[Masyarakat & Budaya, Vol. 26, No. 15, Agustus 2022]

oleh Syarfina Mahya Nadila (Peneliti dibidang Sosiologi di Direktorat Kebijakan Ekonomi, Ketenagakerjaan dan Pengembangan Regional BRIN)

Generasi Z adalah generasi dengan proporsi penduduk terbanyak berdasarkan sensus penduduk 2020, yaitu 27,94% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia (BPS, 2021). Mereka yang termasuk dalam generasi ini adalah mereka yang lahir di rentang tahun 1997-2012 atau usia 10-25 tahun (BPS, 2021). Generasi Z terbagi ke dalam dua kelompok yaitu mereka yang masih bersekolah dan mereka yang mulai menapaki karir di dunia kerja. Generasi Z adalah tenaga kerja baru di dunia kerja yang sebelumnya didominasi oleh Generasi Milenial, Generasi X dan sebagian Baby Boomers.

Dalam survei yang dilakukan oleh Harris Poll menunjukan bahwa Generasi Z adalah generasi yang kreatif dan mereka adalah digital native (Pineda, 2020). Mereka adalah generasi yang tumbuh kembangnya bersamaan dengan perkembangan teknologi digital. Hal ini membuat generasi ini tidak dapat dilepaskan dengan teknologi digital. Meskipun begitu, dalam survei lain yang dilakukan oleh Randstad menunjukan bahwa karyawan yang berusia 18 sampai 24 tahun, yang merupakan rentang usía generasi Z, sebagian besar lebih memilih untuk berhenti bekerja daripada tidak bahagia (Kim, 2022).

Berlatar belakang hal-hal menarik ini, Saya mencoba melakukan poling cepat dan singkat melalui aplikasi InstagramInstagram Story. Polling cepat ini hanya berlangsung selama 24 jam saja. Dalam Instagram Story tersebut Saya menanyakan “Apa yang terpikirkan saat mendengar kata Generasi Z?” beberapa orang merespon Instagram Story Saya. Adapun tanggapan mereka tentang Generasi Z adalah Hitech dan dinamis sekali, kreatif, out of the box, kekinian, dan si Paling Healing. Hal yang menarik warganet yang memberikan respon “Si Paling Healing” masuk ke dalam kelompok usia Generasi Z sedangkan tanggapan lainnya diberikan oleh Generasi Milenial.

 

Si Paling Healing”

Berdasarkan hasil polling cepat tersebut, Saya pun melakukan wawancara dengan tiga orang informan generasi Z untuk mengetahui sudut pandang mereka tentang pandangan-pandangan generasi Z yang ada di masyarakat. Tiga orang informan ini merupakan usia paling senior dalam kelompok usia generasi Z, yakni kelahiran tahun 1997 dan 1998. Saat ini mereka bekerja di perusahaan swasta. Mereka mengetahui bahwa mereka kerap dicap sebagai generasi manja, lemah, dan rapuh oleh generasi-generasi yang lebih senior. Sebenarnya, mereka pun merasakan dan mengakui juga bahwa mereka atau teman-teman di lingkungannya memiliki sifat yang manja, lemah, dan rapuh.

Menurut mereka, hal ini terjadi karena saat ini mereka sedang masuk ke dalam fase usia krisis seperempat abad (quarter life crisis). Fase ini umumnya terjadi pada mereka yang memasuki awal usia 20-an sampai memasuki usia 30-an (Kirnandita, 2019). Ini adalah fase kecemasan akan masa depan dan mulai mempertanyakan kembali pilihan hidupnya (Safriyantini, 2020). Fase di mana mereka memulai kehidupan baru mereka dengan penuh tanggung jawab dan kemandirian. Fase  di mana mereka sedang memulai kehidupan karir dan berkeluarga. Masa-masa ini memberikan tekanan lebih pada kehidupan mereka.

