[Masyarakat & Budaya, Vol. 28, No. 1, 2023]

Riqko Nur Ardi Windayanto (Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada)

Bagi para pembaca, yang terutama tinggal di Jakarta, barangkali pernah membaca dan meminjam buku di Perpustakaan Nasional RI. Tentu Anda dapat meminjamnya secara gratis karena itulah hak warga negara untuk mendapatkan akses ilmu pengetahuan. Taman-taman bacaan juga berkembang di Jakarta, yang kapan saja dapat diakses. Ini adalah gambaran yang terjadi pada saat ini, tetapi fenomena peminjaman bahan bacaan bukanlah hal yang baru. Di Jakarta pada abad ke-19, saat itu bernama Batavia, peminjaman naskah Melayu berlangsung pesat. Usaha persewaan naskah berkembang di sejumlah kampung, di antaranya, di Pecenongan, Kerukut, Kampung Jawa, Peluit, Tambora, Sawah Besar, Tanah Abang, dan sebagainya (Iskandar dalam Chambert-Loir & Kramadibrata (Eds.), 2014).

Tulisan ini secara khusus membahas naskah dan teks yang diproduksi oleh M. Bakir, seorang pengarang dan penyalin yang aktif di Pecenongan. Naskah dan teksnya banyak dibicarakan oleh filolog (pengkaji naskah) atau pengkaji sastra secara umum. Berbeda dengan peminjaman buku yang berlangsung secara gratis pada masa kini, sebagai usaha untuk mencari materi, peminjaman naskah M. Bakir tentu saja tidak gratis. Dalam karya-karyanya ia tidak jarang mencantumkan pernyataan bahwa naskahnya disewakan dengan harga sepuluh sen per malam (Suharjo, 2018). Pada sebuah halaman dalam salah satu karyanya, yaitu Hikayat Sultan Taburat 183 B[i], M. Bakir menuliskan pernyataan sebagai berikut.

Bahwa ini Hikayat Sultan Taburat. Saya memberi tahu kepada sekalian pembaca ini sekalian tuan-tuan dan baba-baba dan nona-nona sekalian harap yang empunya ini hikayat kepada tuan-tuan sekalian janganlah dibikin kotor dan dibikin pecah dan yang menjadikan syak di hati yang empunya. Dan lagi uang sewanya harap dibayar. Dan jikalau dipermain-mainkan dari ini perkara yang empunya tiada suka-suka sekali adanya. Lebih-lebih maklumlah tuan-tuan karena hamba seorang miskin yang hina dan karena hamba tiada berbapak hidup dengan kedua ibu saudara dan bapak pulang ke Rahmatullah (transliterasi oleh Windayanto, 2022).

Dari pernyataan di atas, M. Bakir menyebut penyewa naskahnya dengan sapaan tuan, nona, dan baba. Melalui penelusuran makna leksikal, penelitian Windayanto (2022) memperlihatkan bahwa penyewa naskahnya adalah orang Cina dan Cina peranakan, yang ditunjukkan oleh kata baba, serta Eropa, yang ditunjukkan oleh kata tuan dan nona. Tampaknya orang Cina peranakan pelanggan M. Bakir (Windayanto, 2022). Hal ini terlihat dari sering ditemukannya unsur-unsur Cina dalam karya-karyanya, seperti kue Cina dalam Hikayat Gelaran Pandu Turunan Pandawa (lihat Fanani, 1993) serta penyebutan Cina singkek dalam Lakon Jaya Sukara dan tanda tangan dengan aksara Cina dalam Hikayat Wayang Pandu (lihat Chambert-Loir, 2014). Kenyataaan ini memperlihatkan bahwa Cina peranakan merupakan komunitas yang banyak tinggal di sekitar tempat tinggal M. Bakir sehingga ia mengakomodasi identitas mereka dalam naskah dan teks untuk menarik pelanggan sehingga ia mendapatkan uang atas usaha persewaan naskahnya. Dengan demikian, pelanggan secara tidak langsung memengaruhi corak produksi naskah dan teks oleh M. Bakir.

Jika menengok ke beberapa abad silam, apa yang dilakukan oleh M. Bakir tidak terjadi dalam tradisi Melayu. Naskah tidak diproduksi untuk kepentingan ekonomi, mencari uang, dan memenuhi kebutuhan hidup. Masyarakat Melayu berada dalam tatanan feodal, yang menempatkan raja pada puncak stratifikasi sosial dengan kekuatan yang tak terbatas (Sudibyo, 2015). Karena ketiadaan batas tersebut, yang pengarang juga berada di bawah kekuasaan raja, kuasa kepengarangan bukan milik pengarang. Dalam tatanan yang demikian, raja juga dianggap sebagai representasi kuasa Tuhan di bumi. Karena pengarang juga menyadari bahwa daya kreatifnya hanyalah aktualisasi daya kreatif Tuhan (lihat Sudibyo, 2015), tidak lain bahwa karya-karyanya pun juga ditujukan kepada raja sebagai representasi Tuhan itu sendiri. Tuhan dan raja menjadi patron yang menaungi pengarang dalam memproduksi naskah dan teks. Tidak ada kepentingan lain selain menyerahkannya kepada sang patron.

