oleh Ubaidillah, Widjajanti M. Santoso, Rusydan Fathy, Jalu Lintang Yogiswara Anuraga, dan Annisa Meutia Ratri (Tim Redaktur Jurnal Masyarakat dan Budaya PMB BRIN)

Jurnal Masyarakat dan Budaya atau lebih dikenal JMB (saat ini JMB terakreditasi sebagai Jurnal Nasional terkategori Sinta 2) yang dikelola oleh Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PMB BRIN) kini sudah berkiprah selama dua puluh lima tahun. JMB berperan dalam diseminasi pengetahuan di bidang sosial dan humaniora yang sejak tahun 1997-2021 telah menerbitkan 428 artikel dalam 23 volume. Jumlah tersebut terdiri 382 artikel riset, 17 tinjauan buku, dan 29 merupakan artikel editorial. JMB berubah sesuai zaman, bentuk, warna sampul, termasuk digitalisasi melalui sistem OJS, dan dikelola dalam kerjasama teknisi administrasi, IT maupun oleh peneliti. JMB saat ini berada di dalam pengelolaan RMPI-BRIN dan berada di antara kepentingan nasional dengan dorongan untuk Scopus yang berarti mengganti penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris. Sehingga timbul pertanyaan yang berkaitan dengan keinginan internasionalisasi bahasa Indonesia dan “keharusan” berbahasa Inggris dalam konteks mampukah akademisi Indonesia eksis dengan dirinya sendiri. Perubahan ini menjadi semakin penting di dalam imajinasi restrukturisasi BRIN dan perbaikan ekosistem riset di Indonesia.

Dalam diskusi tentang ekosistem riset di Indonesia, sepak terjang JMB dalam mendukung produksi ilmu pengetahuan di Indonesia menjadi penting untuk direfleksikan. Untuk itu, tulisan ini bermaksud untuk mendiskusikan gambaran Indonesia yang tercermin dalam tulisan dan proses produksi pengetahuan yang berlangsung di JMB. Diskusi ini menitikberatkan pada konteks makro kondisi politik dan pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran di Indonesia sehingga konteks mikro berupa kajian yang mempengaruhi penerbitan di Jurnal Masyarakat dan Budaya.

JMB berdiri tidak dalam ruang hampa melainkan hadir di tengah kompleksitas sosial dan politik di Indonesia. Ketika JMB berdiri, Indonesia sedang bergejolak. Peralihan Orde Baru menuju Orde Reformasi yang setelahnya, menunjukkan perubahan penanda kecenderungan berpikir. Orde Baru yang modern-strukturalis mengomposisi Indonesia secara sentralistik dimana peran agensi umumnya dipegang oleh negara. Bertolak belakang dengan pemikiran Orde Baru terdapat perubahan pola berpikir di era Reformasi dimana pemikiran bercorak posmodernis semakin tumbuh. Ide-ide seperti pluralisme, desentralisasi, atau inklusif memenuhi karya-karya akademik. Era Reformasi adalah bentuk destrukturalisme dari Orde Baru yang memberi penghargaan atas subjek (periksa, Dhakidae, 2009). Konteks sosial, budaya, dan politik tersebut mempengaruhi topik-topik dalam JMB. Berdasarkan studi analisis melalui Netlytic dari 206 judul artikel yang diterbitkan, JMB telah menjadi medium diseminasi tulisan ilmiah terkait persoalan di tingkat lokal maupun nasional, seperti isu yang terlihat pada Gambar 1 dan Grafik 1.

Gambar 1. Awan 30 Kata teratas Judul Artikel JMB

Dari 30 kata teratas tersebut dapat kembali disarikan menjadi 10 kata. Kita dapat melihat kata kabupaten, desa, dan adat masuk dalam daftar tersebut. Dari tampilan data ini setidaknya dapat diikhtisarkan bahwa:

  • Jurnal Masyarakat dan Budaya menjadi medium diseminasi tulisan ilmiah mengenai persoalan di tingkat lokal atau komunitas yang bersifat studi kasus.
  • Jawa masih menjadi lokus yang paling banyak diteliti.
  • Komunitas adat, nelayan, agama, dan perempuan menempati posisi signifikan untuk dibahas.

