadi dengan kita, membekas, mendalam dan menjadi ingatan yang tidak mudah dilupakan. Tapi Percik yang ingin saya kenang itu masih ada, saya bahkan baru menginap dua malam di guesthouse nya yang sederhana tapi teduh. Di pagi hari, ketika sinar mentari masih temaram, menerobos di selang seling dedaunan dan kerimbunan pepohonan dan rumpun bambu, ada yang terasa gaib disana. Yang mungkin juga sulit dicari ditempat lain di pagi hari di Kampoeng Percik adalah siul burung yang bersahut-sahutan, seolah mengajak kita bangun menikmati “sepotong surga di bumi”, penggambaran Mbak Maria Hartiningsih dalam esainya di Kompas tentang Kampoeng Percik beberapa tahun lalu.

Gambar 1. Papan nama Kampoeng Percik

Percik merupakan sebuah LSM yang didirikan pada tahun 1999 yang sekarang terus diisi kegiatannya oleh generasi yang lebih muda dari generasi pendirinya; memiliki pilihan kegiatannya sendiri meskipun pasti masih tetap berkisar pada niat awal pendiriannya menjadi tempat menyemai cinta pada kemanusiaan. Para generasi penerus yang sekarang melanjutkan kegiatan Percik antara lain yaitu: Pak Lomo, Mas Hari, Mbak Yani, Mbak Kristin, Mbak Agnes, Mbak Ambar, Mas Yoyok, Mas Singgih, Mas Slamet, Mas Agung, Mas Damar, Mbak Ririn dll. Mereka yang biasa membantu seperti Pak Man, Pak Slamet, Pak Mul dan Mbak Sumi juga masih aktif sampai sekarang. Tempat yang terdiri dari bangunan-bangunan rumah kayu jati berbentuk joglo dan limasan, yang dipindahkan dari sekitar Blora oleh Pak Pradjarta, merupakan salah satu pendiri dan direktur pertama Percik itu yang menjadikan tempat yang luasnya kurang lebih satu hektar itu benar-benar seperti sebuah perkampungan kecil di Salatiga. Dari tepi sawah di sekitar Percik, jika hari cerah kita bisa melihat gunung dan bukit-bukit hijau yang mengelilingi Salatiga. Pada prasasti di tepi jalan setapak memasuki Kampoeng Percik, tertulis tiga nama pendirinya: Pradjarta, Nico. L. Kana dan I Made Samiana.  Pak Samiana sudah wafat beberapa tahun yang lalu, Pak Pradjarta dan Pak Nico L. Kana keduanya sudah pensiun dari Percik. Pak Pradjarta sesekali masih terlibat dengan kegiatan di Percik, Pak Nico Kana sudah jarang datang karena memang sudah semakin sepuh. Generasi pertama Percik memang sebagian sudah meninggal. Beberapa yang sering saya lihat dulu dan sekarang sudah wafat antara lain Arief Budiman, Pak Budi dan Mas Kutut Suwondo.

Sebagian besar generasi pertama Percik adalah mereka yang terlibat dalam aksi protes menentang pemecatan Arief Budiman dan reaksi solidaritas melawan keputusan pimpinan UKSW (Universitas Kristen Satya Wacana) yang tidak mengangkat Liek Wilardjo yang telah memenangkan pemilihan rektor dengan suara terbanyak. Gelombang protes itu ditanggapi dengan sangat keras oleh penguasa UKSW dengan memecat puluhan staf pengajar, staf administrasi dan mahasiswa. Para staf itu dicoret namanya dari daftar penerima gaji sementara mahasiswa di DO. Sebagai akibatnya puluhan orang harus menanggung beban hidupnya dengan berbagai cara. Pindah pekerjaan, berdagang kelontong; asal bisa bertahan hidup. Tidak hanya dipecat tetapi juga diinterogasi oleh aparat keamanan karena aksi protes yang sesungguhnya merupakan peristiwa internal kampus itu telah dipolitisir oleh penguasa sebagai gerakan yang melawan pemerintah. Peristiwa yang terjadi sekitar pertengahan tahun 90an itu – telah ditulis menjadi draft buku, namun belum diterbitkan (Lihat “Kemelut UKSW 1994-1995” oleh Budi Kurniawan) – jika dilihat secara retrospektif apa yang terjadi di UKSW saat itu adalah sebuah peristiwa yang tidak kecil nilai historisnya. Peristiwa itu adalah bagian dari perlawanan panjang terhadap rezim pemerintahan Suharto yang bisa dikatakan mengejawantah (embodied) dalam tubuh kepemimpinan UKSW saat itu.

