Home Kolom Khusus Hidup dalam Cengkeraman Raksasa

Hidup dalam Cengkeraman Raksasa

0

[Kolom No.6, 2022]

Oleh Riwanto Tirtosudarmo (Peneliti Sosial Independen)

Dalam wayang kulit Jawa, raksasa di visualisasi dengan sangat bagus dalam sosok grotesque mahluk tinggi besar, mukanya tidak hanya menakutkan tetapi menyeramkan, mulut menyeringai dengan gigi dan taring-taringnya yang besar dan tajam. Namun, imajinasi Orang Jawa tentang raksasa yang divisualisasikan sebagai menyeramkan itu, ternyata melampaui dimensi etisnya. Dengan subtle dan citarasa artistik yang tinggi, raksasa digambarkan oleh Orang Jawa (atau India) tidak dengan sendirinya buruk seperti tampilan sosok luarnya. Dalam epos Ramayana, seperti juga dalam Mahabarata; yang melambangkan pertempuran antara yang baik dan yang buruk, ada tokoh raksasa yang bernama Kumbakarna adik kandung Rahwana raja Alengka. Kumbakarna yang sehari-hari kerjanya hanya makan enak dan tidur seharian itu sejatinya tidak mau berperang membela kakaknya yang dimatanya telah berindak salah dan sewenang-wenang. Dengan rasa enggan Kumbakarna memutuskan maju ke medan perang menghadapi tentara kera yang membela Rama. Kumbakarna berhasil memporak-porandakan serbuan tentara kera tapi harus ambruk perlaya di mata panah Rama yang menghujam di ulu hatinya. Kumbakarna memantulkan ambiguitas dan paradoks hidup, ia mau berperang dan bersedia mati karena itulah kuwajiban kstaria dan warganegara Alengka bukan untuk membela Rahwana kakaknya. Yang kejam dan serakah itu.

Buku yang dalam versi Inggrisnya berjudul Plantation Life: Corporate Occupation in Oil Palm Zone (Duke University Press, 2021), dan yang versi Indonesianya berjudul: Hidup Bersama Raksasa: Manusia dan Pendudukan Perkebunan Sawit (Marjin Kiri, 2022), adalah terobosan (breakthrough) ketika akal sehat dan ilmu pengetahuan ingin dikerangkeng dalam lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian menjadi tukang untuk melayani birokrasi negara. Versi terjemahannya yang cepat diterbitkan tidak saja membantu pembaca Indonesia juga mencerminkan kehendak bahwa bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa ilmu pengetahuan.  Harus diakui selama ini pengalih bahasaan dalam dunia ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang tidak penting. Meskipun Pujo Semedi penulis buku aslinya bersama Tania Li, telah berusaha menterjemahkan sendiri buku itu kedalam bahasa Indonesia, jika ada yang terasa kurang adalah nuansa bahasa akademik dari konsep-konsep yang sesungguhnya tidak selalu mudah dicari padanannya dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh kata political technology yang bagi saya terasa kurang pas diterjemahkan sebagai teknologi politik. Atau kata impunity yang terpaksa juga hanya diganti menjadi impunitas.

Kesan saya, dari penjelasan di apendiks, bisa jadi proses penulisan buku dalam bahasa Inggris dilakukan bersamaan dengan penulisan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Jika benar ini yang dilakukan, ini juga sebuah terobosan karena terjemahannya menjadi sangat akurat. Buku-buku ilmu-ilmu sosial yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh para penterjemah profesional dan menjadi referensi para kandidat doktor dan magister di berbagai perguruan tinggi di Indonesia seringkali tidak hanya melenceng dan membingungkan, tetapi juga dapat memberikan pemahaman yang keliru. Buku-buku terjemahan yang menjadi referensi semacam ini telah lama berlangsung dan tidak pernah kita sadari akibatnya yang buruk bagi perkembangan ilmu-ilmu sosial dan ilmu pengetahuan pada umumnya di Indonesia. Saran saya, selain membaca buku terjemahan bacalah buku aslinya.