JMB memang ditujukan untuk memperbincangkan sesuatu, kajian, perkembangan yang berkaitan dengan Indonesia, baik dalam komunitas maupun di dalam perkembangan teori dan metodologi. Pada table di bawah ini terefleksi situasi sosial masyarakat Indonesia menjadi studi dengan kasus yang diperoleh dari perubahan di tingkat kabupaten. Perubahan sosial menjadi scopus yang juga dikaitkan dengan konteks mikro seperti adat serta perkembangan kebijakan dan politik yang terjadi. JMB menghadirkan potret perubahan yang ditangkap oleh para penulisnya.

Grafik 1. 10 Kata Teratas Artikel JMB (Data diolah dengan sampel 206 judul artikel)

Corak studi kasus mengenai komunitas adat, agama, nelayan, maupun gender menempati posisi signifikan sebagai topik yang diangkat oleh JMB. Keindonesiaan berkembang dengan menyelimuti kesukuan dan keagamaan. Subjek-subjek minoritas didiskusikan keberadaan, dalam problematika, dan daya hidupnya, misalnya perbincangan mengenai identitas partikular terasumsi mengundang segregasi kelompok.

Lanskap politik yang mulai terbuka memberikan corak kehidupan yang berbeda. Konsumsi budaya transnasional begitu terasa di Indonesia. Ini berbeda dari apa yang dialami komunitas Tiong Hoa yang dikisahkan Aimee Dawis (2010) dalam buku ‘Orang Indonesia Tionghoa: mencari identitas‘ secara sembunyi menonton film-film dari negeri Tirai Bambu sambil membayangkan tanah leluhurnya. Budaya populer dari Amerika, Jepang, atau Korea hadir instan berkat perkembangan teknologi. Disrupsi dan perkembangan teknologi informasi memiliki perjalanannya sendiri dan menurut Merlina Lim menghasilkan ‘moral panic’ (2013).

Selain itu, JMB berupaya menjadi ruang aman dalam perdebatan ilmiah. Destrukturalisme yang berlanjut ke tingkat subtil sampai menyentuh hal-hal tabuh, seperti dekomposisi gender. Pagar metodologi mengamankannya dari censorship di tengah Indonesia yang mengalami conservative turn ini.

Keanekaragaman masyarakat dan budaya Indonesia tidak hanya tergambar dari sebaran objek tulisan yang diterbitkan JMB, melainkan juga pada keragaman penulis dan pembaca.  Naskah yang masuk ke redaksi semakin baik dan bermutu, dengan jumlah yang terus meningkat, sebagaimana diperlihatkan oleh tingginya akses terhadap JMB.

Gambar 2. Statistik Pengunjung JMB

Mereka yang mengakses JMB juga berasal dari luar Indonesia, dengan tema utama seperti nelayan. Hal ini dipengaruhi oleh tema atau isu penelitian yang dikembangkan oleh PMB BRIN dimana JMB juga mendorong tim peneliti yang ada di PMB BRIN untuk masuk ke dalam jurnal sebagai akuntabilitas penelitian yang dilaksanakan di PMB. Afiliasi penulis JMB masih terkonsentrasi dari wilayah Indonesia barat, terutama Jawa. Kami coba menghitung sepanjang 2018-2021 sebanyak 92 dari total 124 penulis berasal dari afiliasi yang berlokasi di pulau Jawa. Hal demikian menyisakan dua kemungkinan. Penulis dari wilayah Indonesia Barat menulis tentang entitas masyarakat atau budaya di wilayah lain atau anggota masyarakat dan budaya dari wilayah Tengah atau Timur tengah menempuh pendidikan di Jawa. Gambaran ini seolah mengkonfirmasi kondisi sosiologis ketimpangan pendidikan yang ada sebagai hasil corak pembangunan masa-masa sebelumnya. Meski secara tematik tidak melulu Jawa yang dibahas.