Gambar 2 dan 3. Joglo Bocah (atas) dan Aula (Bawah)

UKSW adalah sebuah universitas swasta Kristen yang tumbuh di sebuah kota kecil – Salatiga. Sejak era tahun 1970an di UKSW telah dikembangkan pendidikan, penelitian dan publikasi tentang ilmu-ilmu sosial. Jurnal ilmu-ilmu soasial dari UKSW saat itu bernama Cakrawala sudah tebit secara teratur, antara lain karena dedikasi salah satu tokohya, Dr. Nico L. Kana, seorang yang berlatar belakang antropologi. Melalui jaringan gereja hubungan antara UKSW dengan ilmuwan sosial terutama dari Belanda seperti Frans Husken, Nico Schulte Nordhold dan Phillip Quarles van Ufford, terjalin dengan baik. Kemudian banyak juga staf pengajar dari UKSW menempuh pendidikan doktoralnya di negeri Belanda, antara lain Dr. Pradjarta, Dr. Kutut Suwondo. Dr. Haryani Saptaningtyas – Direktur Percik yang sekarang, termasuk generasi penerus – juga menempuh pendidikannya di Belanda. Ketika pada awal tahun 1980an Dr. Arief Budiman yang baru menyelesaikan studi doktornya di bidang sosiologi Harvard bergabung di UKSW dia berada di sebuah lingkungan yang tepat. Kehadiran Arief Budiman di UKSW menyuburkan berkembangnya ilmu-ilmu sosial yang beraliran kritis antara lain melalui Pusat Studi Pembangunan yang kemudian didirikan. Ibarat magnet, kehadiran Arief Budiman di UKSW menarik kehadiran ilmuwan sosial kritis lainnya seperti George Junus Aditjondro dan Ariel Heryanto, disamping tokoh-tokoh lain seperti Th. Sumartana dan Sritua Arief.

Dalam waktu yang relatif cepat UKSW menjadi pusat ilmu-ilmu sosial kritis di Indonesia. Sebuah jurnal dengan nama Kritis diterbitkan menggantikan Cakrawala. Era 1990an ketika Orde Baru semakin kencang dengan strategi pembangunan yang berusaha mengejar pertumbuhan ekonomi dan semakin represif terhadap kritik. Ilmuwan-ilmuwan sosial yang berpusat di UKSW menjadi tempat persemaian pemikiran dan aksi perlawanan terhadap dominasi pemikiran serta praktek yang melandasi dan mengimplementasikan strategi pembangunan Orde Baru. Salah satu yang menjadi ajang perlawanan saat itu adalah dibangunnya Waduk Kedung Ombo di Grobogan yang tidak terlalu jauh dari Salatiga. Waduk Kedung Ombo mencerminkan watak model pembangunan Orde Baru yang sepenuhnya didesain dari pusat, ada kepentingan korporasi yang tidak melihat aspirasi masyarakat. Penggusuran penduduk dan penenggelaman puluhan desa memperlihatkan dengan jelas brutalnya strategi pembangunan Orde Baru. Warga desa yang melawan dianggap sebagai komunis dan diintimidasi oleh aparat keamanan. Kisah perlawanan terhadap pembangunan Waduk Kedung Ombo yang tidak sedikit melibatkan para aktifis dan mahasiswa ini telah dibukukan dengan sangat rinci oleh Staneley (Lihat “Seputar Kedung Ombo”, Elsam 1994) yang saat itu masih menjadi mahasiswa UKSW dan menjadi bagian dari lingkaran aktifis di seputar Arief Budiman dan George Junus Aditjondro. Kemelut yang kemudian terjadi di seputar pemilihan Rektor dan tindakan represif yang dilakukan oleh penguasa saat itu bisa dilihat sebagai kesempatan untuk menghabisi suara-suara kritis terhadap Orde Baru yang berpusat di UKSW.

