[Masyarakat & Budaya, Vol. 26, No. 17, Agustus 2022]

oleh Hasna Alya*, Muthia Zahri*, Retno Larasati*, dan Prof. Widjajanti M. Santoso**

(*Mahasiswa Sarjana Arkeologi di Universitas Indonesia; **Peneliti senior bidang Sosiologi, Gender, dan Media PMB-BRIN)

 

Seni pertunjukan adalah cabang kesenian yang melibatkan perancang, pekerja teknis, dan penampil yang mengolah, mewujudkan, dan menyampaikan suatu gagasan kepada penonton; baik dalam bentuk lisan, musik, tata rupa, ekspresi dan gerakan tubuh, atau tarian; yang terjadi secara langsung di dalam ruang dan waktu yang sama, di sini dan kini (Kemenparekraf, 2014). Beberapa kesenian merupakan warisan budaya tak benda, maka menurut UNESCO perlu dilakukan safeguarding atau tindakan pelestarian budaya tak benda, salah satunya melalui dokumentasi. Di Nusantara, safeguarding yang berkaitan dengan aktivitas seni Jawa Kuno terdapat pada beberapa prasasti masa Jawa Kuno dan Relief karmawibhangga Candi Borobudur. Bukti tertulis masa Jawa Kuno mencatat beberapa aktivitas kesenian yang ditandai dengan istilah menmen. Secara visual, pada Relief Karmawibhangga menampilkan kegiatan masyarakat pada masa lalu termasuk kegiatan kesenian.

Menurut Zoetmulder (1982), istilah menmen berarti penghibur dengan pertunjukan seni. Dalam bahasa Jawa Kuno, terdapat kata ‘amen’ yang berarti ‘menghibur’; menmen = penghibur dengan pertunjukan seni (Zoetmulder, 1982 dalam Haryono, 2006: 15). Penelitian yang menyinggung menmen pernah ditulis pada disertasi milik Titi Surti Nastiti yang berjudul “Peranan Pasar di Jawa pada Masa Mataram Kuna (Abad VIII – XI Masehi)” tahun 1995. Beliau menyinggung bahwa menmen berada di keramaian seperti pasar.

Tulisan ini mencoba memaparkan kegiatan menmen melalui analisis kehidupan sosial budaya mereka berdasarkan prasasti dan relief dengan menggunakan metode arkeologi.

Menmen dalam Catatan Prasasti dan Relief Karmawibhangga

Masa Jawa Kuno dikenal dengan berkembangnya kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Pulau Jawa. Pada masa itu, kehidupan sosial-budaya tidak jauh berbeda dari masa sekarang, salah satunya dalam berkesenian. Pada masa Jawa Kuno, seni yang berkembang, di antaranya seni rupa hingga seni pertunjukan. Sayangnya, seni pertunjukan masa Jawa Kuno sekiranya sulit dibayangkan pada masa sekarang. Namun dengan adanya bukti arkeologis, baik prasasti maupun relief yang terukir, kita dapat melihat gambaran mengenai hal tersebut. Salah satu bentuk seni pertunjukan yang tercatat maupun terlihat ialah menmen. Dalam beberapa bukti arkeologis seperti prasasti masa Jawa Kuno dan relief Karmawibhangga, menmen hadir sebagai sebuah seni pertunjukkan yang menghibur masyarakat pada masa itu.

Menurut Boechari (1977), prasasti adalah sumber-sumber sejarah masa lampau yang ditulis di atas batuan atau logam. Istilah menmen di masa Jawa Kuno merupakan sesuatu yang mudah ditemui dalam kehidupan bermasyarakat. Hal tersebut dibuktikan dengan beberapa temuan prasasti masa Jawa Kuno dengan istilah menmen di dalamnya, antara lain Prasasti Poh (905 M), Prasasti Tajigunung (910 M), Prasasti Jrujru (930 M), Prasasti Pupus (1101 M), dan Prasasti Panumbangan (1140 M). Dituliskan dalam Prasasti Poh (905 M),  terdapat seni pertunjukan keliling yang dilakukan oleh tiga orang gadis dan ditemani dua pengiringnya. Sedangkan Prasasti Tajigunung (910 M) berisi peresmian Desa Taji menjadi sima dan di sana terselip kata menmen.

Pada Prasasti Jrujru atau Prasasti Singosari IV (930 M) juga menyebutkan istilah menmen yang diikuti oleh istilah kesenian lainnya, seperti matapukan (penari topeng), awayang (memainkan wayang), dan abañol (melawak). Begitupun Prasasti Pupus (1101 M), kata menmen diikuti oleh beberapa istilah lain, seperti apadhi (pemain gamelan), abañol (pelawak), citrakara (pelukis). Pada Prasasti Panumbangan (1140 M), dituliskan adanya pemberian status swatatantra (bebas pajak) kepada warga Desa Panumbangan (Kuswanto, 2001: 49). Pada prasasti Panumbangan menyebutkan juga bahwa para duwan di daerah Panumbangan memiliki hak untuk beberapa hal termasuk memanggil menmen untuk memberi pertunjukan yang menghibur untuknya (Rahmawati, 2002: 84).