Buku ini saya anggap sebagai terobosan disamping karena beberapa alasan yang telah saya kemukan, juga karena beberapa hal lain. Pertama, buku ini merupakan hasil dari kolaborasi yang panjang, hampir dua dekade jika dihitung dari pertemuan pertama Pujo Semedi dan Tania Li tahun 2002, meskipun penelitian lapangannya dilakukan dalam lima tahun, 2010-2015. Kedua, dua orang antropolog dengan latar belakang kebudayaan dan kebangsaan yang berbeda, telah memilih sebuah isu sosial yang memiliki implikasi politik yang tinggi, kehidupan dalam perkebunan kelapa sawit di Sanggau di Kalimantan Barat. Ketiga, menggunakan kombinasi dua pendekatan yang bisa disebut “kiri”, Marxian dan Faucauldian, untuk menjelaskan bekerjanya hubungan-hubungan kekuasaan dalam proses akumulasi modal, tanah dan tenaga kerja yang mencerminkan fenomena penindasan dan ketidakadilan sosial di Indonesia sejak dulu hingga hari ini. Keempat, buku ini jelas tidak mungkin dihasilkan tanpa adanya komitmen, compassion, dedikasi, dan integritas akademik yang tinggi; sesuatu yang semakin langka bisa ditemukan dewasa ini. Kelima, keseluruhan buku ini dikemas dengan format dan isi yang memudahkan pembaca mengikuti argumentasinya.

Proses penulisan buku ini yang dikemukakan oleh kedua penulisnya merupakan kisah tersendiri yang menarik. Keberhasilannya, menunjukkan bahwa sebuah kolaborasi kerja akademik yang melibatkan banyak orang dan institusi dalam waktu yang cukup panjang dalam medan penelitian yang secara fisik tidak mudah, ternyata mungkin dilakukan dan bisa diwujudkan. Sebagai pembaca kita tidak mungkin bisa membayangkan kendala dan kesulitan yang dihadapi dalam perjalanan panjang melahirkan buku ini. Buku ini sesungguhnya sebuah buku yang sangat padat isi karena selain bersumber dari catatan etnografi yang begitu kaya, ditulis dengan mengacu pada buku-buku dan karya baik dari penulis sendiri maupun penulis dan peneliti lain yang saya kira telah dijelajah habis-habisan (exhausted). Setelah bagian pengantar yang memberikan wawasan bagi pembaca tentang perspektif akademik yang dipakai, kelima bab yang menjadi isi buku ditulis dengan strategi mengajukan pertanyaan-pertanyaan apa yang mendasari penulisan setiap bab itu. Strategi penulisan seperti ini sangat membantu pembaca memahami isi buku yang sesungguhnya berat menjadi agak lebih mudah dengan narasi dari kehidupan nyata orang-orang dalam perkebunan kelapa sawit. Foto-foto yang dipilih juga sangat membantu pembaca untuk lebih jelas melihat realitas kehidupan mereka.

Buku ini ditutup dengan sebuah kesimpulan yang sekaligus menjadi semacam defense dan antisipasi yang tidak menjadi apologetic bagi kemungkinan adanya kritik dari akademisi lain tentang berbagai hal yang bisa dilihat sebagai kekurangan dari buku ini.  Bagi saya bagian kesimpulan ini sangat penting, kalau tidak yang terpenting dari keseluruhan buku. Bagian lain yang juga penting adalah apendiks yang tidak seperti biasanya pada buku-buku lain. Buku ini menjadi ruang bagi penulis buku untuk menjelaskan keseluruhan proses yang mereka lakukan. Selain hal-hal yang berkaitan dengan metodologi, dijelaskan juga sumber dana dan lembaga-lembaga yang mendukung penelitian. Ini adalah sebuah kejujuran etis yang sangat penting yang mengungkap ada atau tidaknya agenda atau kepentingan bercokol (vested interest) tertentu dibalik penelitian yang dilakukan. Dalam bagian apendiks ini disebut nama-nama kolega kedua penulis yang ikut terlibat dan menyumbang dalam proses penelitian maupun penulisan buku. Tidak sedikitnya kolega yang ikut membaca dan memberikan feedback pada draft buku membuktikan telah dilakukannya semacam peer review dan quality control terhadap buku ini.

Dua antropolog dengan latar belakang pribadi dan pengalaman yang berbeda berupaya menghasilkan sebuah buku yang cogent dan coherent jelas tidak mudah. Yang menarik adanya perbedaan dari kedua penulisnya itu tidak disembunyikan bahkan justru diungkapkan secara terbuka. Lagi-lagi disini kejujuran etis menjadi penting. Pujo Semedi yang dibuku ini kurang lebih bertolak dari perspektif “native anthropology” bertemu dengan Tania Li yang diungkapkan dalam buku ini sebagai sangat menyadari biasnya sebagai seorang antropolog asing yang biasanya cenderung romantis dan kolonialistis dalam perspektifnya.  Di awal, kedua penulis memulai dengan menunjukkan perbedaan antara keduanya dalam mendeskripsikan pengertian perkebunan (plantation). Jika Pujo Semedi kemudian menemukan metafora raksasa yang diilhami oleh puisi-puisi Rendra dan novel Mangunwijaya, Tania Li melihatnya sebagai “a machine”. Tapi jika kedua metafor itu direkonsiliasi justru akan menjadi menarik, “sebuah mesin raksasa” (a giant machine).  Penerjemahan dari bahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia seperti disinggung dimuka bukanlah tanpa masalah. Misalnya penerjemahan occupation menjadi pendudukan seperti dikomentari Awan Sunito dalam acara bedah buku di IPB tanggal 18 November 2022 yang lalu (https://youtu.be/2WZIMpa7bE8) adalah salah satunya. Awan menilai kata pendudukan kehilangan nuansa dominasi dan penindasan dibandingkan kata occupation. Judul buku “Hidup bersama Raksasa” juga seperti mengandaikan sebuah suasana yang biasa-biasa saja, lumrah; padahal yang ingin diungkapkan adalah proses sosial politik yang kejam dan brutal. Raksasa itu dalam pandangan saya bukan seperti Kumbakarna yang dapat dinilai sebagai raksasa baik, tetapi sebagai Rahwana karena dalam buku ini raksasa itu sungguh-sungguh dengan semena-mena telah mencengkeram kehidupan manusia disekelilingnya.