Gambar 4 dan 5. Prasasti Kampoeng Percik (atas) dan Tempat Ibadah bagi Semua Keyakinan (Bawah)

Dalam sebuah tulisan reflektif yang dibuat untuk memperingati ulang tahun Percik yang ke-10, tahun 2009, Pak Pradjarta mengibaratkan Percik sebagai petani yang sedang “Nandur Pari Jero”. Perumpamaan ini bisa dimaknai sebagai menanam benih dalam-dalam dan yang memang akan tumbuh lama namun nantinya akan menghasilkan buah yang bagus dan bisa dinikmati banyak orang. Percik yang merupakan singkatan dari “Persemaian Cinta Kemanusiaan’ itu seperti tertulis dalam prasasti peresmian pendirian Kampoeng Percik pada tanggal 9 Juli 2002 adalah lembaga yang diperuntukkan bagi pengembangan demokrasi, penguatan masyarakat sipil dan penegakkan hukum serta HAM. Terlihat dari tujuan yang ingin dicapai itu semangat zaman yang memang ada pada masa itu, sebuah masa ketika masyarakat sipil di Indonesia merasa telah berhasil menumbangkan sebuah pemerintahan yang otoriter dan dengan penuh harapan menyongsong akan terciptanya sebuah masyarakat yang demokratis dan menghargai hak azasi manusia.

Jika diingat, saat ini sudah lebih dari dua dasawarsa sejak Kampoeng Percik diresmikan sebagai rumah keguiatan bagi warga Percik yang didirikan tahun 1999.  Pada tahun 2009 Pak Pradjarta Dirdjosanjoto menuliskan refleksinya dalam peringatan ulang tahun Percik ke-10 dalam buklet kecil yang berjudul “Nandur Pari Jero: Refleksi 10 Tahun Perjalanan Percik”. Jika hari ini saya ingin mengenang Percik saya kira karena betapapun tipisnya telah merasa menjadi bagian dari Percik. Mungkin hampir setiap tahun sekitar tahun 2010an itu saya terlibat dalam sebuah kegiatan tahunan, biasanya sekitar bulan Juli. Mungkin karena dimaksudkan untuk sekalian memperingati didirikannya Kampoeng Percik, dihelat sebuah seminar internasional tentang politik lokal. Saya kira diantara sekian banyak kegiatan yang dilakukan Percik, acara seminar dengan tema politik lokal ini menjadi semacam “trademark” dari Percik. Politik lokal atau hal -hal lain yang serba lokal itu memang sepertinya telah dijadikan “flagship” Percik. Saya rasa, pilihan untuk memposisikan diri sebagai lembaga yang memberikan perhatian khusus pada hal-hal yang serba lokal itu juga bagian dari semangat zaman pasca reformasi itu. Sebuah semangat ketika kita merasa sudah terlalu lama hidup dalam sebuah negara yang terlalu sentralistis, semua dirasakan serba diatur oleh pusat.

Didirikannya Kampoeng Percik pada tahun 2002, lebih dari dua dasawarsa yang lalu itu, tidak lama dari dikeluarkannya UU Otonomi Daerah pada tahun 2000. Sebuah UU yang telah mengatur kehidupan masyarakat Indonesia lepas dari sentralisasi kekuasaan. Sebuah UU yang dalam pelaksanaannya juga memiliki dinamika sejalan dengan dinamika politik nasional maupun lokal yang memang mungkin menjadi sangat khas Indonesia karena kontur geografi yang merupakan kepulauan dan komposisi demografi yang secara sosio-kultural sangat beragam. Dinamika politik lokal yang dipilih sebagai tema tahunan seminar internasional Percik karena itu menjadi tema yang sangat kaya dan bisa ditarik ke berbagai dimensi dan sub-tema yang mungkin tidak akan ada habisnya dibahas dan diseminarkan.

Gambar 6. Pak Pradjarta dan Peserta sebuah kegiatan diskusi di Percik, Juli 2022.