Visualisasi kehidupan masyarakat Jawa Kuno juga terdapat pada Relief Karmawibhangga yang dipahatkan di bagian kaki Candi Borobudur. Relief Karmawibhangga memiliki 160 panil yang memuat ajaran karma, seperti hukum sebab akibat serta perbuatan baik dan buruk. Dari 160 panil, terdapat enam panil yang berhubungan dengan kesenian masa Jawa Kuno, diantaranya panil O-1, O-39, O-52, O-53, O-72, dan O-117.

Gambar 1. Panil O-1 (Sumber: Santiko dan Nugrahani, 2012)

Gambar 2. Panil O-39 (Sumber: Santiko dan Nugrahani, 2012)

Panil O-1 menggambarkan seorang pemukul gendang berbentuk silinder pada suasana pasar yang ramai. Panil O-39 menggambarkan pemusik jalanan memainkan alat musik tiup dan penari berpenampilan sederhana menggunakan kain di pinggang hingga kaki bagian atas. Mereka disaksikan oleh sepasang orang kaya yang berpenampilan mewah.

Gambar 3. Panil O-52 (Sumber: Santiko dan Nugrahani, 2012)

Gambar 4. Panil O-53 (Sumber: Santiko dan Nugrahani, 2012)

Panil O-52 menggambarkan sekelompok bangsawan dan rakyat biasa sedang menyaksikan akrobat diiringi musik dan tarian. Sekelompok bangsawan menggunakan perhiasan, sementara rakyat berpenampilan sederhana dan duduk di tempat yang rendah. Panil O-53 bagian kiri memperlihatkan kegiatan seni oleh tujuh laki-laki berpenampilan sederhana yang melakukan pertunjukan musik dan tari. Dua diantaranya penari yang membawa tongkat, diiringi seorang pemusik dengan alat musik tiup. Mereka ditonton oleh bangsawan yang berpenampilan mewah.

Gambar 5. Panil O-72 (Sumber: Santiko dan Nugrahani, 2012)

Gambar 6. Panil O-117 (Sumber: Santiko dan Nugrahani, 2012)

Panil O-72 menggambarkan seorang wanita yang menari di atas pentas yang cukup tinggi. Ia mengenakan kalung, tali kasta, gelang tangan, seutas kain yang dililitkan di pinggangnya yang menjulur sampai kaki, dan gelang kaki. Di bagian tengah, digambarkan dua wanita membawa simbal mangkok untuk mengiringi tarian dan di bawahnya duduk seorang lelaki pemukul gendang (Kusumastuti, 1981: 16). Panil O-117 salah satu adegannya menggambarkan dua laki-laki berpakaian kain pendek sebatas lutut yang dililitkan di pinggang terlihat seperti sedang mengamen, seorang diantaranya memainkan alat musik tiup dan seorang lagi seperti menabuh alat musik pukul.

Data arkeologis menunjukkan menurut tempat pertunjukannya, menmen melakukan aktivitas seni pertunjukannya di tempat umum dan di lingkungan bangsawan. Menmen selalu digambarkan melakukan aktivitas seninya secara beramai-ramai. Pakaian untuk menmen laki-laki berupa kain yang dililit sebatas paha dan rambut yang dicepol. Untuk menmen perempuan, menggunakan kain sebatas paha yang dililit di bagian pinggang, selendang, gelang kaki, gelang tangan, kalung, dan rambut berkonde. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, dapat dikatakan bahwa menmen dikategorikan dalam kelas sosial rendah.

 

Penutup

Secara umum, kegiatan menmen masa Jawa Kuno yang terekam dalam prasasti dan Relief Karmawibhangga dapat berupa bermain musik, menyanyi, dan menari. Namun, biasanya aktivitas menmen disertai kesenian lain yang bersifat hiburan, seperti melawak dan memainkan wayang. Adapun terdapat beberapa kategori pentas untuk menmen, seperti di pasar, rumah ke rumah, serta tempat bangsawan atau orang kaya untuk menghibur dirinya secara pribadi. Sementara itu, kelas sosial mereka dapat dikatakan sebagai masyarakat kalangan biasa. Terlepas dari itu, aktivitas menmen tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial-budaya masyarakat Jawa Kuno. Mereka berperan sebagai penghibur yang pertunjukannya dapat dinikmati oleh berbagai kalangan (Editor: Hidayatullah Rabbani).