Namun, perkembangan terjadi amat masif di Jakarta pada abad ke-19. Pada 1870, ketika terjadi pertukaran ekspresi budaya secara intensif antara Asia Tenggara dan dunia Melayu, ekspansi ekonomi global berdampak luas terhadap, salah satunya, Asia Tenggara, yang di wilayah ini kolonialisme dan kewirausahaan membentuk ruang baru bagi produksi dan pertukaran budaya (van der Putten, 2009). Itulah sebabnya, di kota pesisir atau pelabuhan yang kompetitif dan serba berorientasi pada monetisasi, sebagian besar bentuk seni dikembangkan untuk tujuan komersial (van der Putten, 2009). Dalam hal ini terlihat adanya perubahan dari tatanan feodal ke tatanan kapitalistik. M. Bakir tidak hidup pada masa ketika raja menjadi pengayom, tetapi pada zaman ketika ekonomi menjadi orientasi utama.

Kondisi yang demikian memperlihatkan bahwa terjadi pergeseran patron. Semula naskah Melayu ditujukan kepada Tuhan dan raja, tetapi patron itu tergantikan dalam konteks tradisi Melayu di Jakarta pada abad ke-19. M. Bakir tidak terikat oleh raja, pihak, atau lembaga yang berkuasa, tetapi di sini pelanggan adalah pihak yang berkuasa. Tidak berarti bahwa patron tidak ada. Ketika relasi dan pengaruh patron secara langsung mulai mundur, kehidupan seniman justru diayomi oleh relasi pasar dan ketidakpastian ekonomi (Wolff, 1993). Kita telah melihat bukti bahwa M. Bakir memasukkan identitas pelanggannya dalam naskah dan teks. Dari pernyataan di atas, tampak pula negosiasinya kepada pelanggan untuk berkenan membayar uang sewa dan tidak mengotori naskah karena dengan kondisi yang terjaga, naskah dapat disewakan kembali. Pernyataan di atas juga menjadi pernyataan kunci untuk merekonstruksi bahwa kemungkinan ia hidup dalam ketidakpastian ekonomi, yang membuatnya menyewakan naskah karena dirinya adalah “hamba miskin yang hina”.

Pembahasan soal patron ini, meskipun hanyalah berupa gambaran umum, paling tidak bernilai penting karena memperlihatkan dinamika yang terjadi dalam mempelajari naskah Melayu, dalam hal ini karya-karya M. Bakir. Kita bisa melihat bahwa  kemunculan naskah itu dimungkinkan oleh kondisi dan situasi pada satu masa yang berbeda atau bahkan berlainan dengan masa yang lain. Pemahaman akannya merupakan salah satu cara untuk memahami naskah, termasuk teks, Melayu di Pecenongan dalam konteks penciptaannya.

*)Tulisan ini merupakan diseminasi sekaligus pengembangan dari temuan kecil dalam proses penelitian skripsi. Saya berterima kasih kepada Dr. Sudibyo (pembimbing utama dari UGM) dan Prof. Widjajanti Mulyono Santoso (pembimbing dalam posisi saya sebagai peneliti-magang di PRMB BRIN) (Editor: Hidayatullah Rabbani)

[i][i] Halaman dalam naskah Hikayat Sultan Taburat ML 183 B, yang memuat pernyataan tekstual di atas, disajikan oleh Chambert-Loir (2014) dalam tulisannya.

Referensi

Chambert-Loir, H. (2014). Iskandar Zulkarnain, Dewa Mendu, Muhammad Bakir dan Kawan-Kawan: Lima Belas Karangan tentang Sastra Indonesia Lama (Terjemahan oleh Arif Bagus Presetyo, Ida Sundari Husen, Talha Bachmid, dan Stephanus Aswar Herwinarko). Kepustakaan Populer Gramedia yang bekerja sama dengan École française d’Extrême-Orient dan Forum Jakarta-Paris.

Chambert-Loir, H., & Kramadibrata, D. (Eds.) (2014). Katalog Naskah Pecenongan Koleksi Perpustakaan Nasional Sastra Betawi Akhir Abad ke-19 (Cetakan kedua). Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Fanani, M. (1993). Gelaran Pandu Turunan Pandawa. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sudibyo. (2015). Filologi: Sejarah, Metode, dan Paradigma. Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya UGM dan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) Cabang Yogyakarta.

Suharjo, R. A. R. (2018). Hikayat Sultan Taburat: Strategi Berhikayat pada Akhir Abad ke-19 [Tesis]. Universitas Indonesia.

van der Putten, J. (2009). Wayang Parsi, Bangsawan and Printing: Commercial Cultural Exchange between South Asia and the Malay World. In R. M. Feener & T. Sevea (Eds.), Islamic Connections: Muslim Societies in South and Southeast Asia (pp. 86–108). Institute of Southeast Asian Studies.

Windayanto, R. N. A. (2022). Transformasi Cerita dalam Hikayat Wayang Pandu [Skripsi]. Universitas Gadjah Mada.

Wolff, J. (1993). The Social Production of Art (Second edition). The Macmillan Press Ltd. .

______________________________________

*) Opini dalam artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya dan tidak menjadi tanggung jawab redaksi website PMB BRIN

_______________________________________

Tentang Penulis

Riqko Nur Ardi Windayanto menyelesaikan studi sarjananya di Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dengan bidang minat filologi Melayu. Sebagai tugas akhir sarjananya, mengkaji salah satu Hikayat Wayang Pandu, salah satu naskah/teks karya M. Bakir di Pecenongan, Jakarta pada abad ke-19. Saat ini belajar dan menekuni lebih dalam filologi, khususnya dalam konteks Melayu-Jakarta. Riqko juga mempublikasikan artikelnya di sejumlah jurnal. Dapat dihubungi melalui surel riqko.nur.ardi@mail.ugm.ac.id