JMB memandang menulis adalah kegiatan yang penting, sehingga terdapat affirmative action untuk memberikan peluang bagi isu dan penulis yang berasal dari Indonesia Timur. Sebagian bentuk kepedulian ini terlihat pada kegiatan workshop penulisan yang menjamin mutu yang sesuai dengan standar jurnal ilmiah. Pandemi membuat JMB menjadi lebih kreatif dengan memberikan ruang bagi 3 penulis untuk mendiskusikan tulisannya di webinar peluncuran setiap edisinya. Selain itu satu dari tiga outer jurnal diperuntukkan bagi edisi khusus dan menjadi ruang bagi kerja sama dengan pengelola panel di dalam seminar internasional, untuk menjaring isu khusus atau spesial dan juga tulisan dalam bahasa Inggris yang sudah melalui beberapa upaya review.

Pada perjalanannya, JMB menghadapi beberapa tantangan dalam menjalankan perannya untuk mendukung produksi pengetahuan di Indonesia. Salah satunya adalah tantangan menghadapi Scopusisasi atau internasionalisasi jurnal. Belajar dari sejarah, ilmu sosial masa Orde Baru berada dalam belenggu ideologi Pembangunanisme. Ilmu sosial menopang ‘prioritas pembangunan pertumbuhan ekonomi, stabilitas politik, pertambahan kesempatan pendidikan formal, perluasan infrastruktur, dan kerjasama dengan kekuatan kapitalisme global (Heryanto, 2006). Prioritas yang lebih sering menihilkan agensi alternatif, selain pemerintah dan negara. Otoritarianisme Orde Baru bukan saja ditopang oleh kekuatan militer atau pengendalian politik, tetapi oleh ilmu sosial yang tidak memiliki kesiapan otokritik dan self-reflexivity. Ilmu sosial atau ilmu pengetahuan Indonesia secara umum terutama dalam hal penerbitan jurnal seperti kerasukan roh pembangunanisme kembali. Scopusisasi atau internasionalisasi jurnal sudah seperti pembabakan pertumbuhan ekonomi: tradisional, lepas landas atau tinggal landas. Scopusasi diraih dengan menanggalkan prinsip pemberdayaan ilmuwan sosial nasional maupun lokal. Tinggal landas sebenar-benarnya meninggalkan yang seharusnya didampingi kemajuannya. Internasionalisasi seolah mengulang kembali kredo Presiden Soeharto atas pembangunan yang dilakukan namun berdampak negatif bagi sebagian orang dengan pernyataan ‘jer besuki mowo beo’. Mereka yang ditinggalkan atau tertinggal adalah kelompok yang menanggung biaya kemajuan yang diraih.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, JMB tidak menolak sama sekali indeksasi internasional. Bahkan tengah berupaya untuk mencapai itu. Namun, scopus-isme yang membabi buta dan mengabaikan prinsip pemberdayaan lokal dan mengembangkan ekosistem riset nasional yang mandiri. Scopus atau indeksasi internasional hanya menjadi salah satu alternatif pergaulan global saja. Bukan dasar atau orientasi keberadaan JMB dalam ekosistem riset nasional. Posisi JMB sama seperti simpulan Burhani (2020):

“barangkali, yang perlu ditolak adalah Scopus-isme, bukan menggunakan indeks Scopus. Hal yang perlu ditolak adalah pandangan bahwa semua tulisan yang terbit di jurnal terindeks Scopus adalah tulisan yang bermutu. Menolak indeksing secara total akan mengembalikan kita ke zaman purbakala. Kita perlu menolak ajakan taklid buta atau mengambil Scopus secara taken for granted. Akan tetapi, kita tak perlu menolak secara total atau membakar indeksing itu.”