Referensi

Abdullah, Taufik dan A. B. Lapian. (2012). Indonesia dalam Arus Sejarah. Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve.

Becker, Judith. (1975). “Kroncong: Indonesian Popular Music” in Asian Music, Vol.7, No.1. Southeast Asia Issue, University of Texas Press, pp.14-19. http://www. jstor.org/stable/83.

Bennett, Elizabeth dan McKay, George. (2019). From Brass Bands to Buskers: Street Music in the UK. Norwich: Arts and Humanities Research Council University of East Anglia.

Boechari. (2012). Melacak Sejarah Kuno Indonesia Lewat Prasasti. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Fearon, J. D. (1999). What Is Identity (As We Now Use the Word)? California: Stanford University.

Haryono, Timbul. (2006). Sejarah Seni Pertunjukan dalam Perspektif Arkeologi. Makalah disampaikan pada “Diskusi Sejarah Seni Pertunjukan dan Pembangunan Bangsa”. Yogyakarta: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia. (2014). Ekonomi Kreatif: Rencana Aksi Jangka Menengah 2015- 2019. Jakarta: Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Krisna, Aditya. (2018). Prasasti Pupus 822 Saka: Sebuah Kajian Epigrafis. Depok: Universitas Indonesia.

Nastiti, T.S. (1995). Peranan Pasar di Jawa Pada Masa Mataram Kuna (Abad VIII – XI Masehi). Disertasi. Depok: Universitas Indonesia.

Rahmawati, N. (2002). Hak-Hak Istimewa dalam Prasasti Sima Masa Kadiri. Skripsi. Depok: Universitas Indonesia.

Santiko, H. dan Nugrahani. (2012). Adegan dan Ajaran Hukum Karma pada Relief Karmawibhangga. Yogyakarta: Balai Konservasi Borobudur.

Sukendar, Haris (1999) Metode Penelitian Arkeologi. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Susanti Tedjowasono, N. . (2019). RELASI KUASA PADA MASA JAWA KUNO (ABAD KE-8-15). Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat, 2(1), 25-35. https://doi.org/10.24164/prosiding18/03.

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis

Hasna Alya adalah mahasiswa sarjana Arkeologi di Universitas Indonesia. Sejak semester empat, Hasna tertarik untuk mendalami penulisan artikel ilmiah dan telah mengikuti dua event besar penulisan artikel ilmiah. Dua event tersebut yaitu pemakalah dalam Seminar Nasional Arkeologi 2021 dengan judul “Digitalisasi Prasasti Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Dalam Rangka Pengenalan Warisan Budaya Kepada Generasi Muda“ dan Juara I LKTI Nasional 2021 di UGM dengan judul paper “Menumbuhkan Kesadaran Bela Negara di Era Post-Truth (Studi Kasus pada Suara Mahasiswa UI)”. Saat ini Hasna menerima Beasiswa Indonesian International Student Mobility Award 2022 sehingga ia akan menempuh semester tujuh di Humboldt-Universität zu Berlin, Jerman. Hasna dapat dihubungi melalui surel: hasna.alya@ui.ac.id.

Retno Larasati adalah mahasiswa sarjana Arkeologi di Universitas Indonesia. Retno memiliki ketertarikan dalam bidang sejarah, seni, dan budaya. Dalam kegiatan mahasiswa, ia pernah aktif sebagai pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa FIB UI dan Keluarga Mahasiswa Arkeologi FIB UI. Selain itu, ia pernah menjadi pemakalah dalam Seminar Nasional Arkeologi 2021 dengan judul “Digitalisasi Prasasti Sebagai Media Pembelajaran Interaktif Dalam Rangka Pengenalan Warisan Budaya Kepada Generasi Muda“. Retno dapat dihubungi melalui surel: retnolrsti24@gmail.com.

Muthia Zahri adalah mahasiswa sarjana Arkeologi di Universitas Indonesia. Memiliki ketertarikan pada seni, budaya, dan teknologi. Saat ini sedang mendalami dunia industri kreatif sebagai digital illustrator. Sebelumnya ia telah banyak mengerjakan digital creative project seperti poster design, logo, UI/UX design, dan perancangan karakter gim. Muthia dapat dihubungi melalui surel: muthia.zahri@ui.ac.id.

 

Prof. (r). Widjajanti M. Santoso adalah peneliti senior PMB BRIN sekaligus sosiolog yang banyak mengkaji tentang isu gender dan media. Prof. Widjajanti juga merupakan pengajar tidak tetap di Pusat Studi Kajian Gender – SKSG Universitas Indonesia dan pemimpin dewan redaksi Jurnal Masyarakat dan Budaya BRIN.