Meskipun begitu, salah satu informan dari generasi Z ini melihat bahwa terdapat gradasi dalam sikap manja dan lemah ini. Menurutnya, generasi Z yang terlahir di awal  tahun 2000-an jauh lebih lemah dan manja dari generasi Z yang lahir di akhir tahun 90-an. Beberapa dari mereka juga mengatakan bahwa mereka merasa lebih tertekan dengan adanya konten-konten di media sosial yang berhubungan dengan orang-orang yang sukses di usia yang masih sangat muda. Kondisi inilah yang membuat mereka merasa mudah tertekan secara psikologis sehingga menjadikan mereka merasa insecure dan tidak berdaya yang berujung pada mekanisme yang mereka sebut dengan healing.

Healing dalam ilmu psikologi berarti penyembuhan atau pemulihan secara general. Healing bisa dilakukan sendiri oleh individu atau dibantu professional (Dewi, 2022). Terminologi inilah yang digunakan oleh generasi Z untuk mengambarkan cara mereka keluar dari tekanan yang mereka rasakan. Menurut salah satu informan perempuan yang bekerja sebagai karyawan swasta, Dia memiliki  mekanisme healing dengan mengambil cuti setelah melakukan pekerjaan berat.

 

Si Pembawa Perubahan

Walaupun mereka dicap sebagai generasi yang lemah dan manja, di dunia kerja, mereka adalah tenaga kerja baru yang paling segar. Terlahir dan tumbuh bersama dengan teknologi digital menjadikan mereka sebagai generasi yang sejatinya lebih “melek teknologi” dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Mereka juga adalah generasi yang dinamis, kretif, dan selalu berpikir “out of the box”. Kriteria tersebut diberikan oleh generasi milenial yang ikut serta dalam polling di instagram dan juga merupakan hasil survei yang dilakukan oleh Harris Poll (Pineda, 2020).

Hal ini pun juga diungkapkan oleh informan generasi Z yang lain. Mereka merasa di tempat kerja sebagai pekerja yang sering menciptakan cara-cara kerja baru yang tidak biasa. Para informan ini menerangkan bahwa mereka kurang suka jika harus mengerjakan pekerjaan yang penuh dengan kerumitan sehingga menjadi tidak efektif dan tidak efisien. Bermodalkan kemampuan mereka yang baik dalam menggunakan teknologi digital mereka mampu membuat cara kerja sendiri yang lebih efektif dan efisien ketimbang cara kerja yang telah ada sebelumnya. Kemampuan mereka akan teknologi digital membantu mereka dalam membuat terobosan di tempat kerja mereka.

Hal ini sejalan dengan beberapa karakter dari generasi Z yang mampu menemukan solusi secara mandiri berbekal kemampuan mereka berselancar di Internet (Dewi, 2021). Sikap mereka yang lebih suka mencari cara kerja baru yang lebih efektif tidak terlepas dari karekteristik mereka yang berani mengambil inisiatif (Anjani, 2021). Mereka juga dapat melakukan beberapa pekerjaan dalam satu waktu (multitasking) dan mereka juga dikenal sebagai penggagas, penemu cara baru, atau entrepeneur dengan argumentasi yang kuat dan keinginan untuk didengar (Astari, 2021)

Kemampuan mereka dalam menciptakan cara kerja yang baru dan berbeda dengan cara kerja yang telah ada sebelumnya di tempat kerja mereka, terkadang membawa friksi dengan atasan mereka yang merupakan generasi senior mereka. Hal ini diungkapkan oleh salah satu informan yang bekerja di sektor swasta. Dia mengungkapkan akan terjadi diskusi yang panjang antara dirinya dengan atasannya terkait cara kerja dan alasan mengapa dia harus menggunakan cara kerja tersebut padahal menurutnya cara kerja yang dia temukan ini lebih efektif dan efisien. Menurut mereka, mereka menyukai pekerjaan yang jelas alasannya mengapa pekerjaan itu harus dilakukan dengan cara tertentu. Jika mereka merasa cara tersebut tidak efektif dan efisien mereka tidak akan segan untuk menyuarakan pendapatnya. Hal ini semata-mata untuk menciptakan cara kerja yang lebih efektif dan efisien di tempat kerja mereka. Persoalan seperti ini akan selesai dengan jalinan komunikasi yang baik dan terbuka antara atasan dan bawahan.