Senada dengan argumen di atas JMB juga tidak sama sekali menolak internasionalisasi. Namun komitmen terhadap keterjangkauan akses pengetahuan yang merata merupakan satu hal yang perlu juga diperhatikan. Sebagaimana sistem rangaku pada awal perkembangan ilmu pengetahuan di Jepang. Rangaku merupakan sebuah sistem dimana pengetahuan barat diadopsi di Jepang dengan cara menterjemahkan berbagai literatur berbahasa asing kedalam bahasa Jepang. Literatur-literatur ini akhirnya dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah dan diakses oleh masyarakat Jepang secara umum yang tidak berbahasa Belanda. Hal ini jika kita refleksikan, pengetahuan justru seharusnya semakin inklusif paling tidak dari segi bahasa sehingga akses atas ilmu pengetahuan untuk orang Indonesia semakin luas, bukan justru sebaliknya. Penataan diglosia di Indonesia dijalinkan dengan relasi hierarki-evolutif tersebut yang dipengaruhi oleh konstruksi sistem pengetahuan Indonesia yang menempatkan sistem pengetahuan dari bahasa Inggris sebagai yang lebih tinggi (Ubaidillah, 2017).

JMB terus melanjutkan komitmennya untuk berperan dalam produksi ilmu pengetahuan di tengah dinamisnya ekspektasi dan perubahan regulasi terkait pengelolaan jurnal. Kolaborasi dan inovasi menjadi kunci. Kolaborasi dan inovasi untuk terus melanjutkan semangat keberagaman dan inklusifitas dalam menggandeng berbagai pihak untuk terus memajukan ilmu pengetahuan sosial di Indonesia. (Editor: Dicky Rachmawan)

 

Referensi

Burhani, Ahmad Najib. 2020. Scopusisme dan Angka Kredit. https://jibpost.id/2020/11/16/scopusisme-dan-angka-kredit/ diakses kembali 26 Agustus 2022.

Dawis, Aimee. 2010. Orang Indonesia Tionghoa: mencari identitas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Dhakidae, Daniel. 2009. Menyapa Prisma yang Datang Lagi. Prisma, vol. 28, hal. 40-43.

Heryanto, Ariel. 2006. State terrorism and political identity in Indonesia: Fatally belonging. New York: Routledge.

Lim, Merlyna. 2013. The Internet and Everyday Life in Indonesia: A New Moral Panic?. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde vol. 169, no. 1, hal. 133-147.

Ubaidillah. 2017. Penggunaan Kata Jamu dan Herbal dan Sistem Pengetahuan Indonesia: Sebuah Kajian Antropologi Teks Politik Indonesia. Metalingua, vol. 15 nomor 2 hal. 205-212.

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis

Ubaidillah adalah peneliti Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya, LIPI yang menekuni kajian budaya, agensi, perubahan sosial yang tercermin dalam bahasa. Secara teoretik, lebih sering menggunakan pendekatan interdisipliner antara analisis wacana, pragmatik, linguistik antropologis, linguistik kognitif, serta sosiolinguistik. Ia menyelesaikan Program S1Sastra Indonesia di Universitas Jenderal Soedirman pada 2013 dan S2 di Program Magister Linguistik Universitas Gadjah Mada pada 2018. Penulis dapat dihubungi via 23ubaid@gmail.com.

Widjajanti M. Santoso adalah sosiolog yang tertarik pada isu gender dan media, kajiannya beragam termasuk Syariah Islam yang dengan fesyen dan kelas sosial. Kegiatan lainnya adalah sebagai pengajar tidak tetap di Pusat Studi Kajian Gender – SKSG Universitas Indonesia, dan ketua dewan redaksi Jurnal Masyarakat dan Budaya, kontaknya adalah widjasantoso@gmail.com

 

Rusydan Fathy adalah peneliti Sosiologi Perkotaan di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI. Fokus kajiannya meliputi isu-isu tentang pembangunan sosial di perkotaan. Untuk korespondensi, Rusydan dapat dihubungi melalui surel: rusydanfathy@gmail.com

 

 

Kajian yang dilakukan berfokus pada isu-isu Identitas, Etnisitas, Budaya. Ia dapat dihubungi melalui email: jalulintang44@gmail.com

 

 

 

 

 

Annisa Meutia Ratri merupakan peneliti di Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI. Annisa tartarik pada penelitian seputar sosiologi maritim dan saat ini tergabung kelompok penelitian ekologi sosial dan kesejahteraan masyarakat. Annisa dapat dikontak melalui annisa.meutia.r@gmail.com.