Dari kelima bab yang menjadi isi dari buku ini bab lima menurut saya menjadi bagian yang sangat krusial karena menjelang akhir dari bab terakhir ini kedua penulis sampai pada pertanyaan mengapa ditengah kritik yang sudah tidak terhitung jumlahnya tentang dampak buruk dari perkebunan sawit, fenomena ini tetap bertahan dan bahkan terus diperluas. Barangkali disinilah kelebihan buku ini dari buku-buku lain yang membahas dampak perkebunan sawit, yaitu digunakannya kombinasi pendekatan ekonomi politik dan teknologi politik. Karena dengan kedua pendekatan ini dapat dikeahui kekuatan-kekuatan apa yang bermain dibalik perluasan perkebunan sawit dan mengapa gelombang kritik gagal menghentikannya.  Membaca bagian ini saya sebenarnya masih bertanya-tanya dengan semacam kesimpulan yang ditarik kedua penulis. Saya kutipkan, kalimat yang bagi saya menyisakan rasa penasaran itu:

“Mereka tidak dibiarkan gagal karena mereka menghasilkan keuntungan bagi bank dan perusahaan dan mendistribusikan banyak uang ke jaringan luas. Meskipun selama beberapa dekade terus mendapat kritik, perkebunan tetap utuh dan malah bertambah luas. Mereka memiliki beberapa kelemahan – bisa dibilang mereka adalah kaisar tanpa pakaian – tetapi tidak jelas kekuatan apa yang dapat mengguncang mereka. Semuanya seperti bakal abadi, sejauh ini” (halaman 310, versi Indonesia).

Bagi saya ada sesuatu yang terasa menggantung dan seperti ada penjelasan dari bagian ini yang belum tuntas.

Meskipun tidak dekat saya mengenal kedua penulis buku. Saya sudah mengenal Tania Li disekitar pertengahan tahun 1990an di Jakarta. Saat itu dia mengunjungi kamar kerja saya di Lt 10 Gedung Widya-Graha LIPI. Saat itu dia sedang mengumpulkan tulisan untuk dijadikan buku. Tania menawari jika saya bisa menulis sebuah bab tentang transmigrasi untuk rencana bukunya itu. Kalau saya ingat peristiwa itu, betapa menyesal saya tidak kemudian singguh-sungguh menulis untuk bukunya. Buku kumpulan tulisan yang diedit Tania Li itu kemudian terbit tahun 1999 dengan judul Transforming the Indonesian Uplands: Marginality, Power and Production (Routledge). Mungkin itu buku pertamanya sebelum kemudian sangat produktif menerbitkan buku dan artikel-artikelnya.  Setelah lama tidak bertemu saya bertemu lagi dalam sebuah konferensi di Jogya tahun 2015-an yang tuan rumahnya Mas Pujo Semedi. Dalam kesempatan ngobrol berdua saya kemukakan ide saya tentang masyarakat pinggiran. Tania Li kemudian mengatakan bahwa tidak ada “pinggiran” tanpa adanya “pusat” yang meminggirkan. Sebuah komentar pendek yang membuka perspektif baru bagi saya. Sebagai antropolog Tania Li lama melakukan penelitian di Sulawesi Tengah. Tania tidak segan membagi tulisan-tulisan, jika saya membutuhkannya.