 

Perbedaan Nilai dan Potensi Modal Digital Generasi Z

Pelabelan tertentu diberikan kepada individu ataupun kelompok yang dianggap nilai-nilai dari individu atau kelompok tersebut tidak sama atau keluar dari nilai-nilai yang telah ada sebelumnya. Pemberian label kepada generasi Z oleh generasi senior, dikarenakan nilai-nilai generasi Z cenderung berbeda dengan generasi sebelumnya. Padahal, karakteristik setiap generasi mungkin berbeda karena setiap generasi tumbuh di lingkungan, situasi sosial, budaya, dan ekonomi yang berbeda.

Meskipun dilabeli sebagai “si paling healing”, generasi ini adalah inovator segar yang membawa perubahan baru dalam organisasi. Keberadaannya dapat menjadi agen perubahan menuju industri 5.0. Industri-industri masa depan akan didominasi oleh kecanggihan teknologi digital, seperti metaverse, artificial intelligence, maupun teknologi robot yang semakin canggih, serta digitalisasi teknologi lainnya. Industri masa depan membutuhkan sumber daya manusia yang fasih dengan teknologi digital agar dapat mengkreasikan dan mengoperasikan jenis-jenis pekerjaan digital yang ada. Generasi Z adalah generasi yang terlahir untuk mengisi tenaga kerja di industri-industri masa depan. Untuk itu, keberadaannya adalah modal utama di dalam organisasi untuk terus berkembang agar dapat bersaing di era industri 4.0 yang mengarah ke industri 5.0. (Editor: Rusydan Fathy)

 

Referensi:

Anjani, Rahmi. (2021). Gen Z Mulai Masuk Industri Kerja, Ini yang Ditakuti Para Bos Milenial. https://wolipop.detik.com/worklife/d-5792387/gen-z-mulai-masuk-industri-kerja-ini-yang-ditakuti-para-bos-milenial

Astari, Cynthia. 2021. Perbedaan Antara Milenial dan Generasi Z di Dunia Kerja. https://talentics.id/blog/talentics/people-analytics/perbedaan-antara-milenial-dan-generasi-z-di-dunia-kerja.

Badan Pusat Statistik (BPS). (2021). Hasil Sensus Penduduk 2020. Jakarta: Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/website/materi_eng/materiBrsEng-20210121151046.pdf

Dewi, Nur Rosita. 2021. 4 Tips bekerja dengan generasi Z yang perlu Manajer tahu. https://www.ekrut.com/media/tips-bekerja-dengan-generasi-z

Dewi, Retia Kartika. 2022. Ramai Tren “Healing”, Apa Itu? Ini Penjelasan Psikolog. https://www.kompas.com/tren/read/2022/02/06/160000965/ramai-tren-healing-apa-itu-ini-penjelasan-psikolog?page=all

Kim, YeEun. (2022). Gen Z and Millennials Prefer To Be Unemployed Than Be Unhappy at Work. https://www.yahoo.com/entertainment/gen-z-millennials-prefer-unemployed-083121630.html

Kirnandita, Patresia. (2019). Quarter Life Crisis: Kehidupan Dewasa Datang, Krisis pun Menghadang. https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU

Pineda, Khrysgiana. (2020). Generation Create? Gen Z might be the most creative generation yet, poll says. https://www.usatoday.com/story/news/nation/2020/08/18/generation-z-may-most-creative-yet-study-says/5589601002/

Safriyantini, Silmi. 2020. Quarter Life Crisis, Bikin Galau Kalangan Twenties. https://gensindo.sindonews.com/read/14425/700/quarter-life-crisis-bikin-galau-kalangan-twenties-1588370713?showpage=all

 

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis:

Syarfina Mahya Nadila adalah peneliti dibidang Sosiologi di Direktorat Kebijakan Ekonomi, Ketenagakerjaan dan Pengembangan Regional BRIN. Kajian yang dilakukan berfokus pada bidang kebijakan, ketenagakerjaan dan kemiskinan. Ia dapat dikontak melalui email mahya.nadila01@gmail.com.