Perhelatan seminar internasional tahunan tentang dinamika politik lokal yang mungkin setiap tahun saya ikuti sampai saat-saat terakhir karena satu dan lain hal kemudian tidak lagi diselengagarakan.  Bagi saya terlibat dalam kegiatan tahunan itu merupakan sebuah pengalaman tersendiri yang bekasnya terasa mendalam sepanjang karir saya sebagai seorang peneliti sosial. Tulisan-tulisan yang kemdian saya edit menjadi bagian dari buku semula adalah makalah-makalah yang saya presentasikan di seminar tahunan Percik itu. Betapa tidak, dalam pertemuan dan diskusi yang sangat intensif tentang berbagai isu lokal yang diikuti oleh sekitar 30 peserta dari berbagai tempat di Indonesia maupun luar Indonesia selama tiga hari itu, Kampoeng Percik menjadi ajang pertukaran pikiran dan pertemanan yang sangat mengesankan. Para peserta yang rata-rata memiliki latar belang pendidikan dan pengalaman dalam bidang ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan itu, mempresentasikan makalah yang telah disiapkan dan telah dipilih oleh Percik untuk diundang dan dibiayai, di tanggung penginapan dan makannya selama seminar berlangsung. Selama tiga hari itu diskusi dilakukan dari pagi sampai malam hari, disela jeda makan siang yang juga menjadi kenangan tersendiri karena itulah kesempatan ngobrol off session. Pada suatu malam biasanya diadakan acara hiburan musik campur sari atau dangdut yang sangat meriah dengan sajian berbagai hidangan lokal seperti nasi goreng gongso, bakso dan wedang ronde khas kuliner Salatiga.

Perhelatan tiga hari di Kampoeng Percik itu adalah sebuah oase yang sejuk dan subur bagi tumbuhnya kecintaan, dedikasi dan komitmen terhadap berbagai kemungkinan untuk mengembangkan dan membangun masyarakat pada aras lokal yang lebih sejahtera, damai dan bermartabat.  Mengenang Percik juga mengenang sebuah oase ilmu-ilmu sosial yang tumbuh di luar lembaga-lembaga resmi ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Ilmu-ilmu sosial di Percik adalah ilmu-ilmu sosial kritis yang terlempar dari UKSW yang saat itu sesungguhnya telah memiliki tradisi ilmu-ilmu sosial yang kuat. Jika setiap tahun berkumpul lebih dari 30 anak-anak muda yang dari berbagai tempat dan lembaga dengan niat bersama untuk berdiskusi dan bertukar pikiran dengan bebas berdasarkan makalah hasil penelitian atau bacaan tentang berbagai isu politik lokal. Dimana kegiatan tersebut telah berjalan paling kurang selama satu dasawarsa, bisa dibayangkan sudah ratusan jumlah alumni yang tersebar di segala penjuru tanah air.

Para alumni Percik itu sebagian sekarang mungkin ada yang menjadi pejabat pemerintah, sebagian menjadi dosen di perguruan tinggi, penggerak berbagai organisasi masyarakat sipil atau berbagai profesi yang lain, mungkin tidak terkira sumbangan kongkrit yang telah diberikan untuk masyarakat. Niat Kampoeng Percik yang dibangun untuk mengembangkan demokrasi, memperkuat masyarakat sipil dan menegakkan hukum serta HAM itu jangan-jangan sudah tercapai. Refleksi Pak Pradjarta pada ulang tahun Percik yang ke-10 tahun 2009 itu, “Nandur Pari Jero” diam-diam tanpa terasa sudah dipanen hasilnya.

Kampung Limasan Tonjong, 5 Desember 2022.

(Editor: Dicky Rachmawan)

Sumber gambar: Dokumentasi Penulis

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________ 

Tentang Penulis

Riwanto Tirtosudarmo belajar psikologi di Fakultas Psikologi UI. Setelah lulus, bekerja di Leknas LIPI, dan melanjukan studi Pascasarjana di Research School of Social Sciences Australian National University dan mendapatkan master dan doctor dalam bidang demografi sosial. Penulis dapat dihubungi melalui tirtosudarmo@yahoo.com