Pertemuan saya dengan Mas Pujo Semedi kalau tidak salah ingat terjadi sekitar tahun 2010-an ketika kami bersama sejumlah kolega ilmuwan Indonesia diundang Dr. Hui Yew-Foong dari ISEAS untuk menjajagi kemungkinan membuat sebuah jurnal ilmu-ilmu sosial bagi para ilmuwan sosial Indonesia agar meningkat kontribusinya dalam jagad ilmu-ilmu sosial dunia. Dalam pertemuan yang akhirnya tidak menghasilkan apa-apa karena rendahnya komitmen ilmuwan sosial Indonesia dalam merealisasikan tujuan pertemuan itu, Mas Pujo saat kami bersama mengambil makan, tiba-tiba setengah berbisik berkata “Mas Riwanto ngisi kuliah ya di program S2 antropologi“. Setengah terkejut saya bertanya “ngisi kuliah apa?“. Mas Pujo menjawab sambil tersenyum “kuliah apa saja, pasti bagus“. Rupanya saat itu dia menjadi dekan FIB UGM jadi punya kekuasaan untuk menempatkan saya sebagai pengajar tamu di program S2 antropologi UGM. Sejak itu saya bolak-balik ke Jogya mengajar mata kuliah pilihan Migrasi, etnisitas dan politik selama kurang lebih hampir dua tahun. Sejak itu saya lama tidak berkomunikasi dengan Mas Pujo, orang yang tidak mau memakai HP, meskipun komunikasi dengan dia tidak sulit karena dia cepat membalas email. Setahu saya Pujo Semedi mengawali karirnya sebagai antropolog dengan meneliti isu seputar perkebunan di kampung halamannya di Pekalongan.

Dalam sebuah esai yang saya tulis beberapa waktu lalu tentang Widjojo Nitisastro, arsitek strategi pembangunan ekonomi Orde-Baru (http://m.kajanglako.com/id-11070-post-widjojo-nitisastro.html), saya menutup esai itu sebagai berikut:

Legacy Widjojo Nitisastro sejak dia mengubah strategi pembangunan dengan mantra pertumbuhan ekonomi bisa dirasakan sampai sekarang.  Keberhasilannya menurunkan angka kemiskinan adalah sebuah fakta yang tidak bisa dibantah, namun juga merupakan fakta yang tak terbantahkan bahwa kesenjangan ekonomi selama 50 tahun meningkat dengan tajam. Kalau kita memang bangsa yang cerdas, ketika saat ini pandemi sudah pasti mengakibatkan krisis ekonomi; inilah kesempatan yang tepat untuk meninjau ulang ideologi-kerja ala Widjojo Nitisastro. Kalau mau jujur, ideologi-kerja ala Widjojo Nitisastro inilah sesungguhnya yang diam-diam telah menjadi haluan negara dan melandasi setiap RUU, UU dan berbagai kebijakan pemerintah, dimana pertumbuhan ekonomi menjadi pertimbangan utama bukan keadilan sosial.

Mengapa saya mengutip kembali refleksi tentang Widjojo, karena dalam satu dekade terakhir ini pertumbuhan dan investasi semakin menjadi panglima pembangunan kita, menjadikan keadilan semakin sayup di mata kita. Dua guru besar antropologi asal Kanada dan Indonesia, Tania Li dan Pujo Semedi yang mengupas dengan jelas melalui uraiannya dalam bukunya tentang kehidupan orang-orang dan komuniitas dalam perkebunan kelapa sawit ibarat hidup dalam cenkeraman raksasa. Mereka menegaskan betapa akut dan masih jauhnya keadilan sosial yang menjadi cita-cita proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia. Buku ini telah menggambarkan dan menarasikan dengan baik wajah ketimpangan sosial yang sesungguhnya telah lama dialami warganegara Indonesia. Sebuah ketimpangan yang oleh buku ini juga dibuktikan sebagai fenomena yang tidak berdiri sendiri. Ketimpangan itu tidak hanya hasil dan bagian dari sejarah domestik Indonesia, namun telah sejak lama berpilin dan berkelindan dengan sejarah dan dinamika yang bersifat global – globalisasi. Sebagai akademisi tugas mereka bisa dikatakan selesai setelah menghasilkan buku. Namun sebagai intelektual tugas mereka, dan kita semua yang merasa masih memiliki integritas akademik dan komitmen sosial, belum selesai. Karena seperti kata Karl Marx, setelah menganalisis tugas yang lebih penting adalah mengubah keadaan.

Malang, 20 November 2022

(Editor: Dicky Rachmawan)

Sumber gambar Sampul: Dokumentasi Penulis

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________ 

Tentang Penulis

Riwanto Tirtosudarmo belajar psikologi di Fakultas Psikologi UI. Setelah lulus, bekerja di Leknas LIPI, dan melanjukan studi Pascasarjana di Research School of Social Sciences Australian National University dan mendapatkan master dan doctor dalam bidang demografi sosial. Penulis dapat dihubungi melalui tirtosudarmo@yahoo.com

NO COMMENTS

Exit mobile version