[Masyarakat & Budaya, Vol 23, No 22, November 2021]

Oleh Ranny Rastati (Peneliti BRIN)

Pada Oktober 2021, publik dikejutkan oleh skandal aktor asal Korea Selatan, Kim Seon Ho. Memiliki imagesebagai anak baik, citra Kim Seon Ho tercoreng akibat tuduhan pemaksaan aborsi dan gaslighting (kekerasan mental berupa manipulasi secara psikologis) dari mantan kekasihnya bernama Choi. Meskipun tuduhan itu awalnya hanya berupa postingan anonim di internet yang belum dipastikan kebenarannya, namun Kim Seon Ho langsung mengalami dampak yang signifikan. Imbas dari skandal tersebut, sejumlah brand menghapus wajahnya dari iklan dan pembatalan membintangi film terbaru. Kim Seon Ho pun dicoret dari program televisi 2 Days 1 Night yang sudah beberapa tahun ia bintangi. Tuntutan ganti rugi dari merek yang menggunakan jasanya pun turut membayangi.

Beberapa bulan sebelumnya, publik dibuat terkejut oleh skandal yang menerpa artis Seo Ye Ji. Senada dengan kasus Kim Seon Ho, Seo Ye Ji juga dituduh melakukan posesif dan gaslighting kepada aktor Kim Jung Hyun yang berimbas pada kegagalan drama Korea berjudul The Time pada tahun 2018. Artis Korea Selatan yang naik daun setelah membintangi drama Korea berjudul It’s Okay to Not be Okay (2020) itu disebut sering bersikap buruk kepada staf. Ia juga dituduh sebagai pelaku bullying (perundungan) pada masa sekolah dan berbohong tentang pendidikannya. Dengan berbagai kontroversi tersebut, Seo Ye Ji dicopot dari sejumlah brand iklan, batal membintangi proyek drama terbaru, dan hiatus (jeda sejenak) dari industri hiburan.

Skandal yang dialami oleh kedua pemenang penghargaan Aktor dan Aktris Populer 2021 dalam ajang penghargaan paling bergengsi di Korea Selatan, Baeksang Award ke-57, ini menimbulkan sebuah pertanyaan. Bagaimana bisa seseorang yang sebelumnya sangat digemari dapat jatuh dengan cepat akibat skandal yang berhubungan dengan hubungan pribadi. Dalam semalam, figur yang tadinya dicintai berubah menjadi sosok yang dibenci oleh netizen.

Memahami Cancel Culture

Awalnya, cancel culture (budaya mengenyahkan atau membatalkan) berasal dari lelucon misoginis yang muncul dalam film lawas berjudul New Jack City (1991). Dalam salah satu adegan, bos narkoba bernama Nino Brown diumpat oleh kekasihnya karena melakukan berbagai pembunuhan. Melihat hal itu, Nino menuangkan minuman ke kepala pacarnya sambil berkata “Cancel that bitch. I’ll buy another one!” yang berarti ‘Batalkan dia. Saya akan cari (pacar) yang baru!’. Film ini kemudian dianggap sebagai referensi pertama dalam membatalkan seseorang yang lalu berkembang menjadi cancel culture (Romano, 2020).

Pada dasarnya, cancel culture adalah gagasan bahwa seseorang dapat “dibatalkan” atau “dienyahkan”. Biasanya cancel culture dialami oleh tokoh publik atau sosok terkenal seperti selebritis, YouTuber, dan politisi. Cancel culture dilakukan secara kolektif dan atas dasar konsensus bersama untuk menyatakan bahwa seseorang layak untuk diabaikan karena melakukan sesuatu yang dianggap tidak pantas.

Seiring dengan perkembangan teknologi internet, cancel culture marak dilakukan melalui media sosial. Salah satunya adalah Twitter yang memiliki kemampuan memobilisasi isu melalui fitur trending topic (topik yang sedang ramai dibicarakan). Dari sini, terlihat bahwa media sosial memiliki kekuatan besar dalam membuka portal dan membuat seseorang secara kolektif bertindak sebagai hakim, juri, dan algojo bagi orang lain (Mueller, 2021).

Industri Hiburan Korea dan Cancel Culture

Kim Seon Ho boleh jadi mencetak sejarah sebagai aktor Korea Selatan pertama yang selamat dari cancel culture dalam waktu singkat. Dengan cepat, Kim Seon Ho mendapatkan kembali dukungan dari fans Korea Selatan dan internasional setelah media Korea ‘Dispatch’ membeberkan fakta di balik skandal tersebut. Beberapa brand yang sempat menghapus Kim Seon Ho kembali merilis poster iklan yang menampilkan wajahnya. Di tengah skandal yang memanas, Kim Seon Ho bahkan memenangkan penghargaan “Karakter Tahun Ini” di Seoul Drama Award 2021 untuk perannya sebagai Han Ji Pyeong dalam drama Korea (drakor) berjudul Start-Up (2020).

Meskipun berhasil mematahkan cancel culture, yang dialami oleh Kim Seon Ho adalah sesuatu yang langka terjadi. Sebab hingga kini industri hiburan Korea Selatan, khususnya netizen Korea (K-Netz), masih bersikap keras terhadap tokoh publik dan selebritis yang memiliki skandal dan kontroversi. Dilansir dari akun YouTube Korea Reomit, Jang Hansol memaparkan dahsyatnya cancel culture di Korea Selatan (Korea Reomit, 2021). Menurut Jang, dalam masyarakat Korea ada batasan dalam melakukan kesalahan yang tidak boleh dilewati karena berkaitan dengan nilai moral masyarakat. Cancel culture terjadi paling keras di kalangan selebritis karena sebagai orang terkenal mereka akan dijadikan sosok panutan oleh penggemarnya. Maka, ketika seorang selebritis melakukan kesalahan atau terlibat skandal, K-Netz akan bersikap keras sebagai wujud penegakan norma dan moral. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa cancel culture sangat kental terjadi di Korea Selatan.

Cancel Culture terhadap K-Wave di Indonesia

Cancel culture tidak hanya berlangsung di Korea Selatan. Cancel culture terkait produk Korean Wave (K-Wave) juga pernah terjadi di Indonesia. Pada Juni 2021, drakor berjudul Racket Boys (2021) dikritik habis-habisan oleh netizen Indonesia. Drakor produksi Seoul Broadcasting System (SBS) tersebut dianggap melecehkan Indonesia. Pasalnya, dalam episode lima Indonesia digambarkan tidak professional dalam menangani pertandingan bulu tangkis internasional. Dalam adegan, official Indonesia sengaja memberikan fasilitas yang buruk untuk menghalangi kemenangan atlet bulu tangkis Korea Selatan yang sedang berlaga di Jakarta.

Protes netizen Indonesia terhadap adegan tersebut dilancarkan dengan memberikan rating (penilaian) buruk di website Internet Movie DataBase (IMDB)[1]. Rating Racket Boys yang awalnya berkisar antara 7.5/10 merosot tajam menjadi 1/10 (per Oktober 2021). Judul drakor di situs IMDB pun sempat diganti menjadi Racket Rasist. Tak hanya itu, netizen Indonesia juga memberikan bintang satu di Google Review sehingga rating Racket Boys melorot menjadi 1.7/5.0 (per Oktober 2021).

Gambar 1. Rating IMDB Racket Boys (kiri) dan Google Review (kanan) (Sumber: IMDB dan Google Review)

Gerakan netizen +62 lainnya dapat dilihat dari kasus Sunny Dahye. Sunny adalah seorang YouTuber asal Korea Selatan yang banyak membuat konten untuk pangsa pasar Indonesia. Pada Agustus 2021, Sunny dituding menghina orang Indonesia dengan sebutan bodoh dan miskin (Nita, 2021). Tidak hanya dihujat oleh netizen Indonesia, Sunny juga mengalami penurunan subscriber (pelanggan) akun YouTube dari 2.7juta menjadi 2.44juta (per November 2021) dan penurunan follower (pengikut) Instagram dari 890ribu menjadi 796ribu (per November 2021). Jumlah views (tonton) video YouTubenya pun menurun drastis dari kisaran jutaan-ratusan ribu menjadi puluhan-ratusan ribu per video (per November 2021).

Cancel culture yang dilakukan netizen Indonesia kepada produk K-Wave sejatinya adalah bentuk online nationalism (nasionalisme online). Terpantiknya semangat nasionalisme yang dilakukan melalui aktivitas digital dianggap sebagai bentuk bela tanah air dari cemooh bangsa lain. Dari kasus Racket Boys dan Sunny Dahye, dapat disimpulkan bahwa internet berperan dalam membangun respon netizen dan diskusi online sehingga terbentuk identitas kolektif atas dasar kebangsaan dalam ruang digital.

Pun demikian, cancel culture berbalut online nationalism ini tidak sekeras yang terjadi di Korea Selatan. Sebab, masih ada ruang pemaafan yang diberikan oleh netizen Indonesia sehingga cancel culture tidak terjadi secara massif dan terstruktur. Sebagai contoh, selepas hiatus, Sunny masih disambut kembali oleh sebagian fans Indonesianya. Drakor produksi SBS seperti Lovers of the Red Sky (2021), One the Woman (2021), dan Now We Are Breaking Up (2021) pun masih laris manis ditonton para penggemar drakor di tanah air (Editor Hidayatullah Rabbani).

[1] IMDB adalah database online yang berisi informasi tentang film, program televisi, video, dan konten streaming online beserta ratingnya

Referensi

Ilustrasi: Shutterstock

Korea Reomit. (2021, 25 Oktober). Di Korea Sekali Kena Skandal Langsung Kehilangan Karir? [Video]. YouTube. https://www.youtube.com/watch?v=MkcPE_AnIp8

Mueller, T.S. (2021). Blame, then shame? Psychological predictors in cancel culture behavior. The Social Science Journal, DOI: 10.1080/03623319.2021.1949552

Nita, D. “Dituding Hina Orang Indonesia, Sunny Dahye: Aneh Kalau Aku Menghina Negara Tempat Menimba Ilmu”. (KompasTV, 19 Agustus 2021), https://www.kompas.tv/article/202962/dituding-hina-orang-indonesia-sunny-dahye-aneh-kalau-aku-menghina-negara-tempat-menimba-ilmu (diakses 6 Oktober 2021)

Romano, A. “Why we can’t stop fighting about cancel culture”. (VOX, 25 Agustus 2020), https://www.vox.com/culture/2019/12/30/20879720/what-is-cancel-culture-explained-history-debate (diakses 5 Oktober 2021)

Tentang Penulis

Ranny Rastati adalah peneliti Komunikasi Media di Pusat Riset Masyarakat dan Budaya – Badan Riset dan Inovasi Nasional (PMB – BRIN). Fokus kajiannya berupa budaya pop khususnya dari Korea dan Jepang. Ia dapat dihubungi melalui email ranny.rastati@gmail.com.